
"Lou?"
Nyonya Agatha memasuki gereja, mencari anaknya yang tak keluar dari tempat itu sejak beberapa jam yang lalu.
Lousia masih berada di tempatnya semula, ia tak beranjak barang sedikitpun.
"Sudah malam, Sayang, ayo pulang!" ajak Nyonya Agatha.
"Aku tetap ingin di sini, Mom." Louisa menjawab lirih.
Tak berselang lama, pendeta yang menikahkan Louisa dan Ethan menghampiri Lousia. Sejak wanita itu masuk ke gereja, ia tahu ada yang Lousia takutkan.
Di saat semua orang sedang berpesta ria, Louisa justru menghabiskan waktunya di gereja, sesuatu yang sangat berbeda.
"Kau ingin mengatakan sesuatu, Dear?" tanya pendeta itu.
"Tidak," jawab Lousia. "Tapi boleh kah jika aku meminta do'a mu agar suamiku bisa kembali ke pelukanku?" tanya Louisa.
"Di mana suami mu?" tanya pendeta itu.
"Di suatu tempat yang mungkin tidak aman." Lousia menjawab sembari menyentuh perutnya. "Aku takut dia tidak bisa pulang."
"Percayalah pada takdir-Nya, yang sudah ditakdirkan bersama tidak akan berpisah. Yang ditakdirkan berpisah tidak akan bersama."
__ADS_1
"Tapi aku sungguh takut, mungkin dia dalam bahaya, dan mungkin orang-orang akan menyakitinya."
"Sebenarnya tidak akan ada yang menyakiti kita sampai kita sendiri yang membiarkan orang lain menyakiti kita."
Louisa terdiam mendengar kata-kata itu, ia kembali teringat dengan sosok Ethan yang ia kenal selama ini. Sosok yang tidak akan pernah mau terluka, dan yang tidak akan membiarkan orang terdekatnya terluka.
"Oh Tuhan, berikan lah kekuatan padanya agar tak membiarkan siapapun menyakitinya."
...🦋...
Semua musuh sudah berada di dalam markas, kecuali yang memang ditugaskan untuk berada di luar dan berjaga.
Sementara itu, seseorang masuk ke ruang Free Island, meletakkan sesuatu yang mengeluarkan asap kemudian orang itu menutup semua akses keluar dari berbagai arah. Seolah sengaja mengunci mereka di dalam sana.
Orang-orang yang masih mabuk tapi setengah sadar itu kini perlahan pingsan saat menghirup asap yang mulai memenuhi ruangan.
"Kenapa tempat ini seperti kuburan? Apakah mereka semua sudah melarikan?" tanya Martin yang merasa bingung.
"Mungkin semua orang sudah pingsan," sahut Erik.
"Semuanya? Apa itu mungkin?" tanya Gonza.
"Aku sering melakukan invasi seperti ini, pasti ada perlawanan meskipun kecil dan dari kelompok yang sedikit," tukas Orlando.
__ADS_1
"Periksa semua semua sisi!" seru Jose yang juga merasa aneh dengan keadaan di markas. Dan harus ia akui, markas The Eagle jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Orang-orang bisa bersembunyi di mana saja tanpa mereka sadari.
"Kau yakin tidak ada yang bersembunyi untuk menyerang balik?" tanya Jose pada Erik dengan nada yang meninggi, mulai merasa yang tidak beres.
"Aku sudah memastikan semua orang berpesta di ruangan Free Island, dan sisanya pulang ke rumah masing-masing," tegas Erik.
"Bodoh!" seru Jose tiba-tiba marah. "Bagaimana bisa kau membiarkan ada yang keluar dari tempat ini? Bagaimana jika itu jebakan?"
"Itu tidak mungkin!" bantah Erik dengan cepat. "Aku sudah memastikan mereka pulang ke rumah masing-masing, meraka berkumpul bersama keluarga mereka."
"Kau punya bukti?" tanya Martin.
"Oh, atau jangan-jangan kau berkhianat?" tuding Gonza yang membuat Erik marah.
"Aku tidak punya alasan untuk mengkhianati kalian," desis Erik. Ia mengajak Jose dan yang lainnya ke ruang kontrol dan menunjukkan rekaman cctv dari berbagai tempat, di mana seluruh anggota keluarga The Eagle dapat meraka pantau dari kamera yang mereka pasang secara diam-diam.
Seluruh anggota The Eagle tahu dan setuju memasang kamera di rumah mereka, hal itu mereka lakukan demi keamanan keluarga mereka. Namun, tentu saja keluarga mereka tak tahu apa-apa.
Memang benar, semua anggota The Eagle yang pulang berada di rumah mereka.
Namun, tiba-tiba ....
Dorrr
__ADS_1
Dorrrr
Dorrrrr