
Simon dan Peter langsung pergi memeriksa gudang yang terbakar, tak ada siapapun di sana bahkan semua penjaga sudah tewas dengan luka tembak di kepala mereka.
Peter meminta Simon memanggil bantuan sementara ia menyelidiki ke sekeliling gudang, bersamaan dengan itu ada seorang yang melepaskan tembakannya sebanyak dua kali. Mengenai pinggang dan pundak Peter.
Simon yang mendengar suara tembakan itu langsung mencari Peter, sementara Peter kini dikeroyok oleh beberapa orang. Pria itu mencoba bertahan dan menyerang sebisa mungkin, tetapi kembali ada yang melepaskan tembakan dan tepat mengenai dada juga perut Peter.
Simon datang tepat waktu, ia langsung menembaki orang-orang itu dan bantuan pun juga datang sehingga mereka semua mampu dikalahkan. Namun, si penembak berhasil melarikan diri.
...🦋...
Ethan menggeram tertahan, sorot matanya begitu tajam, rahangnya mengetat dan tangan pria itu mengepal kuat.
"Aku sudah mengerahkan anak buah kita untuk mencari pelakunya," kata Simon dengan nada yang rendah. "Aku...aku tidak menjaganya, apa dia akan marah padaku?"
Ethan menoleh dan berkata, "Dia akan menghajarmu saat dia bangun."
"Tidak apa-apa, aku akan meladeninya," ujar Simon. "Dia selalu melindungi kita, tapi aku tidak bisa melakukan hal yang sama. Ck!" Simon menarik rambutnya, ia tampak frustasi memikirkan keadaan Peter yang mungkin sudah di ambang kematian.
"Sudahlah, ini bukan salahmu." Ethan merangkul Simon, menenangkan pria itu yang selalu cemas dan takut sejak tadi.
"Ini salahku, seharusnya kita selalu bersama seperti yang selalu kita lakukan selama ini. Ah, kenapa dia bodoh sekali?" Simon meninju dinding dengan keras. "Dia selalu sok kuat, sok pintar, so berani. Dia adalah manusia terbodoh yang pernah aku temui di dunia ini." Simon tak berhenti meracau, matanya kembali memerah.
Bagaiamana mungkin dia tidak cemas? Ia sudah menganggap Peter sebagai kakaknya sendiri, mereka selalu bersama sejak bekerja pada kedua orang tua Ethan. Mereka tak pernah terpisahkan dalam segala kondisi dan situasi, Simon seperti bayangan Peter begitu juga sebaliknya.
Dokter Wales, yang merupakan Dokter kepercayaan Etham datang untuk memeriksa keadaan Peter.
Ethan dan Simon mengintip dari balik pintu. "Bagaiamana kalau dia mati?" bisik Ethan dengan suara tercekat, dia sudah kehilangan ayahnya dan sekarang dia tidak mau kehilangan ayah keduanya.
"Kita harus menguburkannya dengan baik," sahut Simon yang membuat Ethan langsung melongo.
"Aku pikir kau akan mengatakan hal yang lain," desis Ethan.
"Apa yang kau harapkan?" tanya Simon.
"Mungkin kau akan mengatakan kita tidak akan bisa hidup tanpanya, atau kita akan ikut mati dengannya."
Simon meringis mendengar kata-kata Ethan yang menurutnya terlalu puitis. "Ini bukan kisah Romeo dan Juliet, Tuan Mayer."
__ADS_1
Tak berselang lama, Dokter Wales keluar dan Ethan langsung mencecar Dokter itu dengan berbagai pertanyaan. "Apa dia akan bertahan hidup? Kapan dia akan membuka mata? Jantungnya masih berdetak dengan baik, kan? Dia tidak akan mati dalam waku dekat, kan?"
"Aku tidak bisa mengatakan dia baik-baik saja," kata Dokter yang membuat Ethan langsung merasa lemas, begitu juga dengan Simon. "Dia masih koma, kami tidak bisa memastikan keadaannya untuk sekarang."
"Tapi dia masih bernapas, kan?" desis Simon dengan tajam.
"Jika dia tidak bernapas maka sekarang dia sudah ada di kamar mayat," ujar Dokter Wales dengan sarkastik. "Tapi ada yang ingin aku sampaikan pada kalian," ucap Dokter Wales sambil melirik ke kanan dan ke kiri. "Ikutlah ke ruanganku."
Kedua pria itu langsung mengikuti Dokter Wales ke ruangannya. "Apa ada yang penting?" tanya Ethan penasaran.
"Kita tahu Peter sering sekali mendapatkan luka seperti ini, tapi dia tidak pernah sampai koma seperti sekarang," kata Dokter Wales kemudian ia menunjukkan sebuah file pada Ethan. "Dia di racun, salah satu peluru yang masuk ke tubuhnya sudah dilumuri racun, itu lah yang membuat dia sekarat sekarang."
Ethan dan Simon terhenyak, bahkan kedua pria itu menahan napas. "Kami melakukan yang terbaik untuk menyelamatkannya."
"Dia harus selamat!" Ethan menggeram, marah dan takut kini menggerogoti hatinya. "Apapun caranya, dia harus selamat, Dokter!"
"Kami pasti melakukan yang terbaik untuk keselamatannya, Tuan Mayer, hanya saja ...."
"Hanya apa?" teriak Simon yang tak bisa mengendalikan amarahnya.
"Hanya saja mungkin dia akan mengalami kelumpuhan, dan kami tidak bisa memastikan apakah itu bisa bersifat sementara atau permanen."
...🦋...
"Apa kau ada acara nanti malam?" tanya Ed yang hanya ditanggapi dengan gelengan kepala oleh Louisa.
"Kau mau pergi makan malam denganku?" tanya Ed lagi. "Terakhir kali kita makan bersama, kau justru menghilang begitu," tukasnya.
"Aku sedang tidak ingin pergi ke mana pun," ujar Louisa.
"Ada apa? Kau ada masalah?" tanya Ed karena wajah Louisa yang tampak berbeda.
"Tidak ada," sahut Louisa dengan dingin.
Setelah melewati hari liburnya dengan patah hati karena ditinggalkan oleh Ethan, Louisa kembali ke sekolah.
Bahkan, ini sudah hari ke tiga sejak pertemuannya dengan Ethan tetapi Louisa masih tak bisa menghubungi pria itu.. Ethan menghilang seperti ditelan bumi.
__ADS_1
Louisa mencoba mengalihkan pikirannya dengan fokus pada pelajarannya, tetapi sayangnya ia tak bisa belajar apapun dengan baik, pikiran gadis itu terbang entah ke mana.
"Nona Walter!" panggil Alice. "Ikut aku sekarang!"
Louisa menghela napas berat dan mau tak mau ia mengikuti Alice ke ruangannya. "Dua hari ini aku mendapatkan laporan kalau kau tidak belajar dengan baik, Nona Walter. Tidak dalam tarian atau musikmu. Kau ada masalah?" tanya wanita cantik itu.
"Tidak ada," jawab Louisa mengelak.
"Kalau begitu kau harus belajar dengan lebih baik, supaya kau bisa tampil di acara ulang tahun sekolah nanti."
Louisa hanya mengangguk pelan.
"Sekarang kau boleh kembali berlatih, aku sarankan hari ini kau berlatih lebih lama. Aku akan meminta Ed mengajarimu, dia senior yang baik, bukan?"
Louisa kembali hanya mengangguk, ia pun kembali ke tempat latihan begitu juga dengan Alice.
"Jika kau tak keberatan, Bisakah kau menemani Nona Walter sampai sore nanti, Ed?" tanya Alice yang tentu saja membuat Ed tampak senang.
"Bisa, Miss Alice, tentu saja. Dengan senang hati."
"Baguslah, selamat belajar."
Setelah Alice pergi, Ed mengajak Louisa duduk di kursi piano.
"Kau ingin lagu apa, Lou? Mari kita coba bersama," ajak Ed dengan semangat.
"Apa saja," sahut Louisa yang memang tidak semangat belajar.
"Baiklah, kita coba di Chopstick, okay? Itu sangat mudah."
Louisa mengangguk setuju, Ed memaikan melodi lagu itu dengan indah. Setelah itu, ia memberikan kesempatan pada Louisa untuk menirunya. Pada awalnya Louisa bisa bermain dengan baik, tetapi bayangan Ethan kembali muncul dalam benaknya yang membuat melodi Louisa menjadi berantakan.
"Tubuhmu di sini tapi di mana pikiranmu, Princess?" tanya Ed. "Kau sedang memikirkan seseorang?" tanyanya dan kini Louisa mengangguk mengerti.
"Begini saja ...." Ed duduk tegak menghadap Louisa. "Mainkan musik ini untuk orang tersebut, apakah kau marah, kau sedih, atau kau merindukannya. Kamu bisa melampiaskannya dengan musik, Princess. Apa yang kau rasakan sekarang?"
"Marah," cetus Louisa dengan asal.
__ADS_1
"Kalau begitu fokus pada kemarahanmu tapi lampiaskan dengan anggun. Percayalah, musik juga bisa menjadi tempat pelampiasan hatimu."