Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 19 - Teman Lama


__ADS_3

Seorang pelayan pria menyiapkan makanan untuk Ethan yang kini sudah mandi dan berganti pakaian, Peter dan Simon juga sudah bergabung di meja makan.


"Apa semuanya lancar selama aku pergi?" tanya Ethan yang mulai menyantap makanan di piring nya.


"Lancar, Tuan," jawab Peter.


"Ada apa dengan wajahmu, Simon?" Ethan menatap Simon yang tampak berbeda sejak kedatangannya.


"Peter membunuh anggota octopus yang masih sangat muda, Tuan Mayer," jawab Simon. "Aku khawatir itu menjadi masalah baru untuk kita."


"Ck!" Peter berdecak mendengar pengakuan temannya ini.


"Peter sudah bercerita, aku rasa itu menjadi pelajaran berharga bagi mereka." Ethan berkata dengan sangat dingin, seolah apa yang dilakukan Peter bukan hal yang berarti.


"Ethan!"


Ketiga pria itu menoleh saat mendengar suara cempreng Louisa.


Ethan terperangah, gadis kecil itu memakai kaos miliknya yang menjadi mini dress di tubuh Louisa.


"Ethan, apa bisa kita pergi keluar sebentar?" tanya Louisa sembari mendekati Ethan.


"Mau kemana, Nona Rae?" tanya Ethan dengan suara yang serak, pandangannya tak lagi fokus karena tubuh Louisa yang seolah menggodanya dalam balutan kaos kebesaran itu.


Oh Tuhan, gadis itu juga bertelanjang kaki. Menambah kesan seksi dan mungil dalam waktu yang bersamaan.


Bahkan, Peter dan Simon juga tak mampu berkedip melihat Nona muda ini.


Ethan yang menyadari kedua ajudannya menatap Louisa langsung memberikan isyarat agar mereka tak menatap gadis kecil itu. Alhasil, Simon dan Peter langsung kembali fokus pada makanan mereka.


"Celana dallam ku basah, aku tidak memakai celana sekarang. Kita harus membelinya," rengek Louisa dengan sangat manja.


Uhuk ... Uhuk


Simon dan Peter langsung tersedak makanan mereka saat mendengar apa yang dikatakan oleh Louisa, sementara Ethan hanya bisa menganga lebar.


"Astaga, Lou," desis Ethan antara kesal dan gemas.


Kini Simon dan Peter kembali menatap Louisa dari ujung kepala sampai kaki , bahkan kedua pria berusia empat puluh tahun itu tampak menelan ludahnya dengan susah payah.


"Jaga mata kalian atau aku akan mencongkelnya," geram Ethan sambil menodongkan garpu ke wajah Peter.


Setelah itu ia menarik Louisa ke kamarnya. "Ethan, mau kemana?" tanya Louisa.


"Cari celana," jawab Ethan dingin.


Sementara Peter dan Simon masih menganga lebar. "Aku rasa Tuan Mayer salah menculik orang," kata Simon.


"Aku juga berpikir begitu, tidak mungkin orang terpandang seperti keluarga Rae punya putri yang tidak punya otak begitu."

__ADS_1


Sementara di kamarnya, Ethan mengobrak-abrik lemari mencari sesuatu yang bisa dikenakan oleh Louisa.


"Kamu cari apa, Bodyguard? Memangnya kamu menyimpan celana dallam wanita?" tanya Louisa sambil garuk-garuk kepala.


Namun, Ethan enggan menjawabnya. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah celana training paling kecil miliknya.


"Pakai ini!"


"Ethan, aku mau celana dallam, bukan celana olah raga." Louisa protes kesal.


"Toko sangat jauh dari sini, Nona Rae, jadi pakai ini dulu. Besok aku akan membelikannya untukmu."


Louisa berdecak kesal, walaupun begitu mau tak mau ia tetap mengenakan celana Ethan karena ia tak punya pilihan lain.


Gilanya, gadis itu memakai celana tersebut di depan Ethan. Yeah, memang tidak memperlihatkan aset pribadinya sebab kaos yang dipakai Louisa sampai lututnya.


"Tidak bisa, Ethan, longgar." Louisa kembali merengek manja sambil mengangkat kaosnya dan memperlihatkan karet celana di perutnya yang memang longgar.


"Kau bisa mengikatnya, Nona Rae," ujar Ethan dengan suara yang semakin parau.


Ia merasakan sesuatu yang asing dan bergejolak dalam jiwanya, darahnya pun terasa panas dan jantungnya berdetak sangat cepat.


"Ikatkan!" pinta Louisa masih dengan nada manja.


Ethan tercengang, tetapi entah kenapa ia tak bisa menolak permintaan gadis yang sebenarnya musuhnya itu.


Tanpa sengaja jari Ethan menyentuh kulit Louisa yang membuat darah dua insan itu langsung berdesir hangat.


"Rasanya aneh," gumam Louisa.


"Apa?" tanya Ethan yang kini sudah berdiri tegak.


"Saat kau menyentuhku, rasanya aneh. Seperti ada sesuatu yang mengalir di darahku, terasa hangat." Louisa mengungkapkan dengan jujur, membuat Ethan merasa salah tingkah.


"Baiklah, sebaiknya kita makan sekarang."


...🦋...


"Yang kita takutkan terjadi." Nyonya Agatha gemetar saat sang suami menyebut nama Eduardo. "Dia kembali, dia mau menghancurkan Louisa-ku."


"Tidak, aku tidak akan membiarkan itu terjadi," seru Tuan Bertrand dengan tegas.


"Lagi pula Eduardo sudah mati, ini pasti orang lain yang mencoba memanfaatkan kita."


"Apapun itu ...." Tommy menyela. "Jangan sampai ada yang tahu bahwa Louisa menghilang bersama Bodyguardnya, atau orang-orang akan mengambil kesempatan ini untuk kepentingan mereka."


"Kau benar." Tuan Bertrand menghela napas lesu. "Lakukan apapun, Tommy, yang penting putriku pulang dengan selamat."


"Pasti!" Tommy menjawab dengan pasti. "Bagaiman? Apa kau bisa melacak nomor telfon ini?" tanya Tommy pada anak buahnya yang mencoba melacak nomor yang mengirim pesan pada Tuan Rae.

__ADS_1


"Tidak bisa, Tuan," jawab anak buahnya itu.


"Sial!" Tuan Bertrand menggeram.


"Apa kau tidak mencurigai Bodyguard pribadi Louisa? Dia yang membawa Louisa pergi," ujar Tommy kemudian.


"Yeah, bisa jadi dia pelakunya," ujar Nyonya Agatha. "Dia tampak berbeda dari Bodyguard lainnya."


Bersamaan dengan itu, ponsel Tuan Bertrand berdering dan tertera nama Bodyguard Ethan E Mayer di ponselnya.


"Ethan menghubungiku," seru Tuan Bertrand.


"Cepat jawab, kita akan melacak dari mana panggilannya," titah Tommy.


Tuan Bertrand langsung bertanya keberadaan Louisa setelah ia menjawab panggilan Ethan. "Louisa bersamamu 'kan Ethan? Kau di mana?"


"Aku ada di tempat yang seharusnya, Tuan Rae." Jawaban Ethan membuat ayah Louisa itu bingung, begitu juga dengan yang lain dan kecurigaan mereka terhadap Ethan semakin besar.


"Dasar pengkhianat!" geram Tuan Bertrand.


Terdengar suara tawa Ethan dari seberang telfon. "Kau yang mengajari dan menginspirasiku menjadi pengkhianat, Rae."


"Apa maksudmu, sialan? Siapa yang menyuruhmu, huh? Berapa mereka membayar mu?"


Kembali terdengar suara Ethan, kali ini lebih lantang.


"Aku adalah raja, aku membayar bukan dibayar," kekeh Ethan.


"Jangan basa-basi, sialan!" desis Tuan Bertrand .


"Ethan, di mana putriku?" tanya Nyonya Agatha dengan suara yang gemetar.


"Di tempat kau mengubur mengubur ayah dan ibuku." Ethan mendesis tajam yang membuat kedua orang tua Louisa itu semakin bingung.


"Ethan!" teriak Tuan Bertrand penuh emosi.


"Kalian sungguh tidak mengenaliku?" Lagi-lagi Ethan terkekeh. "Apakah secepat itu kalian melupakan teman lama kalian, hem? Eduardo, apa kalian melupakan sahabat baik kalian itu?"


Tuan dan Nyonya Rae begitu juga dengan Tommy tampak terkejut mendengar kata-kata Ethan.


"Siapa kau? Bagaimana kau tahu Eduardo?" desis Tommy.


"Namaku Ethan E Mayer, Tommy," jawab Ethan.


Tommy terkejut, bagaimana bisa Ethan mengetahui namanya? Hingga pernyataan Ethan selanjutnya membuat mereka semua tercengang.


"Ethan Eduardo Mayer."


...🦋...

__ADS_1


__ADS_2