
Satu minggu itu berlalu dengan sangat cepat bagi keluarga Dokter Filly dan Louisa. Karena mereka harus menyiapkan beberapa hal untuk pernikahan dadakan itu.
Akan tetapi, satu minggu itu terasa sangat lambat bagi Dokter Filly dan Simon yang sudah tak sabar ingin menjadi suami istri yang sah.
Hari ini akhirnya datang, pernikahan sederhana yang hanya menghadirkan semua anggota keluarga dan teman-teman dekat Dokter Filly.
"Kau belum cerita apa yang membuat mu begitu mencintai pria itu, Filly," ujar sang Ibu yang saat ini menemani Filly yang sedang di dandani.
"Aku sendiri tidak tahu apa yang membuat ku begitu mencintai nya, Mom," jawab Dokter Filly. "Tapi sejak pertama kali melihat nya, entah kenapa aku seperti memiliki perasaan yang tak biasa pada nya. Apalagi setelah beberapa bulan kemudian aku sadar dia terus mengawasi dan mengikuti, aku bertanya apa yang membuat nya melakukan itu. Saat itu dia menjawab dengan jujur bahwa dia menyukai ku, tapi tidak tahu cara memberi tahu ku."
"Oh, apa kau tidak curiga mungkin dia berbohong?" tanya Sang Ibu lagi.
"Tentu saja, aku bisa melihat kejujuran di mata nya. Dan aku semakin yakin bahwa aku tidak salah menilai nya setelah aku semakin dekat dengan nya, dia begitu polos, naif, dan seperti salah tingkah saat bersama ku. Padahal beberapa kali aku juga mengawasi nya saat dia bersama teman nya, dia tidak seperti itu. Pokok nya, dia sangat menggemaskan. Apalagi setelah aku tahu dia bahkan tidak pernah berciuman dengan wanita."
"HAH?" pekik sang Ibu, tak percaya dengan apa yang di katakan oleh putri nya.
Dokter Filly tertawa melihat reaksi ibu nya kemudian dia berkata, "Seperti itu juga reaksi ku saat aku tahu dia masih suci, Mom."
"Oh Tuhan, dia suci atau tidak normal?"
"Mom?" tegur Dokter Filly.
Sementara di sisi lain, Simon tampak sangat gugup menanti pengantin nya datang, Kaki nya terus bergarak gelisah, ia juga menarik napas panjang beberapa kali untuk menenangkan perasaan nya.
"Apa kau merasa gugup saat menanti Louisa saat itu?" bisik Simon pada Ethan yang berdiri di sisi nya.
"Iya, aku merasa jantung ku seperti akan meledak," balas Ethan.
"Aku sangat gugup sampai mual," keluh Simon.
Sementara Peter hanya berdiri mematung dengan tatapan yang tak bisa lepas dari keponakan bungsu Dokter Filly. Bocah kecil itu melakukan aksi seperti sedang melakukan kung-fu. Peter merasa gemas dan ia yakin bocah cilik itu akan menyukai ilmu bela diri saat dewasa nanti.
Si bocah yang tahu Peter menatap nya akhir nya berhenti melakukan aksi nya, ia mendekati Peter dan memberikan sebuah permen. "Apa?" tanya Peter dengan dingin.
"Permen, itu bisa membuat suasana hati mu jauh lebih baik," jawab si Bocah sok dewasa.
"Suasa hati ku baik," ujar Simon.
"Tapi wajah mu tegang dan dingin, seperti sedang punya beban berat."
Peter tak marah di komentari begitu, ia justru mengulum senyum sembari menerima permen itu.
Simon yang melihat Peter menikamati permen di saat seperti ini langsung merasa kesal, apalagi ketika Peter mengeluarkan permen itu dan menjulukan lidah nya yang berubah menjadi biru.
"Astaga!" gumam Simon.
Ethan dan Louisa hanya terkekeh, tak menyangka Peter akan melakukan itu di pernikahan Simon.
Hingga tak lama kemudian, sang pengantin datang bersama ayah nya.
__ADS_1
Simon terpana melihat wanita pujaan nya itu yang begitu cantik dalam balutan gaun pengantin nya. Bahkan, Simon menahan napas dan tak berkedip barang sedikit saja.
Dokter Filly sendiri hanya bisa senyum-senyum melihat Simon yang terus menatap nya dengan dalam.
Saat Dokter Filly sudah ada di depan nya, Simon segera mengulurkan tangan nya, Ayah Dokter Filly pun segera memberikan tangan putri nya itu.
"Sekarang dia milik mu, jaga dengan baik, ya?"
"Pasti," jawab Simon dengan yakin.
Kedua nya berhadapan dengan perasaan yang berdebar. Saling mengunci tatapan dan terus tersenyum, hingga sang pendeta memulai upacara sakral itu.
Simon dan Dokter Filly mengucapkan janji suci bergantian, dan setelah sang pendeta mengumumkan pernikahan mereka sudah sah, mereka pun bertukar cincin sebelum akhirnya Simon di persilakan untuk mencium istri nya.
Dengan gugup, Simon membuka kain yang menutupi wajah sang istri, kemudian ia mengecup kening nya dengan lembut. Saat Simon menyudahi kecupan itu, tiba-tiba Dokter Filly menarik wajah Simon dan mengecup bibir nya.
Aksi itu mengundang tawa lucu dan tepuk tangan para tamu yang datang, sementara Simon hanya bisa tersipu.
"Mereka sangat lucu," gumam Louisa. "Emm aku jadi penasaran kira-kira akan seperti apa malam pertama Uncle Simon."
"Lou, perhatikan apa yang ada dalam otak cantik mu ini!" Ethan menyentil kening Louisa dengan gemas, membuat Louisa mengaduh cemberut. Namun, ia tertawa kecil saat Ethan langsung mengecup nya.
Acara itu berlangsung penuh haru dan penuh kebahagiaan, semua orang bersuka cita dan merayakan itu dengan makan dan menari.
Hingga tak terasa hari sudah malam, orang-orang pun kembali ke kamar mereka. Tak terkecuali pasangan pengantin itu.
Simon menatap diri nya sendiri di cermin, ia menarik napas panjang kemudian menghembuskan nya dengan pelan. Ia mengulangi hal itu beberapa kali untuk menenangkan dada nya bergemuruh.
Saat ini ia ada di dalam kamar mandi, bersiap untuk malam pertama nya dengan sang istri.
"Simon?"
"Astaga!" pekik Simon yang terkejut dengan suara sang istri. "Masih lama?" tanya Dokter Filly dari balik pintu.
Saat ini Dokter Filly sudah sangat siap untuk malam pertama nya, bahkan ia tak sabar. Akan tetapi, sejak beberapa menit yang lalu sang suami justru tak kunjung keluar dari kamar mandi. Membuat nya merasa gemas sekaligus cemas.
"Sudah!" seru Simon dari dalam, bersamaan dengan itu pintu kamar mandi terbuka.
"Apa yang kau lakukan di sana, Sayang?" tanya Dokter Filly dengan genit, bahkan ia langsung menyentuh dada Simon yang terbuka karena saat ini Simon hanya memakai bathrobe
"Aku sedikit gugup aku menenangkan diri," jawab Simon yang lagi-lagi tak bisa berbohong.
"Oh, kau gugup, Hem?"
Dokter Filly menyerang nya lebih dulu, ia menciumi dada bidang suami nya itu dengan mesra. Membuat Simon langsung panas dingin bahkan tubuh nya kembali gemetar.
Dengan nakal, Dokter Filly melepas bathrobe Simon, dan pria itu hanya diam saja, begitu pasrah. Sementara Dokter Filly kini termangu melihat tubuh Simon yang masih begitu kekar, indah, kencang. Bahkan, senjata pria itu ... Dokter Filly bergidik ngeri melihat nya.
Bahkan, kini ada rasa takut yang menyapa hati nya. "Apakah benda itu akan menyakiti ku?"
__ADS_1
Simon pun juga beraksi, meski masih gugup, ia memberanikan diri mencumbu sang istri. Dari bibir, turun ke leher nya. Ia terus mencium titik sensitif istri nya itu sembari mendorong nya hingga jatuh di atas ranjang.
Kini nerekw berciuman dengan mesra dan dalam, Simon pun membuka bathrobe sang istri dengan perlahan. Dan ia kembali terpesona melihat keindahan seorang wanita yang terpampang dengan nyata di depan nya.
Wajah kedua nya memerah, napas kedua nya pun memburu. Dan Simon yang sedang sangat semangat hendak masuk ke rumah istri nya begitu saja, tetapi Dokter Filly mencegah nya.
"Harus ada rayuan dulu, Sayang, biar dia luluh," kata Dokter Filly malu-malu. "Ini juga pertama kali nya untuk ku."
"Benarkah?" pekik Simon terkejut.
Tentu saja ia terkejut dan tak percaya, apalagi mengingat selama ini istri nya itu begitu agresif dan sangat tahu cara memperlakukan pria.
"Hem, aku juga tidak sempat melakukan nya karena terlalu sibuk sekolah kemudian bekerja," kekeh Dokter Filly yang membuat Simon juga terkekeh. Namun, tentu ia juga merasa sangat bahagia karena ternyata Dokter Filly-nya juga masih suci.
"Pelan-pelan ...." Dokter Filly membawa tangan Simon menyapa pusat tubuh nya itu. "Sentuh dia dengan lembut, buat dia siap menerima mu."
Simon memang tak pernah bercinta sebelum nya, tetapi jiwa laki-laki nya bangkit di saat seperti ini. Insting nya pun bekerja dengan baik dan Simon mengikuti nya dengan patuh.
Ia memberikan sentuhan lembut tetapi intens, membuat atmosphere di kamar itu semakin lama semakin terasa panas, gejolak gairah pun sudah menggeliat nakal dalam jiwa mereka. Bahkan, tubuh mereka mulai lengket karena keringat.
Hingga saat merasa sapaan itu sudah cukup, Simon dan sang istri pun segera menyiapkan diri. Bersiap memasuki dan menerima dengan senang hati.
Simon menahan napas saat untuk pertama kali nya ia merasakan apa itu arti bersentuhan dengan wanita yang sesungguhnya.
Simon merasa seperti terbang ke awan, ia di manjakan dengan perasaan hangat tetapi bergejolak. Ia merasa ada sesuatu dalam jiwa nya yang ingin di lepas, tetapi juga ingin mendapatkan sesuatu.
Yeah, rasa nya sungguh bercampur aduk. Apalagi ketika ia berhasil menembus sesuatu di bawah sana, ia menggeram tertahan. Sementara sang istri menjerit tertahan.
"Oh, aku menyakiti mu. Maafkan aku." Ia berkata panik sembari menghapus air mata sang istri.
Dokter Filly mengatur napas nya yang terengah-engah, ia mencoba menahan rasa perih itu. Kemudian, ia tersenyum dengan lembut pada Simon yang menatap nya dengan cemas.
"Aku tidak bermaksud memaksakan diri, tapi penghalang nya cukup kuat dan entah kenapa aku mendorong dengan sendiri nya," tutur Simon yang membuat Dokter Filly terkekeh.
"Kalau begitu aku harus bangga pada mu, Sayang, kau bekerja sangat keras untuk menembus nya, Hem. Aku menyukai nya, ini sakit tapi hanya sebentar."
"Apa kau yakin? Haruskah aku berhenti?" Simon hendak melepaskan diri. Akan tetapi Sang istri langsung menahan bokong suami nya itu.
"Saat kau memasuki nya, maka kau tak bisa keluar, Sayang."
"Sekarang, bergerak lah dengan perlahan. Ini akan sangat indah."
Simon tersenyum lembut, ia membelai pipi Dokter Filly kemudian mengecup bibir nya dengan mesra. "Aku mencintai mu, Filly," bisik Simon mesra.
"Aku juga mencintai mu, Simon."
"Boleh kah aku bergerak lebih cepat? Karena rasa nya lebih indah saat aku bergerak lebih cepat."
"Lakukan lah jika itu membuat mu terus merasakan keindahan ini, Sayang. Malam ini aku milik mu, jiwa dan raga ku milik mu."
__ADS_1