Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 78 - Sakitnya Karena Cemburu


__ADS_3

"Jadi, jika kau ingin hidup maka jauhi dia."


Ed masih bingung sebenarnya dengan apa yang Ethan katakan, ia merasa tak percaya jika pria mengerikan di depannya ini adalah kekasih Louisa yang ia kenal sebagai Princess. Apalagi Louisa mengatakan kekasihnya pria dari London.


"HEY!" Ethan berteriak sambil menggebrak meja karena Ed tak merespon ucapannya. Sementara Ed semakin tak bisa berkata-kata, pemuda itu tersengal dan hanya bisa menahan napas.


"Apa kau mendengarku, Anak muda? Atau kau tuli?" Ethan mebdesis tajam. "Kalau begitu aku harus memotong telingamu—"


"Aku mendengar," sergah Ethan dengan cepat. "Aku mendengarnya, jadi ... jadi aku mohon kembalikan aku ke rumah orang tuaku," cicit Ed.


Ethan menarik napas panjang, ia mencoba mengatur emosinya yang membuncah hanya karena bocah ingusan, bocah yang bahkan takut hanya karena melihat pistol Ethan.


"Tuan Mayer," panggil Simon. "Pulang kan saja pemuda itu, kita tidak perlu membunuhnya apalagi hanya karena alasan cemburu mu itu."


"Tapi dia memeluk Louisa, Simon." Ethan menggeram tertahan. "Aku tidak akan membunuhnya, tapi aku ingin mematahkan pinggangnya."


Ethan kembali merasa patah hati saat mengingat Louisa memegang pinggang Ed. "Aku cemburu," lirih Ethan kemudian dengan lesu.


Wajah yang tadinya tegang, berapi-api, kini berubah lemas. "Dia telah menyentuh pria lain, Simon, rasanya menyakitkan sekali."


Ed melongo melihat perubahan sikap dan raut wajah Ethan, sangat berbeda. Bahkan, ia menduga Ethan punya kepribadian ganda.


"Maaf, Tuan." Ed menyela dengan hati-hati, "Sepertinya kau salah faham, aku tidak mengenal Louisa," ujar Ed. "Kau pasti salah menangkap orang!"


Ethan kembali tampak marah, raut wajahnya kembali tegang dengan sorot mata yang tajam. Nyali Ed kembali ciut, ia langsung menunduk dalam sambil menggenggam tangannya sendiri.


"Kau pikir aku bodoh, huh?" Ethan mendekatkan wajahnya ke wajah Ed, hingga pemuda itu harus memundurkan kepalanya ke belakang. "Yang ada di foto itu adalah LOUISA, kekasihku, calon istriku. Apa kau tuli?"


"Ethan, sudahlah!" Simon menarik Ethan menjauh dari Ed. "Masalah kita cukup banyak, jadi aku mohon berhenti menambah kekacauan." Simon kini menatap Ed dengan tajam. "Pemuda ini hanya seorang pelajar, sebaiknya kita kembali kan dia pada orang tuanya."


"Tapi aku belum melampiaskan rasa sakit hatiku!" sanggah Ethan dengan lantang, membuat Ed kembali tersentak.


"Lalu apa? Kau ingin memukulnya? Mematahkan pinggangnya? Silakan!"


Simon mempersilakan dengan pasrah, ia hanya berharap Ethan tak lepas kontrol yang bisa menyebabkan kematian pemuda malang itu.

__ADS_1


Sementara Ed kini semakin ketakutan, apalagi ketika Ethan berdiri tegak dan sangat gagah di hadapannya. Pria itu sudah bersiap memukul Ed, tetapi saat ia mengangkat tangan, Ethan melihat celana Ed yang basah.


"Apa kau mengompol, bocah?"


...🦋...


"Ed hilang?" pekik Nyonya Agatha saat Louisa bercerita tentang hebohnya para pelajar dan guru karena tiba-tiba orang tua Ed memberi tahu bahwa putranya menghilang.


"Iya, Mom, aku takut dia pergi karena merasa sakit hati padaku," tukas Louisa yang merasa bersalah.


"Ah, anak muda memang biasanya seperti itu, Dear, jangan terlalu di pikirkan."


Nyonya Agatha tersenyum untuk menenangkan putrinya itu. "Oh ya, karena hari ini Mommy gajian, jadi Mommy ingin membuat kue untuk kita."


"Aku tidak boleh banyak memakan kue, Mom," kata Louisa yang memang sudah menjaga pola makannya dengan sangat baik.


"Hanya sekali saja, Dear, itu tidak akan membuat berat badan kamu bertambah," bujuk Nyonya Agatha.


Louisa menatap wajah sang Ibu yang tampak letih, wajah yang terlihat berbeda dari yang dulu.


Penampilan ibunya begitu sederhana, tak ada gaun mewah, tak ada sepatu mahal, bahkan make up nya begitu tipis dan sederhana.


"Baiklah, Mom, aku rasa itu memang tidak akan menjadi masalah," tukas Louisa akhirnya.


"Kalau begitu ayo belanja, kita akan bersenang-senang hari ini dengan gaji Mommy," tukas Nyonya Agatha dengan sangat semangat.


Lousia mengangguk dengan tak kalah semangatnya.


Mereka pun pergi ke toko bahan kue, memilih bahan-bahan yang mereka butuhkan secukupnya. Setelah itu, mereka juga mampir ke café untuk menikmati sedikit es krim.


Setelah puas bersenang-senang, mereka kembali ke rumah dan mulai menyiapkan adonan untuk membuat kue.


"Mom, apa kau bahagia sekarang?" tanya Lousia sembari membantu Sang Ibu mengocok telur.


"Tentu saja, Sayang, kenapa bertanya begitu?" Nyonya Agatha melirik Louisa sekilas.

__ADS_1


"Aku juga sangat bahagia," tukas Louisa sambil mengulum senyum. "Sejak kita pindah ke Madrid, aku merasa lebih dekat dengan mu, Mom, hal yang selalu aku inginkan sejak kecil."


Nyonya Agatha terhenyak mendengar apa yang diutarakan oleh putrinya itu, bahkan ia langsung terdiam mematung dengan tatapan yang lurus tertuju pada Louisa.


"Aku sering mendengar cerita teman-teman, katanya mereka masak bersama ibunya di akhir pekan. Membuat kue, memasak lobster, membuat pudding dan sebagainya." Lousia tersenyum saat mengingat cerita teman-temannya itu. "Aku selalu penasaran bagaimana rasanya sedekat itu dengan Mommy, apalagi sampai masak bersama meskipun hanya di akhir pekan."


"Sayang ...." Nyonya Agatha langsung memeluk Lousia dengan gemas, membuat putrinya itu terlonjak kaget.


"Mom, kau mengejutkan aku," kekeh Lousia.


"Maaf karena selama ini Mommy terlalu sibuk, Lou." Nyonya Agatha meminta maaf dengan tulus. "Tapi Mommy janji, mulai sekarang kita akan punya hubungan yang sangat indah."


Lousia tersenyum lebar dan mengangguk percaya, yeah, sekarang dia percaya bahwa hidupnya dan sang Ibu akan jauh lebih indah dari sebelumnya. Meski tak ada lagi pelayan, Bodyguard, perhiasan dan sebagainya.


Kedua wanita itu melanjutkan membuat kue sampai menjelang malam, mereka juga menyiapkan makan malam yang lezat malam ini kemudian mereka pun makan malam bersama.


Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul setengah 10 malam, Lousia dan Nyonya Agatha baru selesai makan dan kini kedua wanita itu sedang membersihkan dapur bersama.


"Sayang, ini sudah malam jadi sebaiknya kau istirahat," seru Nyonya Agatha. "Biar Mommy yang menyelesaikan ini."


"Tidak apa-apa, Mom, sedikit lagi," sahut Lousia yang saat ini sedang menyusun piring di rak.


"Lou, kau bisa kesiangan besok." Sang Ibu memperingatkan. "Mommy juga merasa lelah dan ingin tidur, kita hias kue nya besok, okay?"


"Baiklah, Mom," ujar Lousia akhirnya sambil tertawa kecil.


Ia pun segera naik ke kamarnya dan melakukan beberapa aktivitas rutin sebelum tidur.


Setelah itu, ia menyempatkan diri membaca buku hingga akhirnya Lousia jatuh tertidur.


Beberapa saat kemudian, Louisa merasa ada yang mengambil buku dari tangannya dan ia merasa itu sangat Ibu.


Namun, hidung Lousia menangkap aroma yang berbeda, memaksanya membuka mata dan ....


"Ethan?!"

__ADS_1


__ADS_2