Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 63 - Ingin Melepaskan Rindu?


__ADS_3

"Jika kalian bisa memberikan keamanan untuk barang-barangku, di kerja sama selanjutnya aku akan memberikan keuntungan 50 persen."


Peter yang mendengar ucapan rekan bisnisnya itu tentu merasa senang dan langsung melemparkan senyum angkuh, sementara Simon justru menatap orang itu dengan tajam kemudian berkata, "Kalau kamu bisa membuktikan bisa menjadi rekan bisnis yang baik untuk kami, di kerja sama selanjutnya kau tidak perlu membayar untuk keamanan barangmu."


"Oh ya?" pekik pria itu yang justru terlihat sangat girang. "Aku memang sudah mendengar banyak tentang kalian, mereka bilang tidak akan rugi bekerja sama dengan kalian."


"Tidak, asal semuanya harus sempurna!" Peter berkata dengan tegas.


"Aku tahu," sahut orang itu sambil menatap Ethan yang sejak tadi hanya diam saja. "Senang bekerja sama denganmu, Tuan Mayer." Ia mengulurkan tangan pada Ethan yang langsung disambut tanpa senyum oleh Ethan.


"Akan selalu menyenangkan jika kau tahu caranya menjalin kesetiaan."


Setelah melakukan transaksi, Ethan dan kedua ajudan sejatinya itu segera meninggalkan pelabuhan.


"Malam ini kita tidak punya pekerjaan apapun," kata Simon. "Bagaiamana jika kita pergi ke Bar?"


"Aku ke ingin Madrid," sahut Ethan dengan tenangnya yang membuat Peter dan Simon hanya bisa menganga.


"Kau ingin ke mana?" tanya Peter untuk memastikan.


"Aku rasa kau perlu pergi ke Dokter telinga, pendengaranmu mulai bermasalah," sarkas Ethan.


"Kita tidak punya pekerjaan apapun di Spain, Tuan Mayer," kata Simon dengan tenang. "Dan akan lebih baik jika kita tidak keluyuran ke luar negeri kecuali ada yang penting, musuh mengintai kita untuk dibantai."


"Hem," sahut Ethan dingin. "Karena itu aku ingin pergi malam ini dan jangan sampai ada yang tahu, hanya sebentar."


"Apa kau sudah gila?" pekik Peter. "Aku tahu kita bisa pergi keliling dunia dengan mudah, baik dengan cara legal maupun ilegal. Tapi masalahnya sekarang kita dalam bahaya, Tuan Mayer." Pria paruh baya itu menjelaskan dengan penuh penekanan bahkan dengan nada tinggi.


"Sebentar saja, Peter, aku hanya ingin melihat Louisa."


Peter tampak kesal mendengar jawaban Ethan, beda halnya dengan Simon yang justru menahan senyum geli.


"Astaga! Kenapa kamu seperti candu pada gadis kecil itu? Padahal dia itu bukan morfin."


"Cinta itu seperti morfin, nikotin dan heroin, Peter," pungkas Simon. "Bahkan mungkin lebih dari itu tingkat menarik pecandunya."


"Ya Tuhan, jika seperti ini terus lalu apa gunanya kau mengirimnya ke negara lain? Kenapa tidak sekalian kau nikahi saja jadi kau tidak perlu pergi ke mana pun jika merindukannya." Peter berkata dengan sarkas, tetapi Ethan menanggapi itu sebagai suatu ide.

__ADS_1


"Apa menurutmu itu ide yang bagus? Karena aku mulai merasa tidak nyaman saat memikirkan dia yang jauh dariku, dadaku seperti sesak dan seperti ada yang rusak dalam otakku."


"Gosh, Ethan!"


...🦋...


Keesokan harinya ....


"Mom, apa kau tidak bisa cuti?" tanya Louisa sambil menguap.


Gadis itu baru saja bangun tidur padahal matahari sudah tinggi, dan Nyonya Agatha tidak mempermasalahkan hal itu karena hari ini Louisa libur.


"Tidak bisa, Sayang, kau tahu Mommy hanya punya satu hari libur dalam seminggu. Itu pun di hari yang tidak akan selalu sama," kata Nyonya Agatha yang saat ini sedang sibuk menyiapkan diri untuk bekerja.


"Oh, Mom, ini weekend. Seharusnya kau punya hari libur." Louisa memeluk ibunya itu dengan manja. "Maafkan aku, aku tidak bisa membantu Mommy bekerja."


Louisa meminta maaf dengan begitu tulus, ia merasa kasihan pada sang ibu yang bekerja seharian penuh untuk dirinya dan Louisa tidak melakukan apapun.


Nyonya Agatha terdiam, teringat dengan masa lalu mereka. Pernahkah Louisa meminta maaf setulus ini?


Tidak pernah, putrinya itu hanya bisa bertindak semuanya. Bahkan, sering mempermalukannya dan Louisa terus mengungkit kesibukan kedua orang tuanya.


"Hem, tapi aku kasihan. Mommy bekerja dari pagi sampai sore, bahkan sering sampai malam." Louisa merengek dan semakin mengeratkan pelukannya. "Apakah boss Mommy sering marah?"


"Tidak pernah, selama Mommy bekerja dengan baik."


Kini Louisa yang teringat dengan masa lalunya, saat ia masih menjadi Nona muda. Tak ada orang yang bekerja dengan baik di matanya, semua orang membuat kesalahan sehingga membuat Louisa marah. Padahal, Louisa hanya butuh pelampiasan untuk melampiaskan kekesalannya pada ayah dan ibunya.


"Semoga meraka tidak marah," lirih Louisa.


"Baiklah, Mommy harus pergi sekarang."


Nyonya Agatha mengecup pipi Louisa. "Jangan lupa sarapan, okay? Semuanya sudah Mommy siapkan di meja makan."


Louisa hanya mengangguk, ia mengantar sang Ibu sampai pintu depan. "Hati-hati, Mom," seru Louisa sembari melambaikan tangan.


"Kamu juga," balas Nyonya Agatha.

__ADS_1


Setelah ibunya pergi, Louisa segera melakukan pekerjaannya seperti biasa. Jika biasanya ia hanya mencuci bajunya sendiri, kini ia juga mencuci baju kotor sang ibu.


"Mommy bekerja seharian, aku rasa seharusnya kita bagi tugas. Aku mencuci dan membersihkan rumah, Mommy yang mencari uang dan memasak." Louisa menggumam sendiri. "Ah, sepertinya itu ide bagus, tapi Mommy harus menambah uang jajanku karena aku sudah lelah melakukan pekerjaan rumah."


Saat hari sudah siang dan semua pekerjaan rumah Louisa sudah selesai, ia mendapatkan telfon dari Lindka yang mengajaknya makan siang bersama Ed juga. Meski awalnya menolak, tetapi pada akhirnya Louisa menerima karena temannya itu terus memaksa.


Alhasil, di sinilah Louisa sekarang. Di sebuah restaurant bersama Lindka juga Ed.


"Kau ingin memesan apa, Princess?" tanya Ed sembari membaca buku menu.


"Apa saja," jawab Louisa malas. Entah kenapa ia merasa tak bersemangat meskipun Ed mengatakan dia yang akan membayar makanan mereka.


"Oh ya, Princess, apa kau punya pacar?" tanya Ed yang membuat Kening Louisa berkerut.


"Aku tidak punya," jawab Louisa jujur.


"Ada seseorang yang kau sukai?" tanya Ed lagi sambil mengulum senyum.


"Aku rasa dia punya perasaan khsusus untukmu, Princess," sambung Lindka sambil terkekeh.


"Ah, bukan begitu," bantah Ed tetapi mata pria itu memberi tahu sebaliknya.


Louisa ikut terkekeh, dan saat ia membuka mulut untuk merespon, tanpa sengaja pandangannya tertuju pada seorang pria yang tak asing di matanya.


Pria itu memakai pakaian serba hitam dengan penutup kepala, menatap Louisa dengan tajam kemudian ia pergi.


Tanpa pikir panjang Louisa beranjak dari kursinya. "Mau ke mana?" tanya Ed saat Louisa hendak pergi.


"Ke toilet," jawab Louisa asal kemudian ia segera pergi mengejar pria itu sebelum Louisa kehilangan jejak.


"Aku yakin dia Ethan," gumam Louisa sambil terus melangkah lebar dan cepat.


Pria itu terus berjalan hingga keluar dari restaurant, kemudian ia menghilang begitu saja membuat Louisa kebingungan. Ia terus menyusuri tempat yang tampak sepi itu, masih yakin yang dia lihat adalah Ethan.


Hingga tiba-tiba ada seseorang yang menarik Louisa dan membawanya ke tempat yang sepi.


"Ethan?" gumam Louisa saat pria di depannya ini melepas penutup kepalanya.

__ADS_1


"Hem, aku di sini!" Ethan menjawab sambil tersenyum.


__ADS_2