
"Pesta belum selesai, ke mana mereka akan pergi?" gerutu Simon yang melihat sang pengantin pergi begitu saja.
"Tentu saja mereka harus melakukan ritual," kekeh Filly yang penting.
Sementara itu, Ashley dan Peter kini masuk ke kamar Peter yang sudah di hias layaknya kamar pengantin.
Meskipun sempat menyandang gelar perjaka tua, bahkan mendapatkan tuduhan pria impotent, Peter mengerti apa yang akan terjadi malam ini.
"Kau gugup?" tanya Ashley yang merasakan tangan suaminya itu sedikit genggam.
"Hem," jawab Peter dengan wajah yang memerah.
"Aku juga, tapi ini akan menjadi malam yang indah." Ashley menuntun Peter ke tepi ranjang, kemudian ia mendudukkan pria itu di sana.
"Apa kau tidak ingin mandi lebih dulu?" tanya Peter dengan suara yang bergetar, apalagi kini jari jemari Ashley mulai membuka jas Peter.
"Tidak perlu," jawab Ashley. "Aku tidak bau, kan?"
Peter menggeleng dengan cepat, Ashley tidak pernah bau, wanita itu selalu harum bagi Peter.
"Kau wangi, seperti aroma mawar." Peter berkata sambil menunduk, memperhatikan jari-jari Ashley yang kini membuka kancing kemejanya satu persatu.
Peter menahan napas, ia tegang, bahkan ini lebih menegangkan dari pada saat hendak menyerang musuh.
Ashley mengulum senyum melihat reaksi Peter, bahkan kini dengan sengaja ia menyentuh dada pria itu dengan jarinya, membuat Peter terkesiap.
Ashley menunduk, ia mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu kemudian berbisik dengan sensual. "Bernapas lah, Sayang,"
Secara spontan Peter menghembuskan napasnya, bersamaan dengan itu Ashley mendorong dada Peter pelan, hingga pria tampan tetapi sedikit tua itu kini terlentang di atas ranjang yang ditaburi kelopak bunga mawar.
"Kau sangat tampan, apa kau tahu?" Ashley menyusuri dada hingga perut Peter yang memiliki beberapa bekas luka dengan jarinya.
Ia tidak terkejut melihat itu, Louisa sudah bercerita tentang kehidupan mereka selama ini dan Ashley tetap mencintai Peter.
"Aku heran, bagaimana bisa kau masih tidak punya pasangan sampai sekarang? Kau tampan, seksi, kharismatik, dan sorot matamu sangat tajam, seperti anak panah yang siap merobek hati siapa saja yang melihatnya."
Peter melayang mendengar pujian sang istri, telinganya pasti sudah memerah sekarang.
Tangan Ashley kini bergerak semakin nakal, melepas ikat pinggang Peter kemudian melepas kancing dan resleting celalannyaa.
"Aduh!" pekik Peter saat tiba-tiba Ashley menggenggam senjatanya yang sudah membengkak itu.
"Kenapa?" kekeh Ashley.
"Ngilu," cicit Peter.
Ashley pun menurunkan celana Peter dan seketika yang berdenyut dan nyilu itu bangkit, begitu gagah. Membuat Ashley tak bisa berkata-kata, ia hanya bisa melongo dan meneguk ludahnya.
"Jangan di lihat begitu," lirih Peter sembari hendak menutupi aset berharganya itu, yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun. Ia malu.
Namun, tiba-tiba....
"Ah!" Ia justru merintih saat tangannya menyentuh pusaka yang entah bagaimana tiba-tiba sensitif itu.
"Kenapa, Sayang?" tanya Ashley, merasa gemas dengan reaksi Peter.
"Tiba-tiba sensitif saat aku menyentuhnya," adu Peter. "Padahal selama ini tidak apa-apa."
__ADS_1
"Apa kau belum pernah menyentuhnya untuk ... memuaskan hasratmu?" cicit Ashley.
"Tidak." Peter menjawab dengan jujur. "Aku tidak pernah berhasrat selama ini."
Ashley kembali dibuat tercengang, berpikir betapa beruntung dirinya mendapatkan perjaka suci dan murni ini. Yang bahkan tak pernah menodai dirinya sendiri.
Ashley menunduk dan ia mencium pipi Peter dengan mesra, yang seketika membuat Peter menutup matanya.
Meskipun mereka sudah bersama selama beberapa hari, tapi tentu saja mereka belum sempat berciuman apalagi melakukan hal yang lain. Keduanya dibuat sibuk oleh Louisa untuk mengurus pesta ini.
"Kau juga belum pernah berciuman, kan?" tanya Ashley sembari menyentuh bibir Peter dengan jemarinya.
"Sudah," kata Peter yang membuat Ashley menaikkan sebelah alisnya. "Louisa pernah menciumku di sini." Ia menunjuk pipinya, di mana Louisa memang pernah mengecupnya di sana beberapa kali.
"Lalu kalau di sini?" Ashley menunjuk bibir Peter.
"Belum," jawab Peter lirih.
Ashley memekik girang, ini pertama kalinya ia akan memperawani bibir seorang pria dan rasanya sungguh menyenangkan, pikir Ashley.
Ia pun mulai mengecup bibir Peter dengan lembut, hingga menghadirkan percikan gairah dalam jiwa pria itu. Kecupan itu kini beralih pada ciuman yang mesra, dan Peter pun mengikuti kata hatinya, yaitu membalas ciuman sang istri.
Ciuman itu kini beranjak pada tingkat yang lebih tinggi, pada lumaatan, hisapan dan gigitan. Meskipun masih kaku, tetapi jiwa lelaki Peter menuntun cukup baik.
Keduanya saling mencumbu dengan semangat dan mesra, hingga kedua insan itu terpaksa berhenti saat butuh waktu untuk bernapas.
Napas mereka memburu, dengan jantung yang berdetak cepat dan tatapan yang kian sayu. Gairah mulai menggulung mereka secara perlahan.
Peter menatap bibir Ashley dengan nanar, seolah ia masih merasa kurang puas menikmatinya. Namun, tiba-tiba Ashley berdiri, membuat Peter tampak kecewa. Berpikir Ashley sudah selesai.
Peter pun segera bangkit, ia membantu Ashley membuka gaun pengantinnya. Tidak ada gerakan sensual seperti di film-film yang Ashley tonton, pergerakan Peter seperti pergerakan Ibu-ibu yang membuka baju anaknya saat hendak memandikan mereka.
Namun, hal itu tetap menimbulkan sensasi luar biasa di hati dan jiwa Ashley.
"Wow!" seru Peter takjub saat melihat tubuh sang istri. "Sangat indah, seperti boneka."
"Sisanya?" Ashley memberi kode karena Peter masih tak melepaskan dua benda terakhir yang menutupi bagian istimewa tubuhnya.
"Haruskah aku yang melakukannya?" cicit Peter. Ashley mengangguk sambil tersenyum.
Dengan tangan gemetar, Peter pun mencoba membuka ke dua kain itu secara bergantian. Dan seketika tubuh Peter panas dingin saat melihat tubuh sang istri yang begitu memanjakan mata.
Peter hanya bisa meneguk ludahnya, ia baru tahu bahwa tubuh wanita ternyata sangat indah tanpa pakaian.
Ashley maju, dan entah kenapa Peter justru mundur hingga ia kembali terjatuh ke tepi ranjang. Istrinya itu terkekeh dan berkata, "Naik ke atas, Sayang, biar lebih nyaman."
Peter patuh, ia naik ke atas ranjang dan ia merebahkan diri di sana, menunggu Ashley meng-eksekusi dirinya.
Ashley juga sangat gugup, meskipun ia sedikit agresif tapi ini adalah pengalaman pertamanya, jadi dia cukup bingung sebenarnya dengan apa yang harus dia lakukan.
Tapi, Ashley tetap harus memimpin lebih dulu. Jika harus meyerahkannya pada Peter, maka malam pertama mereka bisa kacau.
Ashley naik ke atas tubuh Peter dan seketika pria itu memekik, bahkan secara spontan meremas pinggul Ashley.
"Sakit?" tanya Ashley.
"Enak," jawab Peter malu-malu.
__ADS_1
"Tentu saja, kau merobek dan aku dirobek," gumam Ashley.
Ia pun menurunkan tubuhnya dengan perlahan, hingga seluruh senjata suaminya itu tenggelam dan menembus pertahanan Ashley.
Ashley memekik tertahan, rasanya sungguh sakit. Namun, rasa sakit itu teralihkan saat ia melihat wajah Peter yang tampak sangat menikmatinya. Pria itu meringis, mendesaah, dan memejamkan mata.
Ashley segera menyeka air mata yang entah kenapa keluar begitu saja, mungkin karena rasa sakit itu.
Selama beberapa saat, Ashley diam tetapi Peter justru bergerak.
"Bersabar lah sebentar, Sayang," pinta Ashley. "Mereka butuh waktu untuk saling menyesuaikan diri."
"Rasanya ... sangat enak," lirih Peter. "Sampai terasa ke ubun-ubun dan ke ujung kaki."
Ashley tergelak mendengar pengaduan polos suaminya itu.
"Aku akan membuatmu enak terus seperti ini." Kini Ashley mulai menggerakkan tubuhnya dengan pelan, dan Peter pun mengikuti. "Asal kau menjadi suami yang baik, yang akan selalu bersamaku."
Peter mengangguk, dan tiba-tiba ia memegang pinggul Ashley cukup keras. "Aku tidak leluasa bergerak," kata Peter.
Ashley pun mengubah posisinya menjadi di bawah, dan membiarkan Peter ada di atas.
Dengan semangat Peter langsung memacu dirinya, bahkan ia bergerak sangat cepat dan tidak terkontrol. Membuat Ashley hanya bisa menjerit.
"Pelan-pelan, Sayang," pinta Ashley. "Ini kali pertamaku, jadi aku belum terbiasa."
Peter meringis, ia pun menurunkan ritme pergerakannya.
Kini, mereka menemukan ritme yang pas, tidak cepat dan tidak lambat.
Pegerakan itu semakin lama semakin intens, tubuh keduanya pun sudah basah karena cucuran keringat.
Peter tak pernah menyangka, bergerak begitu saja membuatnya lelah dan berkeringat. Padahal, terkadang ia masih tak merasa lelah saat menghadapi tiga atau empat musuh. Tapi kenapa ... ia merasa tenaganya terkuras saat menghadapi Ashley seorang?
Dan kenapa ia tak bisa berhenti meski ia merasa sangat lelah?
Ini terlalu indah untuknya, padahal ia hanya bergerak maju mundur dan naik turun. Tapi rasanya ia seperti menari di atas awan.
Hingga akhirnya, tiba-tiba ada gelombang yang datang menghantam mereka. Peter menggeram, sementara Ashley hanya bisa melenguh panjang.
Napas Peter memburu dan ia jatuh di atas tubuh sang istri. Napasnya tersengal, seluruh tubuhnya bergetar dan ia merasa tak punya tenaga.
"Aku ... sangat lelah," lirih Peter yang membuat Ashley hanya bisa mengulum senyum, ia juga sangat lelah dan tubuhnya terasa pegal, apalagi beberapa kali Peter lepas kontrol.
"Tapi aku suka," ucap Peter.
Tiba-tiba ia mendongak, menatap Ashley dengan dalam dan ia kembali mengecup bibir istrinya itu.
Ashley membalasnya dengan lemah, dan beberapa saat kemudian Peter menarik diri kemudian ia berkata, "Bisakah kita melakukannya lagi? Aku benar-benar suka rasanya."
Ashley terkekeh, ia membelai wajah Peter, mengusap keringat di sekitar wajah pria itu. "Boleh, Sayang, tapi setidaknya kita harus istirahat 5 atau 10 menit, okay?"
Peter tampak kecewa mendengar jawaban itu, tetapi saat menyadari sang istri juga pasti sangat lelah, ia pun mengangguk pasrah.
"Baiklah, kita istirahat 10 menit. Setelah itu lakukan lagi, istirahat lagi 10 menit dan lakukan lagi. Begitu seterusnya, okay?"
Ashley tertawa dan mengangguk, meski mungkin dirinya akan pingsan nanti. Tapi tidak apa-apa, yang penting suaminya senang dan puas.
__ADS_1