
Alih membersihkan rumah seperti yang ibunya mau, Lousia justru pergi ke sebuah cafe yang tak jauh dari rumah. Ia memesan es krim di sana, bahkan hanya dalam waktu lima belas menit, dia sudah menghabiskan sebanyak 5 cup es krim.
"Setidaknya ini membuat kami senang," kata Louisa sambil menepuk perutnya.
Setelah menghabiskan es krim ke lima, kini ia memesan pan cake. Namun, saat makanan itu disajikan, ia langsung mendorongnya menjauh dengan hidung yang mengernyit. Seolah ia tak suka aromanya.
"Apa ada yang salah, Nona?" tanya sang pelayan yang melayani Louisa.
"Ah, tidak," jawab Lousia sambil tersenyum. "Sepertinya dia hanya tidak suka aroma nya, itu wajar saja. Kami belum saling mengenal."
Jawaban ambigu Lousia yang panjang lebar itu tentu saja membuat sang pelayan bingung, tetapi Louisa tak peduli. "Aku belum menyentuh nya sama sekali, kau boleh memakan nya jika mau. Sayang sekali jika di buang," kata Louisa sembari beranjak berdiri, ia pun pergi setelah membayar semua makanan nya, tak lupa ia juga memberikan tips pada pelayan itu.
Sementara di rumah, Nyonya Agatha hanya bisa menghela napas berat melihat rumahnya yang masih berantakan. Bahkan, ranjang Lousia juga berantakan.
"Benar-benar anak durhaka!" geram Nyonya Agatha. Ia hendak merapikan ranjang Louisa, tetapi kemudian ia mengurungkan niatnya.
"Dia harus belajar bertanggung jawab," gumam nya "Jika mengurus kamar saja dia tidak mampu, bagaimana bisa dia mengurus suami dan anak nya nanti?"
Nyonya Agatha menatap foto yang di pajang di atas meja oleh Louisa, foto USG pertama nya. Ia teringat saat Louisa begitu gembira setelah mengetahui diri nya hamil, kemudian ia langsung membeli frame foto yang paling bagus untuk memajang nya di kamar.
" Sudah beberapa kali Ethan datang secara tiba-tiba, Mom, tapi dia juga pergi tiba-tiba. Jika Ethan melihat foto anak kami, mungkin dia tidak akan pergi lagi."
Nyonya Agatha tidak akan pernah lupa dengan apa yang di katakan oleh putri nya saat itu, sebuah harapan yang entah bisa tercapai atau tidak.
" Jika ayah mu tidak tidak kembali, aku akan mengutuk nya menjadi ulat tanpa otak dan tanpa bulu!" geram Nyonya Agatha.
Setelah itu ia segera menghubungi Louisa untuk bertanya keberadaan nya. "Kau di mana? Kenapa rumah di biarkan berantakan?" bentak Nyonya Agatha saat Louisa menjawab panggilan nya.
"Tadi aku pergi membeli es krim, Mom, aku menghabiskan lima cup es krim."
Tentu saja pernyataan Louisa itu membuat Nyonya Agatha melongo. "Apa kau gila? Kau bisa sakit tenggorokan, Lou!"
"Kami butuh membutuhkan sesuatu untuk memperbaiki mood kami, Mom," kilah Louisa. "Oh ya, aku juga memesan pan cake dengan toping madu. Sebelum nya aku suka itu, tapi sepertinya anak Ethan ini tidak suka. Uff, entah apalagi yang tidak dia sukai. Aku rasa aku harus mengenal nya lebih lama lagi."
__ADS_1
Nyonya Agatha tertawa mendengar gerutuan Louisa itu.
"Hal seperti itu biasa di alami oleh orang hamil, Lou, kau harus mulai terbiasa. Yang awal nya kau suka, mungkin sekarang akan kau benci. Dan yang awal nya kau benci, mungkin sekarang kau akan suka."
Nyonya Agatha teringat dengan masa-masa saat dia mengandung Louisa dulu. "Bahkan dulu kau begitu, kau sangat menyiksa Mommy."
"Benarkah?"
"Hem, dulu Mommy suka sekali makan daging dan ikan, juga sayuran, tentu nya. Mommy suka semua makanan yang sehat. Tapi saat kau ada dalam perut Mommy, Mommy justru tidak suka semua itu. Mommy suka makanan yang tidak jelas, tidak sehat. Yeah, mungkin karena itu otak mu tidak cerdas seperti yang di katakan oleh Ethan."
" Mommy!" Louisa protes, bahkan dari suara nya saja sudah jelas terbaca bahwa putri nya itu cemberut.
"Cepat pulang, tidak baik kau berada di luar sendirian!" titah Nyonya Agatha kemudian.
"Aku sedang bersama Lindka, Mom. Kami ada janji akan nonton."
"Baiklah, tapi langsung pulang setelah itu."
"Baiklah, Mom!"
...🦋...
Saat ini kedua gadis itu sedang mengantri untuk membeli tiket film yang akan mereka tonton.
"Yeah, aku tidak membersihkan kamar jadi dia marah-marah," kekeh Louisa.
"Rumah mu sangat besar dan mewah, Princess, kenapa kau tidak membayar asisten rumah tangga saja?" Lindka bertanya dengan heran mengingat rumah Lousia yang memang besar dan mewah.
"Kami tidak punya cukup uang untuk itu, kau tahu sendiri ibu ku hanya pelayan toko roti," ringis Louisa. Tentu saja dia berbohong tentang tidak punya uang.
Louisa punya kartu unlimited yang diberikan oleh Ethan, dia bahkan bisa mempekerjakan lima pelayan sekaligus. Namun, ia dan sang ibu sudah sama-sama menikmati peran dan tugas mereka.
"Lalu dari mana kau mendapatkan rumah mewah seperti itu?" Lindka kembali bertanya dengan heran.
__ADS_1
"Warisan," jawab Louisa asal.
Setelah mendapatkan dua tiket, kedua nya kini pergi untuk membeli pop corn dan minuman.
...🦋...
"Kau ingin minum sesuatu, Tuan Mayer?"
Seorang wanita menawarkan Ethan minuman untuk yang kedua kali nya, tapi lagi-lagi Ethan hanya menggeleng. Ia terus memainkan ponsel nya, berpikir haruskah ia menghubungi Louisa atau tidak?
Saat ini Ethan sudah berada dalam jet pribadi nya yang terbang menuju Madrid, ia harus sampai di sana dan menjemput Louisa.
Ethan yang sudah tidak tahan dengan rasa takut nya itu langsung menghubungi Louisa, tetapi panggilan nya di terjawab. Ia mencoba nya beberapa kali, tapi hasil nya sama saja. Membuat Ethan semakin cemas.
Sementara di sisi lain, Peter dan Simon hanya bisa menunggu dengan cemas. Kedua pria itu tak bisa menemani Ethan karena keadaan mereka. Meskipun Simon sudah bersikeras akan ikut, tetapi Ethan melarang nya dan tentu saja Ethan jauh lebih keras kepala dari Simon.
"Tenang lah, di sana ada banyak anak buah kita," kata Simon yang melihat Peter begitu panik.
"Jika kekacauan ini tak juga berakhir, rasa nya aku ingin membakar dunia ini saja." Peter menggeram kesal, sementara Simon justru terkekeh, padahal sebenarnya ia juga begitu cemas.
"Kau bukan malaikat, tidak akan sanggup membakar seluruh dunia ini."
"Ah, benar juga."
"Hubungi Andres, minta dia memastikan Louisa aman."
"Sudah aku lakukan sejak tadi, bodoh!"
...🦋...
Andres mentap Lousia dan Lindka yang saat ini masuk ke dalam bioskop.. Ia pun segera menyampaikan berita itu pada Ethan juga Peter.
Andres hendak membeli tiket film yang sama dengan yang Lousia tonton, tetapi sayang nya tiket sudah terjual habis. Mau tak mau Andres harus menunggu di depan Bioskop.
__ADS_1
Sementara di dalam bioskop, Louisa dan Lindkan mendapatkan kursi paling pojok di belakang. Membuat kedua gadis itu mengeluh kesal.
Sementara tak jauh dari sisi Lousia, seorang pria terus melirik Lousia. Seolah sedang mengincar gadis itu.