
"London?" pekik Ethan yang saat ini di hubungi oleh Peter, di beri tahu bahwa kemungkinan besar Angel ada di London.
"Iya, orang-orang itu dari London, aku bahkan sudah mencari tahu identitas mereka." Peter menjawab dengan sangat yakin, tetapi untuk pertama kali nya Ethan tidak merasa puas dengan hasil kerja keras Peter karena ia membutuhkan kabar Louisa sekarang.
"Lalu bagaimana dengan Louisa, apa kau bisa memastikan apakah dia di London atau tidak?" tanya Ethan dengan tegas.
Tak terdengar jawaban Peter selama beberapa saat, membuat Ethan menghela napas berat. Untuk saat ini, ia tidak bisa asal terbang ke London, takut ternyata Louisa ada di kota atau negara lain. Itu akan sangat membuang waktu.
"Suruh anak buah kita yang di London mencari Angel sampai ketemu, dan kalian lanjutkan pencarian pada Louisa!" titah Ethan setelah itu ia memutuskan sambungan telpon nya.
Ethan menggeram kesal, bahkan ia hampir melempar ponsel nya itu. Dada nya semakin bergemuruh, masih bingung langkah mana yang harus ia ambil. Kanan, atau kiri?
Ethan berpikir, bisa jadi mereka membawa Angel ke London untuk mengalihkan perhatian Ethan dan yang lain nya, sementara Louisa mungkin akan terjebak di tempat yang lain.
Yeah, cara pandang dan cara berpikir Ethan memang selalu lebih luas dan lebih panjang. Meskipun tanpa ia sadari, terkadang itu lah yang membuang waktu berharga nya.
"Aku mohon, Tuhan!" lirih Ethan. "Berikan petunjuk-Mu di mana istri ku sekarang, jangan sampai aku membakar kota Moscow dan London untuk menemukan istri ku!" Ia mengepalkan tangan nya, sorot mata nya begitu tajam, wajah nya tegang. "Aku benar-benar akan membakar kedua kota itu jika aku tidak bisa menemukan Louisa!"
...🦋...
"Gelang mu bagus," ucap Louisa saat melihat gelang kaki yang di pakai oleh Angel.
Angel pun menunduk guna melihat gelang itu, kemudian ia tersenyum teringat saat ayah nya mengatakan itu adalah jimat keberuntungan yang di berikan oleh sang Ibu.
"Ini dari ibu ku, kata nya jimat keberuntungan," jawab Angel.
Seketika Lousia semakin merasa kasihan melihat gadis kecil itu, apalagi saat membayangkan ibu dan ayah nya pasti sangat khawatir. Mengingatkan Louisa pada orang tua nya yang selalu mengkhawatirkan Lousia.
Bahkan, mendiang ayah nya yang dulu super sibuk, sampai membuat Louisa membenci nya, tetapi tetap saja sangat mencintai Lousia. Sampai menyewa bodyguard terbaik untuk selalu melindungi nya.
Bodyguard?
Mengingat satu kata itu kembali mengingatkan Louisa pada Ethan, serta alasan ayah nya dulu menerima Ethan sebagai bodyguard. Salah satu alasan nya karena Ethan mantan anggota militer.
"Oh Tuhan, apa mungkin dia putri teman Ethan?" batin Louisa.
__ADS_1
"Apa kau tahu sesuatu tentang ayah mu, Angel?" tanya Louisa kemudian. "Apa kau tidak bertanya-tanya bagaimana bisa kamu berakhir di sini?"
Angel seketika terdiam, wajah nya murung dan sorot mata nya tampak sedih. Menyadari hal itu, Louisa seketika merasa bersalah dan menyesali pertanyaan nya. Padahal sejak tadi Angel terlihat begitu tenang meski ia mungkin akan mati sebentar lagi.
"Maafkan aku, Angel," ucap Louisa dengan lirih. "Aku tidak bermaksud membuat mu sedih."
"Sebenarnya aku sangat takut," lirih Angel. "Beberapa hari yang lalu ayah ku menitipkan ku ke panti asuhan, dia menghilang dan aku berpikir dia pergi karena aku selalu sakit dan selalu masuk rumah sakit. Aku tahu, aku bisa mati kapan saja karena penyakit ku."
Hati Lousia seperti di cubit mendengar pengakuan Angel. "Itu tidak benar," sanggah Louisa. "Ayah mu tidak akan pernah meninggalkan mu dalam keadaan apapun." Lanjutnya sembari mengingat mendiang ayah nya sendiri. Yang sudah menjadi monster kematian bagi Ethan, tetapi tetap menjadi malaikat bagi diri nya.
"Aku tahu," sahut Angel yang kini tampak lebih tegar. "Ayah ku pergi untuk melakukan sesuatu bersama teman malaikat nya kata ayah, dan kemarin siang dia kembali membawa kabar baik."
"Aku harap kau benar-benar bisa pergi ke Singapura," kata Louisa yang kini memilih mengikuti cerita Angel, bertindak seolah ia percaya pada cerita gadis kecil itu. "Dan aku akan mengunjungi mu suatu hari nanti."
Angel hanya mengulum senyum dan mengangguk, bersamaan dengan itu, pintu kembali terbuka dan pria menyeramkan tadi kembali datang.
Pria itu kini membawa mangkuk yang entah isi nya apa, ia juga membawa air. Membuat Lousia langsung menelan ludah nya. Ia merasa sangat haus dan lapar.
Namun, pria itu hanya memberikan makanan dan minuman tersebut pada Angel. Beda hal nya dengan Lousia yang menolak makan, Angel kini justru makan dengan lahap.
"Aku juga lapar," tegas Lousia, tetapi pria itu tak mengindahkan nya.
"Aku mohon, aku sangat lapar," rengek Louisa memelas.
Pria itu mendekati Lousia, mencengkeram pipi nya kemudian memaksa Lousia minum air putih. Meski sedih dengan perlakuan itu, tetapi Louisa merasa lega setidaknya rasa dahaga nya telah hilang.
Angel yang melihat hal itu tampak sedih dan takut, juga merasa kasihan pada Louisa apalagi ia tahu Lousia sudah di pukul.
"Aku bersumpah akan meminta Ethan memotong tangan mu!" geram Lousia.
Pria itu tak menanggapi, ia justru pergi ke luar dan tak berselang lama seorang wanita datang. Membuat Lousia bingung dan bertanya-tanya, siapa lagi manusia itu?
Wanita itu membawa ponsel nya dan merekam Louisa sambil tersenyum sinis.
"Aku dengar kau kekasih Ethan," sinis wanita tersebut yang kini mencengkeram pipi Lousia.
__ADS_1
"Bukan," bantah Louisa. "Aku istri nya!"
Wanita itu seketika tergelak, kemudian ia kembali menampar Louisa sebanyak dua kali dan tentu ia merekam kejadian itu.
Kali ini Louisa tidak ingin menangis, ia mencoba menahan rasa perih dan panas di kedua pipi nya meski mata nya sudah berkaca-kaca.
Sementara kini Angel yang tampak ketakutan.
"Aku tidak peduli, kau kekasih atau istri, atau bahkan selir. Aku hanya ingin membunuh mu di depan mata Ethan Mayer!" seru wanita itu.
"Benarkah?" cibir Lousia dengan nada yang mengejek. "Kau membawa kami ke kota tempat tinggal superman, kau tidak akan bisa menyakiti ku karena superman akan datang!" tegas Louisa sambil melirik Angel yang tampak pucat, setelah itu dengan sengaja dia menatap kamera ponsel wanita itu. Seolah memberi isyarat.
Sementara wanita itu kembali tertawa lebar, menganggap Louisa percaya pada dongeng.
"Kau gadis kecil yang suka dongeng ternyata!"
...🦋...
Ting
Sebuah pesan masuk ke ponsel Ethan yang saat ini masih ada di mobil nya.
Dengan cepat ia membuka pesan tersebut dan ia terbelalak melihat Louisa di sana.
"Sialan!" geram Ethan sambil memukul setir.
Kedua bola mata nya memerah, wajah nya begitu tegang apalagi saat melihat Louisa di tampar.
"Aku bersumpah akan mencincang tubuh kalian semua!"
Ethan semakin murka dan juga panik, apalagi setelah ia melihat para bajingan itu menyandra Louisa dengan sebuah bom.
Ethan segera mengirim video itu pada semua anggota The Eagle, meminta mereka mencari tahu dari mana video itu di kirim.
Video tersebut juga sampai pada Simon dan Peter, membuat kedua pria paruh baya itu semakin panik apalagi setelah di perhatikan waktu di bom itu hanya tersisa lima jam lebih beberapa menit saja.
__ADS_1
"Sial! Ini ahli mu, Simon!" desis Peter. "Cepat lacak dari mana video ini di kirim, oh Tuhan! Wanita iblis! Bagaimana bisa dia menakuti kami seperti ini!"