Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 129 - Latihan Ala Peter


__ADS_3

Pesta pernikahan yang begitu di inginkan oleh Louisa dan Ethan harus tertunda dalam waktu yang cukup lama.


Karena keadaan mental Louisa dan luka di tubuh Ethan butuh waktu yang tak sebentar dalam proses penyembuhan.


Namun, kini pesta itu sudah tak ingin mereka tunda lagi setelah semua nya perlahan membaik. Undangan sudah tersebar, hotel, gaun dan sebagainya sudah sangat siap. Louisa hanya perlu melakukan fitting terakhir hari ini.


"Jam berapa kalian akan pergi?" tanya Peter sembari menyerahkan air minum pada Louisa yang saat ini sedang beristirahat setelah lari di sekeliling mansion.


"Jam tiga sore," jawab Louisa. Ia mengatur napas nya dengan baik, mengelap keringat yang mengucur di pelipis nya.


Setelah merasa keadaan nya lebih baik, Louisa hendak kembali berlari tetapi Peter melarang nya.


"Aku rasa sudah cukup," kata Peter.


"Kenapa? Bukan kah ini baru sepuluh menit?" tanya Louisa bingung.


"Biar kalori mu tidak semakin habis."


Louisa langsung melongo mendengar jawaban singkat Peter, tetapi kemudian ia tertawa kecil saat mengingat apa yang ia katakan saat makan malam.


"Baiklah, ayo lanjut ke latihan berikut nya," ajak Louisa dengan semangat.


"Ayo," sahut Peter.


"Tapi kaki ku lelah sekali yang mau jalan ke ruang latihan," rengek Louisa kemudian. "Jika kaki ku bisa berbicara, mungkin sekarang dia sudah merengek meminta ku agar mencari seseorang menggendong ku."


Siasat wanita itu kembali berjalan lancar, tanpa berbicara sepatah kata pun Peter langsung membungkuk di depan Louisa. Tentu saja Louisa langsung naik ke punggung pria paruh baya itu dengan semangat.


"Uncle Peter memang yang terbaik," seru Louisa girang.


Peter tak menjawab, ia hanya berjalan santai menuju ruang latihan.


Aksi kedua nya itu di lihat oleh Ethan yang saat ini sedang mengobrol dengan Varian, membicarakan bisnis baru mereka di bidang pinjaman.


Tentu saja bukan pinjaman online atau pinjaman ala rentenir yang biasa nya hanya menargetkan orang kelas menengah ke bawah, pinjaman yang mereka buka untuk para pengusaha atau gangster besar seperti kelompok mereka.


Terkadang, para pengusaha itu ingin memiliki saham yang paling banyak dan mereka butuh uang yang tentu lebih banyak juga. Sementara para gangster butuh uang untuk modal usaha mereka, entah itu legal atau tidak. Ethan dan Varian tak mau peduli.

__ADS_1


"Sepertinya ini akan lebih cocok sebagai bisinis investasi," kekeh Varian.


"Itu sedikit berbeda," sahut Ethan. "Investasi mencantumkan nama kita dalam usaha mereka sebagai investor, jika bisnis mereka ilegal maka nama kita pun akan terseret."


Varian terkekeh dan membenarkan apa yang di katakan oleh Ethan, memang ini lah alasan nya kenapa bisnis mereka pinjaman, bukan investasi. Tentu dengan jaminan yang pantas.


"Istri mu itu ...." Varian menatap Louisa yang tampak nya sangat senang karena di gendong oleh Peter. "Dia sangat manis," lirih nya sembari mengingat seseorang.


Hati Ethan sedikit terganggu dengan pujian itu, ia merasa cemburu karena ada pria lain yang menyadari betapa manis nya sang isti. Namun, Ethan mencoba bersikap biasa saja, setidaknya ia tahu Varian tidak akan menyukai Louisa secara khusus.


"Dulu dia lebih manis dari ini," ujar Ethan. "Saat keluarga nya masih lengkap, saat dia masih menjadi putri konglomerat yang nakal dan manja. Dia selalu membuat ku kesal, tapi dia justru terlihat sangat manis saat sedang nakal."


Varian tertawa mendengar pernyataan panjang lebar Ethan, merasa hal itu konyol. Apalagi Ethan bisa jatuh cinta pada putri orang yang membunuh orang tua nya.


"Tapi apa yang membuat mu jatuh cinta pada nya, Ethan? Sedangkan dia adalah putri orang yang membunuh orang tua mu," tukas Varian kemudian ia menyesap kopi nya yang masih hangat.


"Aku juga tidak tahu kenapa itu terjadi," jawab Ethan. "Tapi itu lah cara kerja cinta," kekeh nya kemudian. "Aku harap kau tidak mengalami itu, atau kau akan bingung dengan hati mu."


Varian terdiam sejenak, seolah memikirkan sesuatu. "Tapi kau bekerja dengan ayah mu, aku rasa kau tidak akan terjebak dalam hubungan antara cinta dan dendam."


Sementara itu, Louisa dan Peter kini sedang berlatih tinju. Meski ini melelahkan, tetapi harus Louisa akui ia suka dengan semua latihan yang di berikan oleh Peter.


Louisa bertekad harus bisa melindungi diri nya sendiri karena ia tahu Ethan, Peter atau pun Simon tidak akan selalu bisa melindungi nya. Ia juga bertekad bisa kuat seperti Ethan, agar ia bisa membantu Ethan jika ada yang akan menyakiti suami nya itu.


"Perhatikan pundak lawan mu, Lou," pinta Peter saat Louisa tak juga mampu menghindari pukulan nya. "Lihat lah ini bergerak ke mana, mau kau harus menangkis nya." Peter memberikan contoh dan Louisa mengangguk mengerti.


Ia pun mencoba menyerang Peter dengan semangat dan mengerahkan seluruh tenaga nya, tetapi itu justru membuat dia merasa lelah dan dengan mudah di kalahkan oleh Peter.


"Saat kau menyerang lawan, jangan gunakan seluruh kekuatan mu, Lou!" Peter mengingatkan dengan tegas, "Cukup gunakan kekuatan seperlunya agar kau tidak kehabisan tenaga, apalagi jika lawan mu juga tak menggunakan seluruh kekuatan nya untuk menyerang mu."


"Mengatur napas saat menyerang juga penting, sama penting nya seperti saat kau menari. Menari dan berkelahi sama-sama bergerak dan memiliki ritme nya sendiri."


Latihan pun di lanjutkan, berbagai teknik Peter ajarkan pada murid dadakan nya itu. Dan harus Peter akui, Louisa cukup lambat dalam menguasai ilmu yang ia ajarkan hingga membuat nya kesal, tetapi Peter mencoba bersabar.


Apalagi ia sadar Louisa lahir dan tumbuh di keluarga konglomerat, yang manja dan tidak mengalami hidup yang keras. Gadis yang bahkan tidak bisa mengambil barang nya sendiri.


Setelah beberapa menit latihan, Peter dan Louisa pun beristirahat. Tak lama kemudian, pelayan datang membawa beberapa makanan.

__ADS_1


"Aku mau mandi dulu sebelum makan," kata Louisa, ia hendak pergi dari tempat itu tetapi Peter langsung menarik leher Hoodie yang ia pakai, membuat langkah Louisa langsung terhenti dan tentu ia pun protes kesal.


"Lepaskan, Uncle!" rengek nya.


"Makan dulu, setelah itu mandi, kemudian makan lagi," tukas Peter yang membuat Louisa melongo.


"Kenapa aku harus selalu makan?" protes nya, ia mencoba menyingkirkan tangan Peter dari baju nya, tetapi Peter justru mengangkat Louisa dengan satu tangan, hingga kaki Louisa tak menyentuh lantai.


"Kau ringan sekali, apa tubuh mu hanya berisi angin?"


"Hah?"


Louisa mencoba memberontak, bahkan ia mencoba memukul dan menendang Peter. Namun, pria paruh baya itu justru mengaitkan baju belakang Louisa ke sebuah besi yang tertancap di dinding.


Tentu saja Louisa berteriak kesal.


"Lihatlah, kau benar-benar ringan," ujar Peter sambil geleng-geleng kepala.


"Turunkan aku, Uncle Peter!" Louisa berteriak kesal, tetapi Peter tak peduli. Ia justru menikmati makanan itu membuat Louisa kembali berteriak kesal.


Simon yang tak sengaja lewat ruang latihan itu berteriak antara terkejut, kesal sekaligus merasa lucu melihat Louisa yang tergantung di dinding.


"Apa yang kau lakukan di sana, Lou?" tanya Simon sambil tertawa.


"Uncle Peter menyiksa ku," rengek Louisa. "Turunkan aku, Uncle Simon." Ia memelas, membuat Simon tak tega.


Ia pun hendak menurunkan Louisa tetapi Peter justru menjegal kaki nya, hingga teman nya itu langsung terjerembab ke lantai.


"Aku hanya sedang memberi sedikit latihan dan pengetahuan pada nya, jangan ikut campur," tegas Peter.


Simon hanya menganga seperti orang bodoh.


"Aku akan makan!" seru Louisa akhirnya. "Sebelum dan sesudah mandi, aku akan makan. Aku janji."


Peter menatap Louisa dengan tajam. "Aku belum pernah mengingkari janji ku selama ini." Louisa meyakinkan.


Peter pun menurunkan Louisa dengan mudah nya. Tetapi setelah itu ia justru langsung melarikan diri dari sana, dan kini Peter lah yang Simon tertawakan.

__ADS_1


__ADS_2