
Tuan Mathew yang merupakan pengacara keluarga Rae mendapatkan pesan berupa kode dari Tuan Rae, ia mengerti kini Tuannya itu dalam bahaya.
Oleh sebab itu, ia langsung bergegas ke kediaman Rae detik itu juga dengan membawa beberapa pasukan khusus yang dipimpin langsung oleh temannya.
Mereka pergi menggunakan mobil juga helikopter agar dapat memantau keadaan dari udara.
Terkejut?
Yeah, Ethan cukup terkejut dengan kedatangan tamu-tamu tak diundang itu.
Takut?
Tentu saja tidak, bergabung dengan anggota mafia sejak usianya 8 tahun membuat ia tak mengenal takut. Apalagi kini sekarang ia adalah pemimpin The Eagle.
"Semuanya akan berakhir, Mayer," cibir Tuan Rae yang kini tersenyum puas.
"Memang kamu yang memulai pertumpahan darah ini, Rae, tapi sudah menjadi kewajibanku untuk mengakhirinya."
"Tutup semua pintu!" titah Ethan pada anak buahnya yang langsung mereka laksanakan detik itu juga.
"Aku akan mengakhiri segalanya di sini," seru Ethan sembari memberikan ponselnya pada Tuan Bertrand. "Panggil pengacaramu!"
"Tidak!" bantah Tuan Bertrand dengan tegas.
Sementara di luar, kini para pasukan khusus itu telah mengepung kediaman keluarga Rae dan kini mereka memberikan peringatan keras pada Ethan.
"RUMAH INI TELAH KAMI KEPUNG! MENYERAHLAH SEKARANG JUGA!"
Tuan Bertrand tersenyum penuh kemenangan mendengar seruan tersebut, sementara itu justru menatap pria paruh baya itu sambil mengulum senyum. "Apa ada yang lucu?" desis Tuan Bertrand.
"Apa kau tahu siapa aku?" Ethan justru balik bertanya.
__ADS_1
"Kau putra Eduardo yang menghilang," jawab Tuan Bertrand.
"Yeah, itu benar," kekeh Ethan. "Tapi apa kau tahu artinya ini?" Ethan membuka bajunya dan menunjukan tatto burung elang yang sangat besar di punggungnya, ciri khas dari tatto itu adalah pedang yang ada di mulut elang tersebut.
Seketika Tuan Bertrand menganga lebar bahkan jantungnya seolah berhenti berdetak saat menyadari siapa yang sebenarnya ia hadapi. Bukan hanya Ethan putra Eduardo, melainkan ....
"I am the king of the Eagle!"
Ethan berseru dengan lantang dan percaya diri.
Keringat dingin kini sudah membasahi tubuh Tuan Bertrand sementara sang istri dan para pelayanan hanya tercengang, mereka masih shock melihat bagaimana mereka menembak kepala Tommy dan menggorok leher kepala keamanan keluarga mereka.
"Sebentar lagi mereka sampai," seru Simon kemudian sembari memasukan ponselnya ke dalam saku.
"Kau menghubungi mereka tanpa memberi tahuku?" tanya Ethan.
"Yeah," jawab Simon dengan santai.
The Eagle, tentu Tuan Bertrand sangat tahu anggota Mafia yang paling ditakuti juga paling diincar oleh polisi. Sudah lama Tuan Bertrand mendengar nama ini, The Eagle dikenal di seluruh penjuru dunia sebagai malaikat maut, iblis dan monster di dunia bawah tanah.
"Sekarang kau bisa pilih, Rae, panggil pengacaramu atau aku habisi kalian semua termasuk si kecil Lou."
"Lakukan saja yang dia mau!" teriak Nyonya Agatha yang sudah putus asa. "Apalagi yang coba kau pertahankan, Bertrand?"
Tuan Bertrand berpikir sejenak tetapi Nyonya Agatha langsung mengambil ponsel Ethan kemudian ia menghubungi nomor pengacara mereka.
"Kau masuklah sekarang juga dan jangan bawa siapapun!" titah Nyonya Agatha dengan tegas saat panggilannya terjawab.
"Tapi, Nyonya—"
"Sekarang, jangan membantah, aku mohon. Ini demi nyawa putriku."
__ADS_1
Ethan tersentuh saat melihat tangisan Nyonya Agatha, mengingatkan ia pada sang ibu yang juga melakukan segalanya untuk menyelamatkan Ethan.
Sementara di sisi lain, akhirnya Louisa bisa melepaskan ikatannya. Ia langsung membuka jendela kamar saat mendengar suara helikopter di atas rumahnya, tetapi tak mungkin Louisa berteriak karena mereka takkan mendengar.
Kini Louisa menatap ke bawah. "Ya Tuhan," gumamnya. Kamarnya terletak di lantai dua, melompat ke bawah pasti akan membuat tubuhnya sakit. Namun, ia tak punya pilihan lain.
Meski takut, Louisa tetap melompat dari jendela kamarnya. Ia mengerang kesakitan saat tubuhnya terjatuh dengan sangat keras, tulang-tulangnya terasa seakan patah.
"Agghh, Tuhan!" jeritnya.
Louisa mencoba bangkit dan berjalan menuju ke depan halaman meski dengan langkah tertatih-tatih.
Sementara di luar, Tuan Mathew masuk ke rumah sendirian seperti yang diinginkan oleh Nyonya Agatha.
Bersamaan dengan itu, anggota The Eagle yang memakai helikopter datang dan yang pertama mereka serang adalah helikopter yang terbang di atas rumah kediaman Rae.
Kejadian itu membuat pasukan yang dibawa oleh Matthew hanya bisa tercengang, apalagi ketika mereka melihat simbol yang ada di helikopter itu.
"Sial, ini bukan urusan bisnis semata!" seru salah satu dari mereka. "Mereka berurusan dengan The Eagle, kita akan habis!"
"MUNDUR!" teriak sang pemimpin.
Sementara Louisa yang kini sudah ada di halaman depan rumah hanya bisa tercengang saat melihat helikopter di atas rumahnya itu diserang, bahkan ketika helikoper tersebut meledak Louisa masih berdiam diri dengan pikiran yang kosong hingga akhirnya ....
"LOUISA!"
Ethan datang tepat dan langsung melindungi Louisa dari kepingan helikopter yang hampir saja membunuhnya itu.
"Kau gila, hah?" teriak Ethan penuh amarah.
Sementara Louisa masih linglung, ia menatap ke sekelilingnya dan seketika Louisa terperangah melihat darah dan mayat berserakan.
__ADS_1
"Aaagggghhhh" Louisa menjerit ketakutan, ia berlari masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Ethan dan seketika jantungnya berhenti berdetak melihat sang Bi Amy yang kini bersimbah darah di lantai.
"Bibi?" gumam Louisa sebelum akhirnya ia ambruk tak sadarkan diri.