
Puas berduaan di hotel, Louisa dan Ethan berencana kembali ke mansion. Namun, sebelum itu mereka pergi ke rumah lama Louisa.
Sepanjang perjalanan, Ethan terus membujuk Louisa agar mau mencabut hukuman nya. Apalagi Ethan mengaku tidak ada niatan untuk pemar tubuh pada siapa pun.
"Ayo lah, Sayang," rengek Ethan. "Kau tahu aku tidak bisa menahan nya lebih dari tiga hari." Ia memelas, berharap Louisa iba pada nya. Namun, istri kecil nya itu seolah tak peduli.
"My girl...." Kini Ethan menarik-Narik lengan Louisa, persis seperti anak-anak yang meminta mainan baru pada ibu nya. "Kata nya kita mau punya bayi, bagaimana bisa kita punya bayi kalau aku tidak menanam bibit dalam waktu seminggu?"
Seketika Louisa langsung menoleh pada suami nya itu. "Tarik hukuman mu, ya?" pinta Ethan sekali lagi.
Louisa terdiam sejenak, seolah ia sedang mencoba memikirkan nya. Padahal, sebenarnya ia tidak serius dengan apa yang katakan tadi.
Tak hanya Ethan, Louisa pun tak bisa menahan hasrat nya lebih dar tiga hari. Ia sendiri tidak tahu kenapa itu terjadi, tetapi Ethan dan segala sentuhan nya seperti sebuah morphine, membuat Louisa candu dan ia tak bisa menahan itu.
"Lou?" rengek Ethan dengan sangat manja.
Ah, panggilan Lou itu terdengar begitu seksi di telinga Louisa.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat," tegas Louisa.
"Seratus syarat pun akan aku lakukan untuk mu." Ethan menjawab dengan cepat, membuat Louisa terkekeh.
"Hanya satu," kekeh nya. "Katakan I love you, Lou."
Ethan langsung memeluk istri nya dengan erat sembari berkata, "I love you, Lou, forever and ever. I love you more than everything. Pokok nya Aku mencintai mu, sangat mencintai mu."
Louisa tertawa, ia pun membalas pelukan suami nya. Bersama dengan itu, mobil berhenti karena kini mereka sudah sampai di rumah Louisa.
Nyonya Agatha segera keluar dari rumah, ia menyambut putri dan menantu nya itu dengan hangat.
"Aku pikir kalian akan lebih lama tinggal di hotel," kata Nyonya Agatha.
"Kami ingin menemui Dokter," ujar Ethan.
Nyonya Agatha yang mendengar itu tentu saja terkejut, takut terjadi sesuatu pada Louisa.
"Apa kau sakit, Lou?" tanya nya dengan cemas.
__ADS_1
"Tidak, Mom," jawab Louisa dengan cepat. "Aku sangat sehat, kami ingin pergi ke Dokter kandungan."
Nyonya Agatha ber-oh ria mendengar jawaban Louisa, apalagi sebelum nya Louisa memang mengatakan ingin segera punya bayi agar rumah tangga nya semakin sempurna.
" Bagaimana menurut mu, Ethan?" tanya Nyonya Agatha.
"Aku akan melakukan nya jika itu yang Louisa mau, Nyonya Rae."
Nyonya Agatha mendelik mendengar Ethan yang masih terus memanggil nya dengan panggilan Nyonya Rae itu, padahal sudah sering sekali ia dan Louisa mengingatkan agar belajar memanggil Mommy.
"Okay, jika itu yang membuat kalian bahagia." Nyonya Agatha tersenyum pasrah, setelah itu ia menatap Louisa dengan lembut. "Kau benar-benar siap 'kan, Lou?"
"Sangat," jawab Louisa dengan tegas dan meyakinkan. "Aku sangat ingin bayi, Mom, aku yakin itu akan menambah warna dalam hidup kami."
"Baiklah, Mommy hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mu, Sayang." Ia membelai lembut kepala Louisa, putri nya yang dulu masih kecil, manja, nakal, kini telah menjadi wanita dewasa. Bahkan, sudah berumah tangga dan akan segera menjadi seorang Ibu.
"Padahal Mommy merasa baru kemarin Mommy menggendong mu, Lou, kau yang nakal tapi menggemaskan. Tapi sekarang kau sudah dewasa, Sayang, waktu berlalu dengan sangat cepat."
Mata Nyonya Agatha kembali berkaca-kaca, teringat kembali dengan kebersamaan keluarga nya yang dulu. "Jadi lah orang tua yang baik, Sayang, jangan egois dan jangan mengutamakan ego mu, okay?"
Louisa mengangguk mengerti, apalagi ia pernah merasakan menjadi anak yang memiliki orang tua egois, dan hanya mementingkan urusan mereka. Tanpa tahu apakah Louisa kesepian atau tidak.
"kapan kalian akan menemui Dokter? Apa sudah membuat janji?" tanya Nyonya Agatha kemudian.
"Dua hari lagi, tadi kami sudah menghubungi Dokter Jennifer, dia meminta kami datang dua hari lagi," pungkas Ethan.
Nyonya Agatha mengangguk mengerti.
Louisa dan Ethan memutuskan bermalam di rumah Nyonya Agatha, ia juga sudah memberi tahu pada Simon dan Peter agar kedua pria itu tidak khawatir.
*****
Keesokan harinya...
Simon dan Peter menghabiskan waktu dengan lari di sekitar mansion, mengeluarkan keringat agar tubuh mereka lebih ringan dan otak mereka pun lebih tenang.
Kedua pria itu hanya memakai celana pendek dan tak memakai baju, memamerkan tubuh mereka yang tetap kekar dan bagus mesi usia mereka sudah tak lagi muda.
__ADS_1
Setelah puas berlari, kedua pria itu beristirahat sejenak di halaman depan mansion, menikmati angin yang sejuk membelai kulit mereka.
"Bagaimana menurut mu jika aku memberi tahu keluarga Dokter Filly bahwa kita adalah gangster?" tanya Simon sembari mengatur napas nya.
"Memang nya kau akan mengaku sebagai Dokter pada mereka?" sarkas Peter yang membuat Simon mendelik kesal.
"Kau teman yang sangat buruk," desis Simon kesal.
Tiba-tiba sebuah mobil datang, Peter dan Simon tetap santai mengira itu yang datang adalah Louisa dan Ethan. Namun, seketika Simon tercengang karena yang datang ternyata Dokter Filly.
"Kenapa dia ada di sini?" pekik Simon, ia yang malu dengan keadaan nya sekarang langsung bersembunyi di belakang tubuh Peter.
"Mana aku tahu, dia 'kan kekasih mu," jawab Peter.
Sementara Dokter Filly kini menghampiri Peter dan Simon sambil tersenyum, ia membawa juga membawa pot bunga yang di tanami bunga mawar.
"Simon?" sapa Dokter Filly karena pria yang telah menjadi kekasih nya sejak tiga bulan yang lalu itu justru bersembunyi di belakang tubuh Peter.
"Aku membawa bunga untuk mu," kata Dokter Filly.
Dengan malu-malu Simon menampakkan diri, bahkan wajah pria itu langsung memerah saat Dokter Filly terang-terangan menatap tubuh nya.
"Terima kasih," ucap Simon sembari menerima pot bunga yang di berikan oleh Dokter Filly.
"Kenapa kau datang ke sini tiba-tiba?" tanya Simon sembari membuang muka, tak berani menatap sang kekasih dalam keadaan yang seperti ini.
"Hanya ingin memberi mu kejutan," jawab Dokter Filly. "Sekalian ingin berbicara dengan keluarga mu."
Yeah, Dokter Filly datang memang untuk berbicara langsung dengan keluarga Simon mengenai kelanjutan hubungan mereka. . Karena ia sudah sangat yakin bahwa Simon adalah pria yang tepat untuk nya.
Selama ini Dokter Filly menunggu Simon yang beraksi lebih dulu. Ia berharap Simon Datang pada nya dengan membawa bunga yang cantik, kemudian melamar dengan mesra. Setelah membawa ia menemui keluarga nya. Seperti yang para pria lakukan pada umum nya. Namun, kini ia sadar Simon tidak akan melakukan itu.
Sang pujaan hati nya adalah pria yang sangat berbeda, yang pemalu, pendiam, kaku dan mudah tersipu. Dan karena semua itu lah Dokter Filly benar-benar ingin menikahi nya. Di mana lagi dia bisa menemukan pria seperti Simon?
"Mau bicara apa?" tanya Peter dengan dingin.
"Tentang hubungan ku dan Simon, aku datang untuk melamar nya secara langsung pada kalian."
__ADS_1
"Oh?"