Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 53 - Ditinggalkan?


__ADS_3

Louisa hanya bisa menangis dalam diam saat melihat wajah sang Ayah untuk terkahir kalinya, meskipun sulit tetapi ia tahu semua ini sudah terjadi dan Louisa tak dapat merubah keadaan.


Sementara Nyonya Agatha bingung sekaligus terharu karena anak buah Ethan justru mengurus pemakaman suaminya dengan sangat baik, sesuatu yang tak pernah ia sangka sebelumnya apalagi mengingat Ethan yang sangat membenci Tuan Bertrand.


Saat ini, Louisa dan Nyonya Agatha masih berada di pemakaman sementara dengan dijaga oleh Joel dan kedua anak buahnya.


"Sebaiknya kita pulang, Sayang, ini sudah sore," kata Nyonya Agatha sambil mengusap pundak putrinya itu.


"Tunggu sebentar lagi, Mom," pinta Louisa dan sang Ibu pun mengangguk setuju. "Tapi kita harus ke mana setelah ini?" tanya Louisa kemudian.


"Tentu saja kembali ke mansion," sambung Joel yang sejak tadi berdiri di belakang mereka.


"Tinggalkan kami," pinta Nyonya Agatha. "Kami akan pergi ke rumah lama kami."


Joel terdiam, ia mengingat perintah Simon untuk menjaga kedua wanita ini dan membawanya kembali ke mansion dengan selamat.


"Perintahnya adalah membawa kembali kalian ke mansion dengan selamat," tegas Joel.


Louisa menatap sang ibu kemudian berkata, "Kita kembali saja, Mom, setidaknya biar Ethan tahu kita baik-baik saja dan kita bisa pergi."


...🦋...


Kondisi Ethan masih sama seperti tadi pagi. Sangat lemah, tetapi setidaknya pria itu sudah berbicara.


"Apa yang harus kita lakukan dengan istri dan putri Rae itu?" tanya Peter.


"Kita tanyakan saja secara langsung pada mereka," jawab Ethan. "Tapi aku ingin mengirimnya ke tempat yang jauh dari sini, karena bahaya belum selesai."


Ethan menarik napas panjang dan ia teringat dengan Jose, pria itu berhasil melarikan diri dan pasti dia mencari bantuan atau mengadu tentang kematian Roberto pada anak-anak Don mafia itu.


"Anak-anak Roberto pasti akan balas dendam, dan kau pasti pernah mendengar mereka sangat keji bahkan pada anak-anak," tukas Ethan.


"Kau benar," sahut Peter. "Karena itulah aku ingin mencari mereka dan menyerang sebelum kita diserang."


"Jangan," cegah Ethan. "Itu tindakan pengecut," kata Ethan. "Dari pada menyerang tiba-tiba seperti pengecut, lebih baik kita menyiapkan diri sehingga kita siap jika mereka datang."


"Baiklah," kata Peter pasrah, meskipun sebenarnya ia sangat menghabisi anak-anak Roberto karena ia takut mereka melukai Ethan.


"Peter," lirih Ethan kemudian.

__ADS_1


"Iya, Tuan Mayer," sahut Ethan.


"Aku bermimpi melihat Mommy, Daddy dan Bibi Venly. Tiba-tiba aku merasa sangat merindukan mereka." Ethan berkata dengan suara yang bergetar, bahkan air mata sang Don mafia itu tak bisa di bendung saat Bayang-bayang keluarganya muncul dalam benaknya.


"Mereka pasti juga merindukanmu, Ethan," kata Peter menghibur sembari menepuk pundaknya.


"Aku ingin sekali kembali bersama mereka," lirih Ethan bahkan kini ia mulai terisak. "Aku sangat merindukan mereka, Peter. Apa yang harus aku lakukan?"


"Kau hanya perlu bersabar dan nikamti hidup ini, itulah yang mereka inginkan darimu."


Di luar kamar, diam-diam Louisa mendengarkan curahan hati Ethan.


Tadinya ia hanya ingin memberi tahu Ethan bahwa dia dan ibunya akan pergi, tetapi Louisa hanya bisa berdiam diri di balik pintu saat mendengar apa yang Ethan katakan.


Louisa ikut menangis, apalagi ini kali pertama ia mendengar isak tangis seorang Ethan.


Louisa kembali ke kamarnya menemui sang Ibu. "Bagaiamana? Kau sudah berbicara dengannya?" tanya Nyonya Agatha.


Louisa menggeleng pelan, ia duduk di tepi ranjang, menutup wajahnya yang masih sembab karena tak berhenti menangis.


"Kenapa? Harus kita berdua yang bicara dengannya?" tanya Nyonya Agatha.


"Kenapa dari tadi kamu hanya menggeleng, Lou? Ada apa?" tanyanya.


"Entahlah, Mom, aku bingung apa yang harus aku lakukan sekarang," ucap Louisa.


"Kita pergi dari sini, memulai hidup yang baru dan jauh dari semua yang berhubungan dengan Ethan," tegas Nyonya Agatha.


"Tapi ...." Louisa mengangkat wajahnya, menatap langit-langit kamar. "Tapi entah kenapa aku merasa kasihan jika meninggalkan dia, Mom," cicitnya.


"Astaga, Lou, untuk apa kamu kasihan padanya? Dia tidak butuh kita, dia seorang gengster, seorang Mafia. Dan hidupnya akan selalu dalam bahaya, begitu juga hidup orang yang ada di sekitar dia," pungkas nya panjang lebar.


"Lagi pula, dia pasti sudah sering mendapatkan luka seperti ini. Dia sudah terbiasa menghadapi masalah dan kematian, yang perlu dikasihani itu diri kita sendiri, Lou." Lanjutnya.


"Aku tahu, Mom," lirih Louisa. "Tapi aku rasa lebih baik kita bicara nanti saja dengan Ethan."


"Kenapa? Ini sudah sore, Lou, kita harus segera pergi dari sana sebelum hari gelap."


"Ethan sedang bersedih sekarang."

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Tadi aku dengar dia menangis karena merindukan orang tuanya."


Seketika Nyonya Agatha terhenyak.


"Aku rasa dia juga terluka sama seperti aku yang kehilangan Daddy, rasanya sangat menyakitkan."


"Haruskah kita bermalam di sini?" tanya Nyonya Agatha kemudian dan Louisa mengangguk.


Bersamaan dengan itu, terdengar suara Simon yang memanggil mereka.


Nyonya Agatha langsung membuka pintu. "Ada apa?" tanyanya.


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian," kata Simon.


"Masuklah!"


Simon masuk tetapi ia tetap berdiri di dekat pintu. "Tuan Mayer ingin aku mengirim kalian ke tempat yang jauh dari London," seru Simon tiba-tiba yang membuat Louisa dan ibunya terkejut.


"Kenapa?" Justru pertanyaan itu meluncur dari bibir Louisa.


"Karena keadaan pasti lebih buruk dari ini, Nona Rae, bahaya masih mengintai. Tuan Mayer tidak ingin melibatkan kalian jadi kalian harus pergi. Tuan Mayer ingin kalian pergi ke Spain."


"Kami memang ingin pergi," kata Louisa akhirnya meski entah kenapa ada perasaan tidak suka atas keputusan Ethan, ia merasa seperti ditinggalkan. "Tapi tidak ke Spain, kami masih punya rumah di sini."


"Itu tidak aman," sanggah Simon. "Selain pindah ke negara lain, Tuan Mayer juga ingin kalian menggunakan identitas yang berbeda. Rubah nama kalian sama keadaan membaik."


"Kau gila?" pekik Louisa yang mulai merasa keputusan Ethan cukup berlebihan.


"Itu perintahnya, Nona Rae, besok siang kalian akan pergi."


"Besok siang?" pekik Nyonya Agatha dan Louisa bersamaan. "Apa kau gila? Mana bisa kita pergi ke negara lain tanpa mempersiapkan VISA dan Passport."


"Kami bisa mengurusnya dalam beberapa jam."


"HAH?"


Louisa hanya bisa melongo, begitu juga dengan ibunya. Namun, kedua wanita itu berpikir ini jauh lebih baik untuk hidup mereka ke depannya.

__ADS_1


"Okay, kami akan pergi dan merubah identitas kami."


__ADS_2