
Peter menatap Simon yang kini sudah sadarkan diri, dan bukannya bertanya tentang apapun, atau setidaknya keadaan Ethan dan Peter, pria itu justru langsung meminta steak dan vodka.
Dan sekarang ia makan dengan lahap, seolah sudah tidak makan selama beberapa hari.
"Apa kau tahu betapa kami mengkhawatirkan keadaan mu?" tanya Peter dengan dingin. "Dan saat sadar, kau hanya fokus pada makanan mu?"
"Aku belum makan sejak semalam, dan semua tenaga ku sudah habis terkuras gara-gara penyerangan tadi." Simon menjelaskan panjang lebar sembari mengunyah. "Ini benar-benar enak, aku tidak menyangka masih bisa makan setelah Jose menusuk dada ku."
"Apa kau tidak ingin tahu keadaan Ethan? Atau keadaan ku?" tanya Peter lagi.
"Aku melihat kamu baik-baik saja, apa lagi yang perlu di tanyakan?"
Peter terdiam, kemudian kembali bertanya, "Kau belum melihat Tuan Mayer sejak tadi, apa kau tidak khawatir bagaiamana keadaan nya?"
"Bukan kah kamu sendiri yang mengatakan Ethan tak perlu dikhawatirkan? Tidak akan ada bahaya yang menghampiri nya karena dia sendirian adalah mara bahaya."
Peter kembali terdiam, tentu ia jelas ingat dirinya memang sering sekali mengucapkan kata-kata seperti itu.
"Ah, akhirnya aku kenyang juga." Simon menepuk perutnya yang sudah terasa penuh, setelah itu ia meletakkan nampan yang berisi piring dan gelas kotor ke pangkuan Peter.
"Bawa ini ke dapur dan jangan kembali ke kamar, aku ingin tidur dan tidak ingin di ganggu oleh siapapun."
Peter hanya membuang napas kasar, ia menatap Simon dengan kesal tetapi ia juga melakukan permintaan teman nya itu.
...🦋...
"Ethan?" lirih Louisa saat melihat sang suami di hadapannya.
__ADS_1
"Lou!"
"Cepat bangun!"
Louisa tersentak saat mendengar suara Nyonya Agatha, ia langsung terbelalak ketika menyadari yang ada di hadapannya ternyata sang Ibu. Bukan Ethan.
"Ethan? Apa Ethan sudah datang?" tanya Louisa sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar, mencari sosok sang suami yang tadi hadir di hadapannya. Namun, ia tak melihat batang hidung pria itu dan menyadari yang terjadi hanya mimpi.
"Kau mau ikut Mommy ke pasar?" tanya Nyonya Agatha. "Mumpung masih libur bekerja, Mommy ingin belanja beberapa barang."
Namun, Louisa yang merasa lemas karena menahan rindu pada suaminya justru langsung kembali masuk ke dalam selimutnya.
"Lou, mau sampai kapan kamu akan tidur? Ini sudah jam setengah sebelas," tukas sang Ibu kesal.
Sudah beberapa hari ini putrinya itu seperti pengangguran yang malas, apalagi sejak libur di sekolahnya, membuat Louisa tak melakukan apapun selain tidur dan makan.
"Sayang, suamimu itu sama seperti tentara yang harus selalu pergi untuk berperang. Jadi sebaiknya kau tidak terpuruk saat menunggunya." Ia mengingatkan, berharap Louisa sadar bahwa memang itu lah resiko menjadi istri dari seorang Don Mafia.
"Tapi aku kesal, Mom!" geram Louisa sambil menendangkan kaki nya. "Menantu mu itu benar-benar menantu durhaka, dia memperlakukan aku seperti selir saja!" Ia terus menggerutu kesal, membuat sang Ibu terkekeh.
"Demi apapun yang ada di langit dan di bumi, aku tidak pernah ingin dia menjadi menantu ku, tapi kau sendiri yang mau menikahi nya." Mendengar pernyataan pedas sang Ibu membuat Louisa semakin kesal.
"Mau bagaimana lagi, aku mencintai nya sampai hampir mati."
"Kalau begitu makan saja cinta mu itu."
Nyonya Agatha membuka Horden jendela Louisa, dan seketika cahaya matahari menyeruak masuk, menyinari seluruh kamar Lousia.
__ADS_1
"Bangun, Lou! Mommy bosan melihat mu begini!" teriak Nyonya Agatha kesal.
Louisa berdecak kesal, ia pun menyingkap selimut nya kemudian beranjak turun dari ranjang. Louisa mengambil baju dari lemari kemudian bergegas ke kamar mandi untuk menyegarkan diri.
"Bereskan kamar mu, jangan lupa cuci baju dan bersihkan kolam. Semuanya harus selesai sebelum Mommy kembali dari pasar."
Louisa hanya menanggapinya dengan gumaman tidak jelas.
...🦋...
Sementara di sisi lain, lagi-lagi Ethan menatap foto altar itu. Membayangkan wajah Louisa yang kesal tetapi juga bahagia di hari pernikahan mereka. Itu adalah salah satu hari paling bersejarah dalam hidup Ethan.
"Kenapa kamu tidak menghubunginya?" tanya Peter, tahu apa yang ada dalam otak Ethan saat ini.
"Masih ada satu lawan terakhir, Peter," tukas Ethan. "Dexter dan Amber, aku masih takut ada yang mencium aroma hubungan ku dengan Louisa."
"Tapi Jose tahu Louisa, sudah pasti bajingan itu memberi tahu Dexter tentang Louisa."
Seketika Ethan terdiam, baru menyadari hal itu.
"Seharusnya kita membunuh mereka bersamaan dengan kawan-kawan nya, supaya kita bisa membakar mereka semua sekaligus."
"Aku juga berpikir seperti itu, tapi sayang sekali mereka tidak masuk ke markas. Untuk mengejar mereka juga tidak mungkin."
"Lalu apa rencana mu sekarang?"
"Aku harus menjemput Louisa, siapkan penerbangan ku sekarang juga."
__ADS_1