
"Ethan?"
Louisa berbisik tidak percaya saat melihat pria yang menyerupai Ethan itu kini ada di kamarnya. Louisa mengucek matanya, ia mengumpulkan seluruh kesadarannya dan kini ia sadar, pria itupun memang Ethan.
Seketika kedua bola mata Louisa membulat sempurna apalagi saat ia melihat Ethan melepas jaket dan sepatunya.
"Bagaimana kau bisa ada di sini?" pekik Louisa yang langsung beranjak duduk.
"Aku lelah sekali, My girl," ujar Ethan dengan tenangnya sembari merangkak naik ke atas ranjang.
Tentu saja Louisa langsung melompat turun dari ranjang dan ia segera menyalakan lampu kamarnya. "Ethan?" lirih Louisa. "Kau sungguh Ethan, bukan?"
"Apa aku terlihat seperti bukan Ethan?" kekeh Ethan sembari menarik Louisa hingga gadis itu jatuh di pelukannya.
"Tapi bagaimana kau bisa ada di sini? Oh Tuhan." Louisa terlihat panik, tidak percaya, sekaligus senang karena akhirnya kini ia kembali melihat Ethan setelah sekian lama ia ditinggalkan.
"Karena aku merindukanmu, My Girl, aku tidak bisa menahan diri lagi." Ethan menarik dagu Louisa, ia mencoba memangut bibir sang Gadis untuk melepaskan rasa rindunya. Namun, Louisa menolak dan langsung mendorong Ethan menjauh.
"Kenapa kamu selalu seperti ini, huh?" teriak Louisa yang merasa kesal. "Datang dan pergi sesuka hati, kau pikir aku ini apa?"
Mata Louisa tiba-tiba berkaca-kaca, antara bahagia karena melihat Ethan kembali atau sedih atas perilaku semena-mena pria itu.
"Hey, maafkan aku." Ethan mencoba menyentuh Louisa, tetapi gadis itu kembali menolak. "Sweetheart, aku mohon maafkan aku." Ethan berkata dengan sangat lembut. "Ada masalah di markas, Peter terluka, oleh karena itu aku langsung pergi."
"Tapi kau bisa memberi tahuku, atau menghubungiku, atau setidaknya meninggalkan pesan singkat untukku." Louisa kembali berteriak penuh emosi. "Apa kau tahu aku hampir mati karena mengkhawatirkan mu? Aku selalu bertanya-tanya apa yang membuat mu pergi, aku bahkan tidak tahu kau masih hidup atau sudah mati!"
Air mata Louisa tumpah, ia mulai terisak tanpa perduli apakah ibunya akan terganggu atau tidak. Yang Louisa inginkan saat ini hanya lah melampiaskan rasa kesal nya pada Ethan.
Sementara Ethan hanya bisa bungkam mendengar penuturan Louisa, ia tersentuh atas cinta sang gadis, sekaligus ia merasa bersalah karena sudah membuatnya khawatir.
"My girl ...." Ethan kembali mencoba menarik Louisa ke pelukannya, kali ini gadis itu tak menolak. "Maafkan aku, aku janji lain kali akan meninggalkan pesan untukmu, Hem."
Louisa enggan menjawab, ia hanya menyeka air matanya dengan kasar. "Aku mohon berhenti menangis, nanti ibumu terbangun," bujuk Ethan sembari mengusap sisa air mata di pipi Louisa.
__ADS_1
Louisa melirik jam dinding, ia terkejut karena sekarang sudah jam 4 pagi. Padahal, Louisa merasa baru menutup mata saat tiba-tiba Ethan masuk ke kamarnya.
"Lebih baik sekarang kita tidur, okay?" Ethan kembali membujuk. Namun, Louisa masih enggan menanggapi. Ia mendorong Ethan menjauh darinya, setelah itu Louisa merebahkan diri di ujung ranjang.
Ethan mendekat, ia memeluk Louisa dari belakang sembari mengecup kepala gadisnya itu dengan lembut. "Maafkan aku, Lou, aku janji setelah ini tidak akan membuat kamu khawatir lagi," bisik Ethan.
"Lou, tolong jawab aku," rengek Ethan. "Jangan marah lagi padaku, ya."
"Hem," sahut Louisa.
"Sungguh? Kau tidak akan marah lagi?" tanya Ethan dengan girang.
"Hem." Louisa hanya menyahut dengan gumaman singkat, ia memejamkan mata dan menikmati rasa hangat yang diberikan oleh pelukan Ethan. Bahkan, Louisa juga menghirup aroma pria itu dalam-dalam, aroma yang sudah seperti aroma terapi, mampu membuat perasaan Louisa tenang.
Ethan tersenyum, ia semakin mendesakkan tubuhnya ke tubuh Louisa, ia juga menghirup aroma manis dari tubuh gadisnya itu. Aroma yang selalu ia rindukan, aroma yang bahkan membuat jiwanya bergetar.
Ethan merasa sangat merindukan Louisa, apalagi setelah ia melihat foto-foto gadis itu bersama seorang pemuda, keinginan untuk bertemu Louisa semakin tak bisa ia bendung.
Alhasil, Ethan ikut Andres ke Madrid dan tentu dia juga sudah mengembalikan Ed ke rumah orang tuanya. Setelah Ethan memberikan sedikit pelajaran, tentunya.
Setelah sekian lama, akhirnya kini Ethan bisa tidur dengan tenang. Di sana, Peter sudah siuman sehingga ia tak perlu khawatir lagi. Sedangkan di sini, Ethan memeluk Louisa, kekasih hati yang sudah menguasai jiwanya.
Perlahan, Louisa mulai memejamkan mata karena ia pun merasa tenang dan senang dengan keberadaan Ethan yang sedang memeluknya sekarang.
Saat pagi menjelang, Ethan bangun lebih dulu sementara Lousia masih terlelap. Wajah tenang gadis itu membuat Ethan merasa gemas, hingga ia tak bisa menahan diri untuk tidak mencium bibirnya.
Ethan menyapukan bibirnya di permukaan bibir Lousia, rasanya masih sama, pikir Ethan, manis dan lembut.
Louisa yang merasa terganggu dengan aksi Ethan itu langsung membuka mata. "Selamat pagi," sapa Ethan dengan senyum sumringah. Namun, Lousia hanya mendelik, ia memasang wajah dinginnya membuat Ethan merasa gemas.
"My girl, kau akan ke sekolah hari ini?" tanya Ethan untuk mencairkan suasana hati Louisa.
"Iya," jawab Louisa ketus sembari merangkak turun dari ranjang, setelah itu ia menarik Ethan turun agar ia bisa membereskan ranjangnya.
__ADS_1
"Aku akan mengantarmu, nanti kita makan siang bersama," tukas Ethan sembari bergelanyut manja pada Lousia.
"Tidak!" Lousia menolak dengan tegas, membuat Ethan langsung merasa sedih.
"Kenapa? Kau masih marah?" rengeknya.
"Tidak!" Louisa memberikan jawaban singkat.
"Lalu kenapa kau tidak mau aku ikut?"
Lousia hanya melirik pria itu dengan tajam sebelum akhirnya ia bergegas ke kamar mandi. Ethan hendak menyusul, tetapi Louisa langsung mengunci pintu dari dalam.
"Lou, apa kau sudah mandi?"
Yeah, Ethan itu pertanyaan absurd tetapi ia hanya ingin terus berbicara dengan gadisnya itu.
"Iya!" Louisa menjawab dengan nyaring.
"Apa boleh aku bergabung? Aku juga ingin mandi, My girl," pinta Ethan.
"Tidak."
Ethan mengernyit mendengar jawaban Lousia yang sejak tadi hanya iya dan tidak, apalagi nada bicaranya begitu ketus.
"Lou?" panggil Ethan dengan lembut bahkan setengah merengek. "Jangan ketus saat berbicara padaku, ya. Aku merasa sedih." Ethan berkata dengan jujur. "Aku merasa kau masih marah padaku jika terus ketus begini." Lanjutnya.
Di dalam kamar mandi, Louisa hanya mendelik sambil menggumam. "Biar kau tahu rasanya digantung, diabaikan. Dasar kekasih menyebalkan!"
Ethan langsung membersihkan diri, hari ini ia harus pergi lebih cepat ke sekolah karena Grecia memintanya datang lebih cepat.
Sementara itu, Ethan yang masih diabaikan oleh Louisa memilih turun ke bawah. Wajah Ethan tampak lesu, seperti anak-anak yang tak jadi dibelikan mainan oleh orang tuanya.
Saat Ethan hendak mengambil air minum, tiba-tiba ada Nyonya Agatha datang dan langsung memukul kepalanya menggunakan sapu.
__ADS_1
"LOUISA, ADA MALING DI RUMAH!"