
"Bisakah kita bercinta sebentar saja? Mungkin kau tidak akan hamil jika hanya hanya sebentar."
Louisa langsung meringis mendengar ucapan Ethan, ia tak menyangka pria dewasa, pemherani dan penguasa ini bisa memiliki pemikiran yang cukup konyol.
"Bukan masalah durasi, Ethan, tapi yang namanya masuk ya masuk," tukas Louisa.
"Maksudnya?" tanya Ethan sambil mengangkat wajahnya, mata besar pria itu menatap Louisa dengan penasaran.
"Oh Tuhan, apa kau tidak tahu tentang hal seperti ini? Hidup di mana kau, Ethan?" ejek Louisa, sebab meskipun dirinya masih berusia 18 tahun, masih belum menikah dan tentu belum pernah bercinta. Tetapu Louisa punya teman yang terkadang membicarakan hal seperti itu, menonton film atau pun membaca novel yang bercerita tentang percintaan dan bercinta.
"Hidup di dunia ini, tentu saja," tukas Ethan dengan polosnya.
"Apa kau tidak pernah belajar tentang reproduksi?" tanya Louisa.
"Saat usiaku 8 tahun, aku belajar cara menembak. Saat usiaku 10 tahun, aku belajar cara bernegosiasi dengan kawan atau lawan, saat usiaku 15 tahun. Aku mulai bergabung dan turun langsung di lapangan entah untuk menyingkirkan lawan atau bekerja bersama kawan. Saat usiaku 18 tahun, aku menggantikan posisi mendiang kakek menjadi seorang Don Mafia."
Louisa tercengang mendengar penjelasan lebar Ethan, dan pertanyaan ini lah yang selalu terngiang dalam benaknya sejak dulu.
"Kakek ?" tanya Louisa dengan kening berkerut dalam. "Ethan, bagaimana kau bisa terjun ke dunia mafia sementara keluargamu adalah seorang pengusaha? Dan siapa kakekmu?"
"Kau ingin tahu sejarah hidup kami?" tanya Ethan sembari menatap mata Louisa dengan intens.
"Tentu saja, aku sangat penasaran kenapa kau bisa menjadi orang kejam begini," kata Louisa yang membuat Ethan langsung terkekeh. Ia pun kembali menyembunyikan wajahnya di leher Louisa.
"Dulu, ayahku adalah seorang yatim piatu, Lou. Dia hidup di jalanan, kemudian seorang Don Mafia yang bernama Marlon Mayer menemukannya dan merasa kasihan. Dia pun merawat ayahku seperti anaknya sendiri, karena dia tidak punya anak, akhirnya ayahku diangkat menjadi putranya. Namun, mendiang Kakek tahu bahwa hidup dalam lingkungan Mafia berbahaya untuknya apalagi saat Kakek sudah dewasa dan menikah dengan Mommy."
Ethan bercerita sambil tersenyum saat mengingat wajah ayah dan ibunya, mereka sering sekali menceritakan kisah cinta mereka yang indah.
__ADS_1
"Lalu?" tanya Louisa.
"Lalu Kakek mengirim ayahku ke London ketika ibu sedang mengandungku, dan mereka memutuskan untuk tidak saling menghubungi karena itu bisa berbahaya untuk hidup kami. Kami hidup bahagia, Lou, ada Simon, Peter dan bibi Venly. Dia adalah pengasuhku sejak aku berusia dua minggu, yeah itu kata ibuku. Aku sangat sayang pada mereka semua. Mereka memperlakukanku dengan sangat baik, hingga kemudian ...."
Ethan menghela napas panjang, ingatannya kembali pada tragedi berdarah itu. "Aku tidak tahu apa yang terjadi, mereka menemukan tambang emas dan mengelolanya bersama pria yang bernama Bertrand Rae, katanya teman. Tapi ...."
Louisa terhenyak, kini ia tahu ke mana arah pembicaraan Ethan. Bahkan, napas pria itu mulai tercekat dan kedua matanya kembali berkaca-kaca.
"Maafkan aku," kata Louisa dengan tulus, ia menarik tangan Ethan dan memberikan kecupan-kecupan kecil di punggung tangannya. "Andai aku bisa melakukan sesuatu, aku tidak akan pernah membiarkan ayahku melukai keluargamu apalagi sampai—"
Ethan mendongak, ia menatap Louisa dengan nanar sambil tersenyum tipis. "Maafkan aku, Ethan," ucap Louisa sekali lagi dengan begitu tulus.
"Ini bukan salahmu, jangan meminta maaf," ucap Ethan dan kini ia kembali merabahkan kepalanya di dada Louisa, seolah itu adalah tempat sandar ternyaman untuknya.
"Aku juga sangat marah pada ayahmu, sejak malam itu aku bertekad bahwa aku akan mengabdikan hidupku
"Dan aku adalah orang terkasih Daddy," sahut Louisa.
"Yeah, sebenarnya saat itu yang aku targetkan adalah ibumu. Tapi saat hendak menjalankan misi, Kakek Marlon meninggal dan terjadi kerusuhan antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Bahkan ada masalah internal, beberapa anggota The Eagle ingin mendapatkan posisi Kakek. Dan pada akhirnya mereka menunjukku sebagai pewaris kerajaan The Eagle, aku harus menyelesaikan beberapa konflik yang sudah terjadi dan saat itu juga aku tahu bahwa kau adalah putrinya."
Kehilangan istri dan kehilangan anak akan jauh lebih menyakitkan kehilangan anak, karena dengan begitu aku bisa menyakiti ayah dan ibumu."
"Kejam sekali," gumam Louisa.
"Aku tidak akan kejam jika mereka tidak kejam, Lou, mereka yang memulai."
Louisa tersenyum tipis dan mengangguk membenarkan apa kata Ethan. "Mereka mengambil semuanya dariku, ayah, ibu, bibi, bahkan para pelayan lain dan Bodyguard yang sama sekali tidak bersalah. Mereka semua adalah keluargaku."
__ADS_1
Tanpa sadar air mata Ethan kembali tumpah mengingat kejadian yang menjadi sejarah terburuk dalam hidupnya itu, sejarah yang mengubah bocah kecil seperti dirinya menjadi monster yang haus darah.
Louisa terhenyak saat merasakan air mata Ethan di dadanya, membuat Louisa semakin dilanda rasa bersalah karena semua itu ulah ayahnya.
Louisa membelai rambut hitam Ethan dengan lembut, bahkan tak jarang gadis itu memberikan kecupan di pucuk kepalanya.
"Seharusnya kau membunuh ayahku agar dendammu terbalas," kata Louisa yang membuat Ethan tersenyum miring.
"Aku ingin melakukannya dan sudah seharusnya aku melakukan itu." Ethan kembali mendongak dan seketika hati Louisa terkesiap melihat air mata pria itu.
Tanpa berkata-kata, Louisa menangkup pipi Ethan kemudian menghapus air mata itu dengan kecupan mesranya.
"Menangislah jika ingin menangis," kata Louisa dengan lembut. "Aku memang tidak bisa mengembalikan keluargamu, aku juga tidak bisa menghentikan kejahatan ayahku. Yang bisa aku lakukan hanya menghapus air matamu dan menggengam tanganmu, agar kamu tahu sekarang aku milikmu dan akan selalu bersamamu."
"Dan kau adalah alasan dendam itu tidak terbayar, Lou," lirih Ethan. "Aku melihat diriku dalam dirimu, aku tidak ingin gadis kecilku ini berubah menjadi monster untuk membalas kematian ayahnya."
Louisa terenyuh, betapa besar dan lapang hati seorang Don Mafia di depannya ini. "Aku rasa jauh lebih baik menjadi seorang penari, musisi atau semacamnya, dari pada menjadi seorang pembunuh yang haus dengan dendam sepertiku. Orang-orang menjuluki aku sebagai monster, karena aku memang sering membunuh orang dengan sadis untuk melampiaskan kemarahanku atas kematian keluargaku."
"Kau bukan monster," sanggah Louisa. "Kau adalah Ethan-ku, yang baik hati, yang penyayang dan penuh cinta."
"Benarkah? Aku sudah membunuh puluhan orang."
"Tapi kau berhasil memadamkan api dendam dalam jiwamu karena mencintaiku, bukankah itu artinya kau pria yang penuh cinta?"
"Aku hanya mencintaimu, aku masih bisa membunuh orang lain yang tidak punya hubungan denganmu."
"Kalau begitu berhenti membunuh, ayo kita susun hidup kita yang baru, yang lebih baik."
__ADS_1