
Setelah makan malam selesai, Louisa dan yang lain nya ngobrol santai di halaman belakang rumah sembari menikmati angin malam dan juga wine untuk menghangatkan tubuh mereka.
Dari topik yang awalnya tentang pekerjaan, hobi, akhirnya kini mereka sampai pada topik asmara.
Louisa dan Ethan menceritakan tentang cinta mereka yang tak biasa, bagaimana Lousia selalu menggoda Ethan yang seksi dan tampan. Sementara Ethan selalu menolak mentah-mentah. Cerita itu mengundang tawa Varian, sementara Nyonya Agatha dan kedua ayah angkat Ethan itu hanya bisa meringis.
Hingga akhirnya ... kini mereka penasaran dengan kisah cinta Simon.
"Kau akan berkencan dengan siapa? Memang nya ada wanita yang mau dengan mu?"
Simon berdecak, ini adalah pertanyaan Peter yang ke 11 kali nya, pertanyaan yang sama karena Peter tidak percaya Simon akan berkencan di usia yang tak lagi muda.
"Aku tidak mau menjawab," ketus Simon kesal. Yeah, sejak tadi pria itu enggan menjawab karena itu lah Peter bertanya berkali-kali.
"Kenapa tidak mau menjawab? Apakah dia wanita atau pria?"
"HEY!!!" teriak Simon kesal, sementara a yang lain hanya tertawa geli.
"Ceritakan saja yang sebenarnya, Uncle Simon," pinta Louisa. "Lagi pula, kau tidak bisa merahasiakan nya dari kami. Kau harus memperkenalkan nya pada kami kemudian menikahi nya, kau juga butuh bantuan kami untuk melamar nya."
Simon tak langsung menjawab, ia hanya melirik orang-orang di sana dengan wajah yang memerah.
"Kenapa? Kau malu? Apa jangan-jangan dia wanita tua?" celetuk Peter yang membuat Simon berdecak kesal.
"Aku berkencan dengan Dokter Filly," seru Simon akhirnya yang langsung membuat semua orang terkejut, terutama Ethan dan Peter.
Bagaimana tidak?
Dokter Filly adalah Dokter bedah yang menangani Ethan satu tahun yang lalu, wanita itu memang cantik dan baik hati. Ah, seperti nya itu lah yang membuat Simon tertarik.
"Kenapa kau mengencani Dokter nya Ethan?" tanya Peter yang lebih terdengar seperti protes. "Dia masih muda, oh Tuhan."
"Kenapa? Dia sangat cantik, baik hati dan lembut," pungkas Simon dengan mata yang berbinar, ia mengambil ponselnya, kemudian membuka gallery dan menunujukan foto Dokter Filly dan diri nya saat berkencan sebelum nya. "Lihatlah, dia benar-benar berbeda." Ia pamer sambil tersenyum lebar.
"Apanya yang beda?" tanya Peter dengan kening sedikit berkerut. "Dia punya dua mata, satu hidung, satu mulut. Sama saja." Peter berkata dengan jujr, membuat semua orang tak bisa menahan tawanya. Namun, Peter tampak tak peduli dengan hal itu.
"Apa kau tidak pernah jatuh cinta pada wanita, Peter?" tanya Varian.
__ADS_1
"Tidak," jawab Peter sembari menyesap wine terakhir nya.. "Pergi lah tidur, sudah jam setengah 10." Ia berkata pada Louisa dan Ethan sebelum akhirnya ia pergi.
Nyonya Agatha menahan senyum melihat perhatian dan kepedulian Peter pada Louisa selama satu tahun terakhir, membuat Nyonya Agatha lupa bahwa pria itu lah yang telah membunuh pelayan kesayangan nya dengan sadis.
"Aku ke kamar duluan," kata Ethan sembari membantu Louisa berdiri.
Varian mengangguk mengerti, mempersilakan Ethan dan Louisa pergi. Kini tinggal Simon, Varian dan Nyonya Agatha.
"Ini masih terlalu siang untuk tidur," kata Simon sembari terkekeh.
"Bagaimana dengan penelitian The Eagle tentang racun itu?" tanya Varian kemudian. "Aku dengar pemerintah ingin membeli nya untuk di jadikan senjata."
Nyonya Agatha menatap dua pria mafia di depan nya ini, dan jelas ia takkan nyambung berbicara dengan mereka. "Aku juga mengantuk," kata Nyonya Agatha yang langsung melarikan diri dari tempat itu.
Varian dan Simon melanjutkan obrolan mereka tentang bisnis dunia bawah tanah itu yang masih terus berlanjut, tetapi sekarang bukan sesuatu yang berbahaya seperti dulu karena mereka memilih menghentikan semua bisnis ilegal dan fokus pada bisnis legal mereka.
Sementara itu, Louisa mencuci wajah dan menggosok gigi nya sebelum tidur. Tak lupa ia minum obat dari Dokter, berharap itu bisa membuat nya tidur lebih nyenyak.
"Terkadang aku merasa tak butuh obat ini," kata Louisa sembari merangkak ke atas ranjang, di mana Ethan sudah menunggu nya. Louisa langsung masuk ke pelukan sang suami seperti biasa. "Aku bisa tidur dengan mudah asal kau selalu memeluk ku," tambah nya.
Louisa tak membalas lagi ucapan sang suami, ia memejamkan mata dan semakin mendesakkan tubuh nya ke tubuh Ethan. Dan benar saja, tak butuh waktu lama ia bisa tidur dengan mudah seolah pelukan Ethan lah obat penenang yang sesungguhnya.
...🦋...
...11 bulan yang lalu ...
Louisa berkonsultasi pada psikiater di temani oleh sang ibu, tetapi Louisa masih tak merasa nyaman. Apalagi ketika psikiater itu bertanya apa saja yang Louisa ingat dari kejadian itu, sudah jelas Louisa ingat semua nya tanpa terkecuali.
Obat yang diberikan oleh psikiater itu juga seolah tidak berguna untuk Louisa, apalagi kini ia mulai berhalusinasi dengan menganggap itu adalah mimpi.
Ketika memejamkan mata, Louisa seperti melihat mayat dan genangan darah. Louisa menganggap itu mimpi, padahal sebenarnya adalah halusinasi.
Merasa tak nyaman dan tak yakin dengan psikiater nya, Louisa ingin berganti Psikiater yang lain. Tak ada yang keberatan dengan hal itu, bahkan Ethan bersedia mencari Psikiater terbaik di dunia dan akan membayar nya semahal apapun itu asal Louisa bisa sembuh dari trauma nya.
"Aku takut menjadi gila," ujar Louisa yang tak bisa menyembunyikan kecemasan nya.
"Bagaimana kalau aku gila seperti di film-film, apa kau akan meninggalkan ku, Ethan?" Ia menatap sang suami dengan satu dan tentu Ethan langsung menggeleng.
__ADS_1
"Jika kau gila, aku akan lebih gila," tukas Ethan yang membuat Louisa terkekeh.
Saat ini ia ada di rumah sakit, menemani sang suami yang keadaan nya sudah jauh lebih baik. Siang dan malam Louisa ada di sisi Ethan, ia tak mau pulang walau sebentar saja sehingga mau tak mau Nyonya Agatha membawa banyak barang kebutuhan Louisa ke rumah sakit.
"Tidur lah, Sayang, ini sudah malam," pinta Ethan.
Di kamar VVIP itu ada dua ranjang, satu ranjang rawat Ethan dan satu ranjang untuk Louisa.
"Aku tidak mengantuk dan aku tidak ingin meminum obat lagi," kata Louisa lirih.
"Tapi ini sudah jam satu, Lou, kau bisa sakit jika begadang," bujuk Ethan.
Louisa menghela napas berat sebelum akhirnya ia pun pergi ke ranjang nya sendiri. Louisa menarik selimut, dan mencoba memejamkan mata, ia berusaha keras agar bisa tertidur tetapi tak bisa.
Pada akhirnya ia gelisah, halusinasi nya kembali datang. Ethan yang melihat gerak-gerik Louisa langsung memanggil sang istri, tetapi Louisa tak merespon.
"LOUISA!" teriak Ethan panik, apalagi ia melihat raut wajah Louisa yang seperti orang tertekan.
Ethan berusaha bangun dari ranjang meski seluruh tulang di tubuh nya seperti di patahkan, ia ingin memeluk sang istri saat ini.
"LOU?" teriak Ethan sekali lagi dan bersamaan dengan itu Louisa membuka mata, tepat sebelum Ethan turun dari ranjang nya.
Napas Louisa memburu, tubuh nya berkeringat padahal ruangan itu ber-AC.
"Kemari lah, Sayang!" Ethan mengulurkan tangan, meminta Louisa datang ke pelukan nya.
Louisa yang memang merasa tertekan itu langsung menghampiri Ethan. "Tidur lah bersama ku, biar aku memeluk mu agar kau merasa aman."
"Tapi kau sakit," ujar Louisa.
"Tidak apa-apa, kau tidak akan melukai ku." Ethan membujuk penuh harap, dan akhirnya Louisa pun naik ke ranjang Ethan yang memang cukup besar itu.
"Sekarang kau bisa tidur dengan tenang di pelukan ku, kau aman bersama ku." Ethan berbisik mesra, membuat hati Louisa sedikit tenang.
Ethan membelai kepala Louisa dengan lembut, ia juga mendekap sang istri meski sebenarnya itu membuat luka nya kembali terasa kembali sakit. Namun, melihat Louisa yang tampak tenang di pelukan nya membuat Ethan tak mau peduli dengan luka atau rasa sakit nya.
"Aku janji akan selalu memeluk mu dan menggengam tangan mu sebelum tidur dan saat kau bangun tidur, My girl."
__ADS_1