Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 12 - Pahlawan Louisa?


__ADS_3

Ethan merasa ada yang tak beres dengan sopir Louisa karena saat terdengar suara kendaraan dari sekitarnya, ia sangat yakin pria itu sedang berada di jalan padahal biasanya sopir itu akan selalu menunggu Louisa dan dirinya.


Tanpa fikir panjang Ethan langsung mengejar Louisa menggunakan motor yang entah punya siapa, untuk menyalakannya? Tentu saja Ethan tak perlu kunci karena itu adalah hal yang sangat mudah baginya.


Ethan melajukan mobilnya dengan sangat cepat dan betapa terkejutnya dia melihat mobil Louisa di kerumuni dan ditembaki oleh beberapa orang.


Tanpa ada rasa takut sedikitpun Ethan langsung mengeluarkan kedua pistolnya dan mulai menembaki mereka dengan memababo buta tetapi selalu tepat mengenai sasaran. Bahkan, peluru Ethan berhasil menembus leher mereka.


Louisa yang melihat para penjahat itu terluka semakin panik, dia begitu juga shock bahkan seluruh tubuhnya sampai mati rasa. Bahkan ada yang darahnya mengucur deras dari lehernya dan ada juga yang bersandar lemas ke pintu mobil hingga darahnya sampai menodai kaca mobil Louisa.


"Ya Tuhan, Ethan bisa mati di tangan mereka," gumam si sopir karena kini sisa penjahat itu mulai merundung Ethan dengan tembakannya.


Mereka semua mendekati Ethan dan terlihat sangat bernafsu untuk menghabisi Bodyguard itu.


Namun, Ethan masih tak terlihat takut seolah ia sudah biasa berada di tepi jurang kematian seperti ini. Ethan melajukan motornya dengan sangat cepat sambil merunduk untuk menghindari tembakan.


"Ah, sial!" geramnya saat satu peluru berhasil melesat dan melukai lengan kanannya hingga Ethan jatuh dari motor.


Dengan kesal, Ethan sengaja mendorong motornya itu kemudian menemabaknya berkali-kali hingga motor itu meledak dan tentu saja para penjahat itu terpental bersamaaan.


"Ahhh!"


Louisa berteriak histeris saat mendengar suara ledakan itu, ia menutup kedua telinga juga matanya rapat-rapat. Hingga tiba-tiba terdengar gedoran di kaca mobilnya, meski takut, Louisa memberanikan diri membuka mata.


"Ethan!" teriak Louisa, ia langsung membuka pintu dan berhambur ke pelukan Ethan.


"Tenang lah, Nona Rae, kau aman," ucap Ethan dengan sangat lembut.


Sopir Louisa juga keluar dari mobil dan saat itu juga Ethan langsung menodongkan senjata pada pria itu. "Kau menculiknya? Kau berkhianat?" desis Ethan bahkan ia sudah bersiap menarik pelatuk tetapi Louisa segera mencegahnya.


"Tidak, Ethan! Itu tidak benar!" seru Louisa. "Aku memang sengaja pergi tanpamu, aku ingin mengerjai mu," ucap gadis itu.


"Itu benar," sambung si sopir.


DORRR


"Aahhh, Mommy!"

__ADS_1


Louisa kembali berteriak saat mendengar suara tembakan, bersamaan dengan itu Ethan membawa Louisa menunduk sehingga tembakan itu tak mengenai mereka.


"Sial!" geram Ethan karena masih ada beberapa penjahat itu yang masih hidup meski sudah sekarat.


Ethan langsung memberondong mereka semua dengan tembakan yang tiada henti, sementara Louisa hanya bisa berteriak ketakutan sambil menutup telinganya.


"Sudah selesai, Nona Rae," kata Ethan dengan tenangnya setelah ia membuat beberapa orang mati terkapar.


Louisa yang menutup telinganya tak mendengar apa yang dikatakan Ethan hingga pria itu harus menarik tangan Louisa dari telinganya. "Sudah selesai, Nona Rae, sebaiknya sekarang kau pulang," ujar Ethan.


Louisa tak merespon, tatapannya tertuju pada mayat-mayat yang tergeletak di aspal dengan genangan darah di bawah tubuh mereka. Tiba-tiba Louisa merasa mual, pusing, apalagi bau amis menguar dengan sangat sempurna dari darah mereka. Tak tahan dengan semua itu, Louisa jatuh pingsan.


Beruntung Ethan segera menangkap tubuh lemas gadis kecil itu. "Lemah sekali," cibir Ethan.


Sementara sopir Louisa pun hanya tercengang, sebab Ethan lebih terlihat seperti pembunuh bayaran dari pada seorang Bodyguard yang ditugaskan menjgawa seorang gadis.


Tanpa Ethan sadari, ada yang mengawasinya dari jauh dan pria itu tampak sangat marah. "Sial!" geram pria itu.


"Hanya satu Bodyguard, bagaimana bisa membunuh enam anak buahku kurang dari sepuluh menit? Sialan! Siapa dia?


...🦋...


"Apakah dia sedang perjalanan bisnis atau sedang melakukan misi rahasia?" tanya Alberto.


"Tak ada yang berani mempertanyakan apa yang dia lakukan, bahkan jika itu malaikat sekalipun," kekeh Simon.


"Anak mud itu terlalu sombong, padahal di dunia ini tidak ada yang abadai termasuk kejayaannya di dunia bawah tanah." Alberto membuka sebuah koper yang berisi beberapa barang yang mereka minta.


"Kau benar, di dunia ini tak ada yang abadi. Termasuk nyawamu, jadi pastikan barang itu sesuai yang tuan Mayer mau." Peter memeriksa keaslian bubuk putih itu, ia mencium dan menjilatinya. "Okey, ini asli," imbuhnya.


"Padahal barang yang aku kirim hanya kurang satu sendok, seharusnya itu tidak masalah," ujar Roberto. "Aku benar-benar tidak bermaksud menipu Ethan sedikitpun.


Rekan kerja Ethan dalam menyelundukan narkoba itu sungguh tak mengerti kenapa bisa ada manusia yang ingin semuanya sempurna seperti Ethan.


"Kenapa bisa kurang satu sendok?" tanya Simon.


"Salah satu anak buahku mengambilnya, dia bilang sangat membutuhkan itu," jawab Roberto. "Aku harap kalian tidak mempermasalahkan itu lagi, apalagi aku sudah menggantikan berkali-kali lipat."

__ADS_1


"Yang mana anak buahmu?" tanya Peter sembari membuka kunci pistolnya.


Roberto melirik pistol Peter yang kini sudah aktif, jika sekali saja pelatuknya di tarik, maka akan ada kepala salah satu dari mereka yang meledak. Dan itu membuat Roberto menyesali pengakuannya, tak seharusnya ia memberi tahu Peter kemana satu sendok barang itu.


"Dia sedang tidak ada di sini," jawab Roberto.


Namun, Peter dan Simon tidak bodoh. Ia memperhatikan beberapa anak buah Roberto yang ada di ruangan itu dan Peter tersenyum miring saat melihat pria remaja yang tampak tegang.


Peter mendekati pria itu dan bertanya," Berapa usiamu, Nak?" tanyanya.


"Tu-tujuh belas tahun," jawab pria itu.


"Peter, tinggalkan dia!" seru Roberto dengan tegas. Namun, Peter tak perduli.


"Seharusnya kau sekolah, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Peter lagi.


Anak itu tak bisa menjawab, ia gemetar, bahkan keningnya sampai berkeringat. Peter yang melihat itu tertawa dan ....


DOORR


Satu butir peluru berhasil menembus kepala anak muda itu sehingga nyawanya terenggut di detik itu juga. Semua anak buah Roberto langsung menodongkan senjatanya pada Peter dan Simon sementara Roberto berdecak kesal.


"Astaga, Peter, dia masih anak-anak." Roberto menggeram tertahan.


"Aku tahu," jawab Peter tenang sambil mengelap wajahnya yang kecipratan darah. "Karena itulah aku mengirimnya ke surga, kasihan jika harus hidup di neraka seperti ini apalagi dia sudah kecanduan."


Salah satu anak buah Roberto terlihat sangat marah melihat apa yang dilakukan Peter, matanya memerah dan ia sudah bersiap menarik pelatuknya tetapi Peter justru dengan tenangnya berkata, "Kalian buat kulit kami tergores sedikit saja, Tuan Mayer akan membuat kalian semua jadi abu."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Peter dan Simon segera pergi. Sementara pria yang tadi langsung menghampiri bocah yang tewas dan langsung memeluknya. "Kenapa kau biarkan adikku mati, Tuan Roberto?" geramnya.


"Kita tidak bisa melawan," jawab Roberto lirih. "Jose, maafkan aku."


"Aku akan membunuh mereka!" teriak Jose dengan air mata yang berderai hingga bercampur dengan darah sang adik.


...🦋...


__ADS_1


__ADS_2