
Beberapa hari kemudian...
Benci?
Tentu saja kini Louisa sangat membenci pria yang menjadi cinta pertamanya itu, bahkan Louisa ingin membunuh pria itu apalagi karena ia harus kehilangan Bi Amy yang ia sayang.
Louisa mengutuk dirinya sendiri yang ikut Ethan sehingga itu memudahkan Ethan untuk membalaskan dendamnya.
Sementara Tuan Bertrand kini tidak tahu harus melakukan apa, perusahaan dan seluruh harta kekayaannya telah hilang begitu saja padahal ia mengumpulkan semua itu selama bertahun-tahun.
"Aku harus bagaimana, Mom?" lirih Louisa, tatapan gadis itu sayu dan wajahnya tampak begitu pucat. "Haruskah aku balas dendam pada Ethan?" Air mata Louisa jatuh saat pertanyaan itu keluar dari mulutnya.
"Tidak, Sayang," jawab sang Ibu. "Jangan lagi ada dendam, jangan lagi ada pertumpahan darah. Semuanya sudah cukup."
"Tapi dia membunuh Bi Amy, Mom," seru Louisa dengan suara yang bergetar.
"Anak buah Ethan yang membunuh Bi Amy, itu pun karena Bi Amy memukul kepala Ethan dengan vas bunga."
"Tetap saja Bi Amy mati karena Ethan," sanggah Louisa.
"Dan Ethan melakukan semua ini karena ayahmu," desis Nyonya Agatha tiba-tiba sambil melirik sang suami yang sejak tadi hanya diam saja.
"Bukankah aku sudah memperingatkan kamu, Bertrand? Tapi kamu tidak mau dengar."
"Aku melakukan semua ini demi kita," sergah Tuan Bertrand.
"Tidak harus membunuh kedua orang tua Ethan," teriak Nyonya Agatha yang kembali merasa emosi.
"Diam dan jangan berani mengucapkan satu patah kata pun tentang masa lalu!" geram Tuan Bertrand.
__ADS_1
"Kenapa Daddy membunuh mereka?" tanya Louisa memberanikan diri. "Daddy sungguh pembunuh? Kenapa?"
Tuan Bertrand tak mampu menjawab, apalagi ketika tatapannya bertemu dengan tatapan Louisa yang penuh kekecewaan.
"Apa sungguh karena harta? Apa Daddy tahu betapa aku membenci harta Daddy itu? Harta yang terus Daddy urus sampai lupa mengurusku."
"Lou!" bentak Tuan Bertrand tak suka dengan apa yang dikatakan Louisa. "Daddy melakukan semua itu untukmu, Sayang, supaya kamu memiliki kehidupan yang nyaman."
"Diintai untuk dibantai apakah itu kehidupan yang nyaman?" teriak Louisa yang sudah tak bisa lagi menahan kekecewaan dan kesedihannya.
Sementara sang Ayah langsung bungkam karena apa yang dikatakan oleh Louisa sangat benar.
"Saat Daddy membunuh mereka semua, saat itu juga hidup kita semua diintai dan ditargetkan. Apa Daddy pernah memikirkan itu?" Suara Louisa terdengar lirih.
"Aku bahkan belum lahir ke dunia ini saat kau melakukan dosa-dosa mu, Dad, tapi kenapa aku harus menjadi sasaran utamanya?"
Tangis Louisa kembali pecah saat mengingat bagaimana Ethan mengancam mereka semua, padahal Louisa mencintainya dengan tulus tapi Ethan membalasnya dengan melempar darah dan mayat.
sementara di sisi lain ....
Ethan menghela napas panjang sambil memegang headphone yang terpasang di kepalanya.
Ethan memang meninggalkan kediaman Rae tetapi Ethan masih meletakkan penyadap di beberapa tempat untuk mengawasi pergerakan mereka.
Hati Ethan terasa perih saat mendengar apa yang dikatakan oleh Louisa.
Kenapa harus dia yang menjadi target utamanya?
"Sial!" Ethan menggeram sambil melepaskan headphone-nya.
__ADS_1
Ia memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak, perih bahkan membuat dia sulit bernapas.
Ethan keluar dari ruang kerjanya, ia mengambil satu botol bir dan langsung meminumnya sambil duduk bersila di lantai.
"Apa ada yang belum selesai?"
Ethan hanya menoleh saat mendengar pertanyaan itu dari Simon. "Beberapa hari ini kau terlihat menyimpan sesuatu yang mengganggu pikiran dan hatimu, Ethan," kata Simon sambil mengambil botol dan ia pun juga meminumnya.
"Persiapkan keberangkatanku ke Moscow," seru Ethan.
"Baik," jawab Simon. "Pastikan tak ada yang tertinggal saat kau pergi ke Moscow."
"Bicara yang jelas," tegas Ethan karena ia tak mengerti maksud Simon.
"Kau meninggalkan hatimu, Ethan," ucap Simon sambil tersenyum miring. "Kau meninggalkannya pada si kecil Lou."
"Aku tidak punya hati, Simon."
"Kalau begitu seharusnya kau menembak Rae di kepalanya seperti yang kau inginkan."
Ethan terdiam.
"Kau tidak bisa melakukannya karena hatimu tidak mau, dan hatimu tidak mau karena sudah ada Louisa yang bersemayam di sana. Kau mencintainya?"
"Jaga mulutmu!" desis Ethan seolah tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Simon.
"Bodoh sekali," kekeh Simon. "Aku pikir kau monster sejati, selama 22 tahun aku hanya melihat amarah dan dendam di matamu, seperti monster yang lapar. Tapi saat kau kembali bersama Louisa ke mansion ini, aku melihat sesuatu yang berbeda."
Ethan menatap Simon dengan tajam tetapi Simon justru meletakkan tangannya di dada Ethan. "Apakah di sini berdebar saat kau bersama Louisa?"
__ADS_1
Ethan terhenyak.
Bagaimana Simon bisa tahu bahwa dadanya berdebar saat ia bersama Louisa?