Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 75 - Konspirasi


__ADS_3

"Ada penyadap di leherku."


Pupil mata Ethan membesar membaca apa yang ditulis oleh Dante, ia menatap pria itu yang kini memutar kepalanya ke belakang, ia menunjuk di mana alat penyadap itu di tanam oleh Jose.


"Baiklah," kata Ethan kemudian sambil mengangguk mengerti. "Jika kau tetap ingin bungkam, maka bungkam lah selamanya. Aku akan menemukan putrimu dan menghabisinya di hadapanmu."


Tidak terlihat kemarahan di mata Ethan saat ancaman itu ia lontarkan pada Dante, sebab itu hanya sandiwara.


"Bekerja lah sebaik mungkin, Tuan Mayer, pergilah dari hadapanku dan silakan cari siapapun yang ingin kau cari," kata Dante sembari kembali menulis sesuatu di tanah.


"Aku menyerah padamu, demi putriku. Jika aku membuka mulut, mereka akan menghabisi putriku, jika aku diam, mereka berjanji akan membiayai pengobatan putriku, dia punya kelainan jantung. Tapi aku rasa kau takkan melepaskannya, kau juga akan membunuh putriku. Aku sudah mendengar kekejaman mu, sekarang aku menyerah dan akan memberi tahu otak dari semua ini. Asal kau berjanji takkan menyakiti putriku dan takkan membiarkan mereka menyakitinya."


Ethan terhenyak saat membaca apa yang Dante tulis, dia sudah mendengar kekejaman Ethan?


Don mafia itu tersenyum miring, sepertinya hanya Louisa yang mengenal Ethan sebagai pria yang penuh kasih dan berhati baik.


Dante menatap Ethan yang saat ini juga menatapnya, pria itu memberi isyarat agar Dante memberi tahu siapa musuh yang bersembunyi itu.


"Jose."


Ethan langsung tersenyum miring saat Dante menulis nama itu.


"Sudah ku duga," batin Ethan.


...🦋...


"Dia mengungkapan perasaannya? Lalu apa jawabanmu, Sayang?" tanya Nyonya Agatha saat Louisa bercerita tentang Ed yang mengutarakan perasaannya.


"Tentu saja aku menolaknya, Mom, aku mencintai Ethan," tukas Louisa.


Saat ini ibu dan anak itu sedang menikmati waktu bersama, mereka menonton drama yang sebenarnya tak cukup menarik.


Namun, keduanya tak mempermasalahkan itu karena baru sekarang Louisa dan Nyonya Agatha punya waktu berdua, mengobrol santai, berbagi cerita tentang hari-hari mereka. Hal yang dulu tak pernah mereka lakukan.


"Lou, apa kau tidak bisa memikirkannya lagi, Dear?" Nyonya Agatha menatap putrinya itu dengan nanar. "Ethan itu 12 tahun lebih tua darimu__"


"Bahkan ada yang menikah dengan pria yang 20 tahun lebih tua, Mom," sanggah Louisa dengan cepat.

__ADS_1


"Jika usia tidak menjadi masalah bagimu, lalu bagaimana dengan statusnya sebagai Don mafia? Seorang gangster, Lou."


Louisa terdiam, ia menghela napas panjang dan teringat kembali dengan cerita Ethan tentang keluarganya.


"Louisa?" Nyonya Agatha menyentuh lengan putrinya itu dengan lembut. "Hidup mu bisa selalu dalam bahaya, Sayang, dan Mommy tidak mau itu terjadi."


"Ethan akan selalu melindungi ku, Mom," sahut Louisa lirih.


"Tidak akan selalu, Lou, kamu bisa celaka karena dia." Nyonya Agatha sedikit meninggikan nada bicaranya, bukan maksud membentak tetapi ia hanya ingin tegas pada Louisa.


"Lihat lah sekarang, dia mengirim kamu ke tempat yang jauh karena dia tidak bisa melindungi kamu." Lanjutnya.


"Dia mengirim ku ke sini sebagai bentuk perlindungannya, Mom," tukas Louisa yang membuat sang Ibu tampak kesal.


"Astaga, cinta mu sudah membuat kamu buta, Lou."


Louisa terkekeh kemudian berkata, "Karena itulah semua orang mengatakan love is blind."


...🦋...


"Dia melakukan semua itu demi putrinya, Simon," tegas Ethan. "Dia tidak mengenal Peter apalagi punya dendam pribadi pada Peter, jangan menyakitinya."


"Jangan menyakitinya?" pekik Simon emosi. "Dia membuat Peter sekarat, kau memintaku agar tidak menyakitinya?"


"Bagaimana jika Dante itu adalah kamu dan Angel itu adalah aku?" desis Ethan. "Bocah itu baru berusia enam tahun, Simon, Dante hanya sedang berusaha menyelamatkan putrinya karena hanya dia yang Angel punya."


Simon terdiam, ia mencoba memahami apa yang dijelaskan oleh Ethan. "Tak ada satu pun anak yang ingin kehilangan orang tuanya," lirih Ethan kemudian. "Dan tak ada satu pun orang tua di dunia ini yang mampu melihat anaknya menderita, begitu juga dengan Dante."


Kedua pria itu kini terdiam, Ethan kembali teringat pada orang tuanya, juga pada Louisa saat kehilangan ayahnya. Haruskah Angel yang malang merasakan apa yang Ethan dan Louisa rasakan?


Sementara Simon mencoba menenangkan hatinya yang bergemuruh, mencoba kembali memakai hati nuraninya.


"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Simon setelah sekian lama diam.


"Menyusun rencana menyelematkan Angel, dan juga mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan," tukas Ethan. "Mereka tahu lokasi kita, mungkin mereka akan menyerang kita lebih dulu."


"Tidak pernah ada yang melakukan itu sebelumnya," ujar Simon.

__ADS_1


"Pernah, kata kakek Marlon," bantah Ethan. "Tapi mereka semua bisa dihabisi dengan mudah, itulah kenapa setelah itu tak ada yang menyerang ke markas secara langsung."


"Maka kemungkinan sekarang mereka sedang merencanakan sesuatu, entah untuk memancing kita keluar atau menembus pertahanan kita."


...🦋...


"Menembus pertahanan mereka itu sangat tidak mungkin, kecuali kita punya pasukan dua atau tiga kali lebih besar dari mereka," kata Dexter pada Jose dan Amber.


Saat ini ketiga orang itu sedang menyusun rencana balas dendam pada Ethan.


"Lalu, haruskah kita memancing mereka keluar?" tanya Amber.


Ingatan Jose langsung terbayang pada kejadian di terowongan. "Aku rasa itu juga tidak mungkin," sahut Jose.


"Meskipun Ethan terlihat sendiri, tetapi dia tidak pernah benar-benar sendiri. Aku sudah punya pengalaman yang cukup baik untuk itu." Lanjutnya.


"Lalu kita harus apa sekarang?" Tiba-tiba Amber berteriak marah. "Kita tidak bisa masuk ke benteng mereka, kita juga tidak bisa memancing mereka keluar. Lalu apa kita hanya bisa berdiam diri seperti pengecut?"


"Tenang lah, Amber!" tegas Dexter. "Kita sedang mencari solusi yang terbaik."


"Solusi yang seperti apa? Sudah berhari-hari kita hanya terus memikirkan rencana tanpa menemukan titik yang jelas, apa sesulit itu membunuh Ethan Mayer?"


"Kau belum pernah menghadapinya secara langsung," tukas Jose. "Dia seperti malaikat maut saat membantai musuhnya, dan dia terlihat seperti teman malaikat maut saat dalam bahaya karena dia tidak juga mati meski sudah sering sekarat."


"Dia pasti punya kelemahan," kata Dexter.


"Louisa Rae, dia kelemahannya."


"Kau dan daddy sudah pernah gagal menggunakan gadis itu sebagai umpan," kata Amber. "Sekarang dia pasti melindungi gadis itu dengan lebih ketat."


"Dan kita tidak tahu di mana dia sekarang." Dexter menambahkan.


"Kita masih punya cara terakhir," tukas Amber kemudian. "Bekerja sama dengan semua musuh Ethan, musuhnya musuh adalah teman, bukan?" Amber berseringai saat memikirkan rencana licik itu.


"Jika kekuatan kita semua disatukan, pasti bisa menghancurkan Ethan."


"Ide yang bagus."

__ADS_1


__ADS_2