Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 25 - Apa Yang Salah?


__ADS_3

"Ah, Ethan! Apa yang kau lakukan?" ringis Louisa sambil menatap lengannya yang terluka.


"Ambilkan obat dan kain kasa," pinta Ethan pada Simon tanpa memperdulikan Louisa.


Sementara Louisa kini bergidik saat melihat Ethan melipat kembali pisau yang ia gunakan untuk menyayat lengannya, bahkan di ujung pisau masih terdapat darah.


"Ethan? Apa yang kau lakukan padaku?" tanya Louisa dengan suara yang gemetar. Rasa takut merasuki jiwanya apalagi saat ia mengingat Ethan menyuntikan sesuatu padanya.


"Untuk apa masih diobati?" tanya Peter yang kini melemparkan tatapan penuh kebencian pada Louisa, membuat gadis itu semakin merasa takut.


"Lukanya bisa infeksi," sahut Ethan dengan dingin.


Sementara Simon seperti biasa tak ingin berdebat dengan Ethan, ia pun memberikan kotak obat yang memang selalu ia bawa.


"Memangnya kenapa kalau infeksi? Sebentar lagi dia juga akan mati!"


Louisa terhenyak mendengar apa yang dikatakan oleh Peter. "Ethan, apa maksudnya ini? Kau akan membunuhku?" lirih Louisa. Namun, Ethan enggan menjawabnya. Ia pun membersihkan dan mengobati luka Louisa dengan pelan-pelan, sesekali gadis itu mendesis saat merasakan perih di lengannya.


Bersamaan dengan itu pintu gerbang pun sudah di buka, Semua anak buah Tuan Bertrand sudah siap dengan senjata mereka. Sementara Tuan Bertrand dan Tommy berdiri dengan angkuh di depan rumah, seolah memang menunggu kedatangan Ethan.


Louisa terperangah saat ia menyadari di mana ia berada saat ini dan ia sangat terkejut sekaligus melihat semua orang kini memegang senjata.


"Apa yang terjadi, Ethan?" tanya Louisa.


Lagi-lagi Ethan hanya bungkam.


"Daddy!" teriak Louisa sambil berusaha keluar dari mobil, tetapi Ethan mencegahnya.


"Daddy!" Louisa mencoba memberontak hingga tiba-tiba Ethan mengeluarkan pistol dan mengarahkannya ke kepala Louisa, membuat Louisa kembali terkejut.


"Jangan melawan atau aku akan meledakkan kepalamu!" ancam Ethan.


Seketika Louisa terdiam, bahkan ia juga menahan napas. Pria yang dia cintai telah melukainya, bahkan mengancam akan meledakkan kepalanya. Louisa sungguh bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.


"Ada apa, Ethan?" tanya Louisa dengan suara yang gemetar.


Alih-alih menjawab, Ethan justru menarik paksa Louisa keluar dari mobil tentu tetap dengan pistol yang di arahkan ke kepala gadis itu.

__ADS_1


Perasaan Louisa bercampur aduk sekarang, pikirannya berkecamuk dan ia masih mencoba mencerna apa yang terjadi. Ia bertanya-tanya apakah ini mimpi?


"Dad?" lirih Louisa saat menatap sang Ayah, ia tak sanggup lagi menahan air matanya.


"Lou!" gumam Tuan Bertrand saat melihat putrinya yang tampak sangat lemas dan menangis.


"Aku rasa kita harus masuk dan berbicara di dalam," kata Ethan.


"Lepaskan putriku!" geram Tuan Bertrand.


"Nanti, setelah urusan kita selesai," jawab Ethan.


Tuan Bertrand melirik Tommy, dan temannya itu mengangguk. Memberi isyarat untuk membiarkan Ethan masuk.


Peter dan Simon juga menodongkan senjata mereka pada kedua pria paruh baya itu. Namun, di detik itu juga semua anak buah Tuan Bertrand langsung menodongkan senjata pada mereka berdua.


"Suruh mereka mundur, atau aku akan menembak kepala putrimu," ancam Ethan.


"Apa kau mau mencoba menyerang di rumah musuh?" sinis Tuan Bertrand. "Yang benar saja, kalian hanya bertiga dan__"


DOORRR


Sementara itu, Nyonya Agatha dan Bi Amy yang mendengar suara tembakan dari luar langsung bergegas ke luar.


"Ikuti saja perintahku, Rae," desis Ethan. "Atau peluru selanjutnya akan bersarang di kepala putrimu ini."


"Louisa!" teriak Nyonya Agatha yang langsung berlari ke arah putrinya itu. Namun, Peter justru langsung menangkap wanita itu paruh baya itu dan menyandra nya.


"Mom, hiksss ...." Louisa kembali menangis.


"Masuk!" seru Peter.


Mau tak mau mereka pun masuk ke dalam rumah itu dan dengan cepat Peter mengunci pintu utama.


"Apa yang kau rencanakan, Ethan?" desis Tommy. "Apapun yang kau rencanakan, itu takkan berhasil. Aku sudah melaporkan ini pada polisi dan sebentar lagi mereka akan datang."


Bukannya takut atau cemas, Ethan justru terkekeh.

__ADS_1


"Apa kau pikir aku datang ke sini hanya untuk mati?" sinis Ethan. "Aku sudah menyiapkan diri selama 22 tahun hanya untuk memusnahkan kalian semua di kediaman kalian sendiri."


"Kau bajingan!" geram Tuan Bertrand.


"Dan kau iblis yang menyamar menjadi bajingan," balas Ethan.


"Peter, kumpulkan semua pelayan. Totalnya ada 6 orang pelayan," titah Ethan pada Peter.


"Dan kau Simon, hancurkan cctv yang ada di dalam rumah dan retas cctv yang ada di sekitar rumah ini. Pasukan kita sebentar lagi juga akan sampai."


Simon pun mengangguk patuh.


"Kau mau apa, sialan?" desis Tommy.


"Mau membunuh kalian semua," jawab Ethan dengan nada bicara yang begitu datar.


Jawaban itu tentu saja membuat Louisa dan Nyonya Agatha semakin takut.


"Lepaskan Louisa, Ethan, aku mohon." Nyonya Agatha mengiba, ia menatap Ethan dengan memelas tetapi Ethan seolah tak perduli. "Dia tidak bersalah."


"Lalu apa aku bersalah? Apakah orang tuaku bersalah? Kalian membunuh mereka semua tanpa ampun, apa salah mereka, hah?" teriak Ethan penuh emosi.


Sorot mata pria itu begitu tajam, rahangnya mengeras.


"Ethan," lirih Louisa dengan suara yang tercekat, ia memberanikan diri menatap pria itu yang entah siapa sebenarnya.


"Aku mohon jangan begini, Ethan," pinta Louisa dengan suara yang bergetar. "Aku ... aku takut, hiks. Demi Tuhan aku sangat takut sekarang."


Hati Ethan terkesiap mendengar pengakuan Louisa, apalagi ia tahu gadis itu memang penakut.


"Hiks hiks ...." Louisa terisak lirih, tangan dan kakinya terasa dingin serta seluruh tubuhnya sudah gemetar.


"Aku mohon, Ethan." Louisa memelas. "Apa yang salah? Kenapa begini?"


Hati Ethan pun gemetar saat mendengar suara pilu Louisa, bahkan dengan perlahan Ethan menurunkan senjatanya membuat Louisa sedikit bernapas lega. Hingga tiba-tiba ....


DOORRRR

__ADS_1


DORRRR


__ADS_2