
Louisa serius saat mengatakan ingin Ethan menculiknya, bahkan saat ini ia dan bodyguardnya itu sedang berbicara serius di kamar Louisa. Mereka menyusun rencana penculikan agar tak gagal apalagi kini Louisa memiliki dua bodyguard lainnya yang selalu mengikuti ke mana gadis itu pergi.
"Jadi nanti kita pergi makan ke restoran yang jauh dari daerah kekuasaan Daddy, aku akan pergi ke toilet dengan membawa baju ganti dan rambut palsu. Nah, setelah itu aku akan keluar dari pintu belakang restoran dan saat itu kamu harus mencari ku seolah kamu kehilangan jejak, bagaimana?"
Ethan menahan senyum saat mendengarkan bagaimana Louisa menyusun strategi, apalagi baginya ini adalah strategi yang kuno tetapi Louisa terlihat sangat bersemangat dan percaya diri.
"Bagaimana jika aku benar-benar menculik mu, Nona Rae?" tanya Ethan kemudian. "Apa kau tidak takut padaku? Bagiamana jika aku berkhianat?"
Tiba-tiba raut wajah Louisa langsung berubah, gadis itu menatap Ethan dengan sangat serius kemudian tertawa kecil.
"Kau tidak takut padaku?" tanya Ethan sekali lagi.
"Tidak," jawab Louisa dengan yakin.
"Kenapa?" Ethan kembali bertanya.
"Karena aku selalu mengatakan bahwa aku mencintaimu, aku yakin kau tidak menyakiti orang yang mencintaimu dengan tulus. Selain itu, aku tidak pernah menyakitimu jadi kau tidak boleh menyakitiku. Nanti Tuhan murka, kau mau masuk neraka? Tidak, kan?"
Jawaban Louisa cukup membuat hati Ethan tersentuh, gadis itu terlalu polos. Terlalu apa adanya, bahkan otaknya masih suci meski tak berfungsi dengan baik di pelajaran.
"Nona Rae, kau bilang kau tidak suka belajar, kenapa?"
Yeah, satu hal yang tak Ethan sadari dan kini tengah terjadi pada dirinya, yaitu ia mulai ingin tahu tentang Louisa.
"Sebenarnya aku suka menari dan bermain musik sejak kecil, tapi kata Mommy karir penari tidak akan berlangsung lama." jawab Louisa. Raut wajah gadis itu berubah mendung, seolah ia sangat sedih karena tak bisa menjalankan apa yang ia sukai.
"Lalu bagaimana dengan musik? Bukankah kau bisa melakukan itu dalam jangka waktu yang sangat lama? Ada begitu banyak musisi yang sampai berusia puluhan tahun dan mereka tetap bermain musik," ujar Ethan.
Namun, bukannya menanggapi pernyataan Ethan. Louisa justru memicingkan matanya pada pria itu.
"Kenapa melihatku begitu?" tanya Ethan sembari memalingkan wajahnya, entah kenapa tiba-tiba ia merasa tersipu.
"Ini pertama kalinya kau berbicara panjang lebar," kata Louisa. "Bagaimana rasanya? Apakah rahang mu lelah setelah mengucapkan beberapa kata itu?"
Ethan langsung memasang wajah datarnya, sementara Louisa terkekeh. "Kau lucu sekali, bodyguard," seru Louisa. "Mendekat lah!" Louisa memberikan isyarat agar Ethan mendekat. Namun, pria itu menolak mengingat terakhir kali ia disuruh mendekat dan gadis kecil itu mencuri ciuman pertamanya.
"Ck!" Louisa langsung berdecak kesal. "Aku tidak akan mencium mu, aku tidak suka rasanya," ujar Louisa meringis yang membuat pupil mata Ethan melebar.
"Kenapa kau tidak suka rasanya?" Secara spontan pertanyaan itu keluar dari bibir Ethan. Bahkan, ia sendiri terkejut.
__ADS_1
"Jantungku berdebar kencang setelah mencium mu, jadi aku tidak lagi. Rasanya seperti akan ada yang meledak di dadaku," papar Louisa dengan sangat jujur.
Ethan kembali menahan senyum karena apa yang Louisa rasakan persis seperti yang ia rasakan.
"Kemari lah, bodyguard!" seru Louisa sekali lagi.
Ethan sudah hendak mendekati Nona mudanya itu tetapi tiba-tiba pintu kamar Louisa terbuka membuat keduanya terkejut.
"Mom?" pekik Louisa kesal.
Sang ibu terlihat marah, wajahnya terlihat tegang. "Kamu menyerang Kim di kampus?" tanya sang ibu tanpa basa-basi.
"Iya," jawab Louisa jujur.
"Kenapa kamu melakukan itu, Lou? Astaga!" Nyonya Agatha menggeram kesal.
"Dia yang salah, dia meletakkan lem perekat di kursi ku," balas Louisa.
"Lalu apa kau harus mencakar wajahnya seperti itu?" sang ibu mulai berteriak kesal.
"Aku hanya memberinya sedikit pelajaran," sahut Louisa malas.
"Sekarang cepat turun dan minta maaf pada Kim dan orang tuanya!" Nyonya Agatha menarik tangan Louisa tetapi gadis itu langsung menghempaskan tangan ibunya dengan kesal.
"Tidak mau," tegasnya.
"Sekarang atau kami akan mengirim mu ke asrama!"
"Kenapa tidak sekalian mengirim ku ke neraka?"
"LOUISA!"
Louisa tak perduli dengan tindakan sang ibu, ia langsung menarik tangan Ethan dan membawanya pergi.
"Lou, kamu mau ke mana?" tanya Nyonya Agatha tetapi Louisa enggan mendengarkannya, ia terus berjalan menuruni anak tangga.
Sementara Ethan hanya diam saja bahkan ia hanya bisa menatap tangannya yang digenggam oleh Louisa.
Kini Louisa sudah berada di ruang tamu, ia menatap Kim dengan tajam. "Apa itu sakit?" tanya Louisa mengejek.
__ADS_1
"Lou, cepat minta maaf," seru sang ayah dengan tajam.
"Untuk apa?" Louisa justru mendesis tak kalah tajam. "Apa dia pernah minta maaf padaku atau pada anak-anak yang lain? Dia selalu membully orang di sekolah, bahkan ada yang sampai jatuh dari tangga dan kakinya patah. Apa dia minta maaf?"
"Lou!" tegur Tuan Bertrand.
Namun, Louisa enggan mendengarkan sang ayah. Kini ia pergi bersama Ethan, tak perduli teriakan ayahnya yang memintanya berhenti.
"Kita mau ke mana, Nona Rae?" tanya Ethan saat mereka sudah berada di luar rumah.
"Entahlah, aku hanya pusing di rumah." Louisa masuk ke salah satu mobil yang terparkir di depan rumah nya. "Ayo!" titahnya pada Ethan yang masih berdiri.
"Kita tidak pergi dengan sopir dan dua bodyguard lainnya?" tanya Ethan.
"Tidak," jawab Louisa. "Ayo cepat sebelum Daddy datang!"
Ethan masuk ke dalam mobil dan bersamaan dengan itu dua bodyguard yang lainnya datang bersama tuan Bertrand.
"Ikuti mereka!" perintah Tuan Rae. "Ini benar-benar kebiasaan buruk Louisa, dia selalu saja pergi jika ada masalah."
Tanpa curiga atau cemas, Tuan Bertrand kembali masuk ke dalam rumah untuk menemui orang tua Kim.
Ia dan istrinya meminta maaf intuk mewakili Louisa, mereka juga memberikan sejumlah uang sebagai penutup dari masalah ini.
Tadinya Kim masih bersikeras ingin Louisa mendapatkan hukuman, tetapi bagi orang tua Kim uang yang diberikan oleh orang tua Louisa sudah lebih dari cukup untuk menyelesaikan masalah kecil ini.
...🦋...
"Kita mau ke mana?" tanya Louisa bingung karena Ethan pergi ke arah yang tak pernah ia lewati.
"Bukankah kau ingin diculik untuk menguji orang tuamu?" Ethan berseringai.
"Ah, benar juga. Apakah ini waktu yang tepat?" pekik Louisa semangat.
"Sangat tepat!"
...🦋...
__ADS_1