Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 76 - Ketika Don Mafia Cemburu


__ADS_3

"Apakah menurutmu keputusanku sudah benar, Peter?" Ethan bertanya pada pria yang masih koma itu, meskipun Peter tak pernah merespon, tetapi Ethan sangat yakin pria paruh baya itu bisa mendengar suaranya. Mungkin, hal itu bisa menjadikan motivasi agar pria itu segera terbangun.


"Aku tidak akan menyakiti Dante lagi karena ternyata dia melukai mu demi menyelamatkan putrinya, namanya Angel. Dia masih kecil, sudah tidak punya ibu dan dia punya kelainan pada jantungnya."


Ethan menghela napas berat kemudian melanjutkan. "Apakah menurutmu aku terlalu baik? Aku harap kau tidak marah padaku, aku memang sedang ingin berbaik hati apalagi demi seorang anak yang tak punya siapa-siapa."


Jari Peter kembali bergerak, begitu juga dengan kelopak matanya. Kali ini lebih cepat dan lebih jelas dari sebelumnya.


"Peter, semua orang ingin menjatuhkan aku, lalu siapa yang akan menguatkan posisiku jika kau tak kunjung bangun? Dunia ini terlalu mengerikan untuk aku hadapi tanpa mu."


Kini, pergerakan kelopak mata Peter semakin terlihat jelas, menandakan pria itu benar-benar ingin membuka mata.


Sementara Ethan tak menyadari hal itulah karena tiba-tiba ponselnya bergetar beberapa kali. Ethan memeriksa pesan yang masuk dan seketika wajah pria itu memerah, dadanya bergemuruh hebat.


"Dasar bocah sialan!" Ethan menggeram marah sorot matanya begitu tajam dan berapi-api, rahangnya mengeras dan ia menggenggam ponselnya itu dengan sangat erat, seolah Ethan ingin menghancurkannya.


Bagaimana tidak?


Andres mengrimkan foto Louisa yang naik motor bersama seorang pemuda, bahkan Louisa juga tampak memeluk pria itu.


Gadisnya itu memegang pinggang pria lain, sungguh hal yang sangat menyakitkan bagi Ethan. Seperti sebuah pengkhianatan.


Darah Ethan terasa mendidih, kepalanya seperti sudah mengeluarkan tanduk dan berasap.


"Sial!"


"Sial!"


"Sial!"


Don mafia itu mengumpat tiada henti, ia juga menendang dinding penuh emosi berkali-kali. Bahkan, ia lupa bahwa sekarang dirinya ada di ruang rawat Peter, di mana keributan tidak seharusnya terjadi.


"Bocah sialan! berani sekali kau menyentuh Louisa-ku, akan aku hajar kau!"


Ethan tak bisa menahan gejolak amarah dan cemburu yang menyerang hatinya.


"Awas saja kau, Bocah! Aku akan memotong pinggang mu yang telah dipegang oleh Louisa itu."


Ethan menggeram sembari meninju dinding beberapa kali, guna melampiaskan gejolak tidak biasa dalam hatinya. bersamaan dengan itu Peter membuka mata dan ia mendengar segala umpatan yang keluar dari mulut Ethan.


"Aku akan membakar mu di atas sepeda motor mu itu, lihat saja nanti!"


Peter meringis mendengar apa yang dikatakan Ethan, ia pun mencoba memanggil pemuda itu tetapi tidak bisa. Peter juga berusaha bergerak, tetapi hasilnya sama.


"E-than?" Sekuat tenaga Peter berusaha bersuara, tetapi Ethan takkan mendengarnya karena Peter hanya mampu berbisik.


"bocah Sialan!" Peter memaki dalam hati. "kenapa dia tidak bisa mendengar ku? Dan apa yang membuatnya sampai sangat marah seperti itu."


Ethan menghubungi Andres sambil terus menendang dinding, sesekali juga meninjunya dengan kesal, membuat Peter semakin meringis.

__ADS_1


"Andres!" bentak Ethan saat panggilannya terjawab.


"Cepat bawa bocah sialan itu ke sini, sekarang juga!"


"Maksudmu, aku harus menculiknya, Tuan Mayer?" tanya Andres dari seberang telfon.


"Tentu saja," jawab Ethan dengan nada tinggi. "Aku akan memotong pinggangnya."


"Baiklah, Tuan Mayer, akan segera aku lakukan," jawab Andres dengan patuh.


"Bocah sialan!" Ethan kembali menggeram setelah berbicara dengan Andres, bahkan ia sudah hampir melempar ponselnya tetapi pandangan Ethan langsung tertuju pada Peter yang sudah membuka mata.


"PETER!" pekik Ethan. "Kau sudah bangun, oh Tuhan. Akhirnya kau bangun juga!"


Ethan panik, senang sekaligus terharu sampai ia lupa untuk memanggil Dokter. Yang ia lakukan justru duduk di sisi Peter, memegang tangan Peter dan mengoceh di sana.


"Kami sangat takut kau tidak bangun lagi, Peter, aku hampir frustasi menghadapi situasi ini."


"Simon juga sedih, marah dan merasa bersalah karena tidak bisa melindungi mu."


"Sekarang kau sudah bangun, aku benar-benar merasa lega. Simon juga pasti senang."


Peter menghela napas berat, seluruh tubuhnya terasa kaku dan dia butuh Dokter sekarang.


"Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Ethan yang melihat gelagat Peter tampak ingin berbicara.


"Dok ... ter." Peter berbisik dengan sangat pelan tetapi Ethan berhasil mendengarnya dengan baik. "Apa yang terjadi pada tubuhku? Aku butuh Dokter, Ethan, bukan curahan hati mu. Setidaknya tidak untuk sekarang." Sayangnya Peter hanya bisa mengatakan hal itu dalam hati.


"Baiklah, aku akan memanggil Dokter Wales," kata Ethan dengan semangat. "Kau akan baik-baik saja, Peter, jangan khawatir."


...🦋...


Ed pergi bersama teman-temannya untuk bersenang-senang, untuk mengalihkan perasaannya yang galau karena ditolak oleh Louisa.


"Aku pikir dia tidak akan menolak ku, kita sudah sangat dekat," kata Ed lesu. "Dia sangat manis, aku ingin sekali menjadi kekasihnya."


"Masih banyak gadis-gadis yang lebih cantik darinya, Ed," tukas teman Ed menghibur. "Kau itu sangat tampan, mahir bermain musik, semua gadis bisa dengan mudah tergila-gila padamu."


"Hanya Louisa yang tidak." Ed berkata dengan lirih.


"Sudahlah, Kawan, jangan biarkan harimu rusak karena seorang gadis."


Ed tertawa kecil dan mengangguk.


Saat hari sudah mulai gelap, Ed pun bergegas pulang.


Namun, di perjalanan tiba-tiba ada seseorang yang menghadang jalan Ed, membuat pemuda itu terpaksa turun dari motornya.


"Kalian siapa?" tanya Ed.

__ADS_1


"Andres." Andres memperkenalkan diri dengan jujur, bahkan pria itu mengulurkan tangannya pada Ed.


Tanpa ragu, Ed menerima uluran tangan Andres tetapi tiba-tiba ia memekik saat Andres menusuk telapak tangannya dengan jarum.


"Auh, apa yang kau lakukan?" pekik Ed. "Apa kau menyebarkan penyakit padaku?" tudingnya.


Sambil tersenyum samar Andres menjawab. "Itu hanya obat bius."


"Hah?" Bersamaan dengan itu tiba-tiba tubuh Andres seperti tak bertenaga, ia masih membuka mata, masih mendengar dengan baik dan ia tidak pingsan.


"Sekarang masuk lah, Anak muda." Andres menuntun Ed masuk ke mobilnya, pemuda itu tentu tak bisa melawan meski sebenarnya masih sadar.


"Obat bius varian baru," kata Andres sambil terkekeh. "Dengan campuran beberapa jenis narkoba, membuatmu melayang sekaligus tidak berdaya. Beberapa menit kemudian kau akan pingsan."


"Mau ... kalian apa?" tanya Ed dengan suara terbata-bata.


"Membawa mu ke Moscow."


...🦋...


Keesokan harinya ....


Louisa kembali ke sekolah seperti biasa, ia bertemu dengan Lindka dan teman-teman yang lain. Namun, Louisa tak melihat Ed di sana.


Pelatih Ed justru menemui Louisa dan menanyakan keberadaan pemuda itu. "Aku tidak tahu, Miss," jawab Louisa dengan bingung.


"Bukan kah biasanya kalian selalu bersama?" tanya guru Ed itu. "Aku juga tidak bisa menghubungi ponselnya."


Louisa hanya bisa terdiam. "Apa dia tidak masuk sekolah karena patah hati? Ah, aku jadi merasa bersalah." batinnya.


"Jika dia menghubungi mu atau menemui mu, tolong hubungi aku, Nona Walter," kata pelatih itu.


"Baik, Miss," jawab Louisa sambil tersenyum manis.


...🦋...


Di sisi lain, Ed terbangun dari pingsannya. Ia merasa seluruh tubuhnya pegal, kepalanya pusing bahkan pandangannya buram.


"Aah." Ia mengerang lirih sembari memegang kepalanya. "Aku di__" Ed tercengang, saat ini ia berada dalam sebuah jet pribadi yang sudah mendarat.


Ed panik, apalagi saat ada beberapa pria bertubuh kekar dan berpakaian serba hitam mendekati Ed.


"Kalian siapa?" tanya Ed.


Alih-alih menjawab pertanyaan Ed, mereka justru langsung menggotong tubuh pemuda itu membuat Ed berteriak kencang.


"Madre, me secuestraron."


(Mama, mereka menculik ku)

__ADS_1


__ADS_2