
"Dia tidak menyahut saat aku berbicara tentang orang terkasihnya, jadi cari tahu latar belakang keluarganya," titah Ethan pada Simon.
"Bagaiamana kau bisa memikirkan hal itu, Ethan?" tanya Simon.
"Itu yang dikatakan hatiku, Simon, aku yakin dia tetap bungkam karena dua alasan. Yang pertama karena diancam, yang kedua untuk melindungi seseorang. Tidak ada orang yang tetap setia pada Tuan-nya saat sedang sekarat, kecuali dia dibawah ancaman yang mengharuskannya tetap bungkam."
Simon masih tak yakin dengan prediksi Ethan, tetapi ia tahu Ethan bisa diandalkan dalam hal seperti ini.
Sementara di sisi lain, Amber tampak sangat marah dan dia langsung masuk ke sebuah ruangan dengan membawa senjata yang siap ditembakan.
"Rancanamu gagal, Bodoh!" geram Amber sembari mengangkat senjatanya ke seorang pria yang ada di sana. "Dante menghilang, kemungkinan besar dia tertangkap oleh Ethan." Lanjutnya.
"Aku tahu," jawab pria di depannya itu sambil tersenyum miring. "Tapi kau tenang saja, Amber, Dante Tidak akan membocorkan siapa dalang di balik kerusuhan yang sudah dia perbuat. Dia akan bungkam selama putrinya ada bersamakita."
"AKU INGIN NYAWA ETHAN , JOSE!" Amber berteriak marah bahkan ia langsung melepaskan tembakan ke udara. "Aku tidak perduli dengan Dante ataupun putrinya, aku tidak perduli dengan kehancuran bisnis Ethan. Aku hanya ingin kepala Ethan, aku ingin dia mati ditanganku."
Amber tampak berapi-api, sorot mata wanita itu juga begitu tajam seolah akan menghabisi siapa saja yang ada di sekitarnya.
"Amber!" teriak Dexter yang langsung masuk ke ruangan itu saat mendengar suara tembakan, Dexter sudah sangat takut adiknya itu mungkin akan membunuh Jose.
"Tenanglah, Amber," kata Jose. "Aku mengirim Dante ke sana bukan hanya untuk membunuh Peter, tetapi juga untuk memancing Ethan keluar." Lanjutnya.
"Apa menurutmu Peter sudah mati?" tanya Dexter.
"Aku tidak tahu," jawab Jose sebab ia memang tidak bisa mencari tahu kabar itu. "Tapi dia terkena racun, meskipun tidak mati, dia pasti lumpuh dan artinya takkan berguna lagi hidupnya."
"Lalu apa rencanamu sekarang?" tanya Amber. "Sampai kapan aku harus menunggu untuk membalas kematian ayahku?"
"Kita tidak bisa meremehkan Ethan dan orang-orang di sekitarnya, Amber," tegas Jose. "Dulu aku dan ayahmu meremehkan hal itu, tapi Ethan benar-benar seperti perpaduan antara singa dan elang. Menyerangnya dengan kekuatan saja tidak akan cukup, kita butuh rencana yang matang serta menyingkirkan pelindung Ethan satu persatu.
"Kita tidak bisa meremehkan satu pun anggota The Eagle."
__ADS_1
...🦋...
Louisa menatap ponselnya dengan nanar, setiap saat ia masih mengharapkan ada telfon atau sekedar pesan singkat dari Ethan. Tetapi ia tak juga mendapatkan hal itu.
Louisa menarik napas dalam, ia meletakkan tangannya di dadanya yang berdebar kemudian berbisik pada dirinya sendiri. "Dia baik-baik saja, dia akan menemui saat ingin menemui, Lou. Buktinya dia datang ke Hampstead dan ke Madrid tanpa pernah kamu duga."
Louisa meletakkan ponselnya saat Grecia datang untuk memberinya kelas tambahan.
"Siapa, Nona Walter?" tanya Grecia.
Louisa mengangguk dengan semangat.
Dulu, ia tidak tahu apa arti hidup dan tujuan dari hidupnya itu. Ia hanya melakukan apa yang orang tuanya ingin lakukan, tapi sekarang Louisa punya perjuangannya sendiri.
"Kau harus tahu kapan lututmu harus berdiri tegak dan bergerak dengan lentur, Nona Walter, gerakan tubuhmu adalah bahasa hatimu."
Di sisi lain, Ethan juga menatap ponselnya dengan nanar. Dia sangat ingin menghubungi Louisa, tetapi Ethan takut ada yang mengawasi, melacak atau bahkan melacak ponselnya. Meskipun ponsel Louisa memang tidak bisa dilacak, tapi orang-orang pencari informasi tak kalah pintarnya sekarang. Mereka bisa mencari tahu nomor yang keluar masuk dari ponsel Ethan.
Ethan meletakkan dadanya, di mana jantung pria itu selalu berdetak lebih cepat setiap kali mengingat Louisa.
Sementara itu, Simon mencari informasi tentang pria yang menyerang Peter. Sulit menemukan informasi orang tersebut, tak ada apapun yang bisa Simon temukan. Tidak keluarga, teman ataupun sebuah organisasi yang mungkin tempatnya bernaung.
Pria itu seperti orang dari alam lain yang datang hanya untuk mengacaukan hidup Ethan.
Bukan hanya Amber dan kawannya yang sedang dalam perjuangan untuk meruntuhkan Ethan, ataupun Louisa yang berjuang mencapai tujuannya dan juga Ethan yang berjuang menemukan pelaku kejahatan pada Peter.
Dokter Wales juga sedang berjuang untuk menyembuhkan Peter, apalagi semakin lama keadaan pria itu justru semakin buruk. Detak jantungnya semakin lemah, tubuhnya selalu semakin dingin dari waktu ke waktu bahkan tubuhnya sudah mulai membiru.
Dokter Wales meminta bantuan teman-temannya dari berbagai negara yang merupakan Dokter hebat untuk membantu menyelamatkan Peter.
"Dia seorang gengster, mati satu sama dengan artinya mengurangi satu kejahatan," ucap salah satu teman Dokter Wales.
__ADS_1
"Mereka tidak membunuh orang yang tidak bersalah pada mereka," tukasnya. "Aku tahu mungkin cara mereka menjalani hidup itu salah, tetapi sebagai Dokter sudah kewajiban kita untuk menyelamatkan pasien tanpa peduli apakah dia gengster, polisi, pendeta atau siapapun."
...🦋...
Dante yang saat ini sedang berada di ruang bawah tanah hanya bisa duduk merenung sembari memperhatikan tattoo di lengannya. Tattoo yang berinisal A.
"Maafkan Daddy, Sayang, mungkin Daddy tidak akan kembali padamu." Mata Dante sudah berkaca-kaca, bayangan seorang gadis kecil menari dalam benaknya.
"Daddy melakukan ini untukmu, Angel, untuk kesembuhanmu."
Dante adalah seorang mantan militer yang terpaksa berhenti demi mengurus putrinya yang punya penyakit jantung, sementara sang istri sudah meninggal saat putrinya yang bernama Angel itu dilahirkan.
Dante bukanlah seorang pembunuh, tetapi ia harus membunuh Peter demi sejumlah uang yang akan diberikan Jose sebagai biaya pengobatan putrinya.
Dia tahu, pekerjaan ini pasti akan merenggut nyawanya tetapi Dante tidak bisa menemukan jalan keluar lain untuk menyelamatkan putrinya.
...🦋...
"Kau belajar terlalu keras, Lou, Mommy rasa kau tidak perlu berlatih sekeras itu." Nyonya Agatha mengobati kaki Louisa yang sedikit cidera karena terlalu sering berlatih menari.
"Kamu masih muda, Sayang, kamu masih punya banyak waktu untuk belajar dan mengejar impianmu. Kamu tidak harus menjadi Ballerina dan Pianis dalam waktu 6 bulan." Lanjut sang Ibu. "Dan tidak ada orang yang sukses dalam 6 bulan."
"Aku tahu," sahut Louisa sambil tersenyum tipis. "Aku hanya ingin ada kemajuan dalam 6 bulan ini, Mom, aku yakin kau dan Ethan akan bangga padaku nanti." Louisa berkata dengan penuh keyakinan.
"Ngomong-ngomong soal Ethan, apa dia menghubungimu?"
Louisa menggeleng pelan. "Mungkin dia sedang ada urusan mendesak, Mom."
"Tapi ini sudah lebih dari satu minggu, Lou, bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya?"
Louisa langsung terlihat cemas mendengar ucapan sang ibu, dan memang itulah yang selalu ia takut kan selama ini. Namun, Louisa teringat dengan cerita Ethan tentang mendiang kakek dan ayahnya. Dia sengaja tidak menghubungi ayahnya Ethan untuk melindunginya.
__ADS_1
"Aku rasa Ethan sengaja melakukan itu untuk melindungiku."