
Saat sesuatu harus di bayar dengan sejumlah uang, maka harga itu sangat murah. Namun, ketika sesuatu harus di bayar dengan nyawa dan kesehatan mental, maka harga itu sudah terlalu mahal.
Itu lah harga yang harus Ethan bayar, kehilangan janin yang bahkan belum berusia satu bulan dan juga mental sang istri yang terguncang hebat hingga membutuhkan beberapa psikiater.
Louisa yang dulu selalu ceria, melakukan apapun yang ia suka, seolah kehilangan jati diri nya setelah insiden mengerikan itu. Bukan hanya janin nya yang hilang, tetapi juga jati diri nya.
Nyawa yang hilang memang tak dapat di kembalikan, tetapi kesehatan mental yang rusak dapat perbaiki. Dan saat ini, baik Ethan mau pun Louisa, begitu juga dengan orang-orang di sekitar mereka sedang bekerja keras untuk memperbaiki mental yang rusak itu.
"Masih meminum obat mu dengan teratur?" tanya Dokter Lawrence sembari memeriksa hasil pemeriksaan terakhir Louisa.
"Iya, tapi aku rasa itu tidak bekerja dengan baik," pungkas Louisa sembari memainkan jari jemari nya, ia menunduk, seolah enggan bertatap muka dengan Psikiater yang telah menangani nya selama tiga bulan terakhir.
Selama satu tahun ini, sudah ada tiga psikiater yang mencoba menangani Louisa sebelum Dokter Lawrence, tetapi ia tidak merasa nyaman dan aman.
Hingga akhirnya Peter menghubungi teman nya yang dari Jerman, seorang Psikiater yang handal dan baru lah sekarang Louisa mampu berkonsultasi dengan nyaman.
"Mimpi itu selalu datang, begitu mengerikan. Aku seperti akan mati."
Ethan yang duduk di sisi nya langsung menatap Louisa dengan sayu, merasa bersalah karena semua ini terjadi atas kelalaian nya menjaga sang istri.
"Aku ingin menghapus saja ingatan itu," lirih Louisa dengan suara yang sedikit bergetar.
"Mimpi itu memang bagian dari ingatan, tapi tidak selalu terpaku pada ingatan," tukas Dokter Lawrence. "Meskipun kami menghapus ingatan mu, tapi apa yang telah tertanam di alam bawah sadar mu akan selalu datang dan menghantui."
Ethan menarik tangan Louisa, menggenggam nya dengan lembut untuk menenangkan sang istri.
"Solusi nya bukan ada pada ingatan mu, Nyonya Mayer, tapi ada pada hati mu."
Louisa mendongak, menatap wanita paruh baya di depan nya ini. "Semua ada pada hati mu, Lou, apakah hati mu mau berdamai dengan masa lalu atau tidak."
Louisa terdiam, ia hanya menatap suami nya dengan sayu.
Berdamai dengan masa lalu?
__ADS_1
Louisa sangat ingin melakukan nya, ia juga berusaha agar bisa melakukan itu. Namun, rasa menyesal karena tak bisa melindungi kandungan nya dan rasa bersalah karena telah membunuh seolah menggerogoti hati dan jiwa nya.
Di tambah ia melihat sendiri bagaimana Ethan di lukai, melukai, dan akhirnya membunuh Dexter dengan cara yang begitu mengerikan.
Tak hanya Ethan, Louisa pun membunuh Amber dengan cara yang tak kalah sadis nya. Awal nya, Louisa hanya tahu jarum itu beracun dan mematikan, tetapi ia tidak tahu tingkat kekuatan racun itu.
Seorang Dokter melakukan autopsi pada jasad Amber yang mati dengan cara yang berbeda, dan mereka menemukan darah Amber yang tak seperti darah manusia pada umum nya, darah itu juga menjadi beracun, daging nya pun berbeda.
Itu sebuah autopsi rahasia untuk menguji tingkat racun yang di kembangkan oleh organisasi The Eagle sendiri, dan tak seharusnya orang lain mengetahui hasil itu selain orang-orang The Eagle.
Namun, suatu hari Louisa tanpa sadar menemukan berkas hasil autopsi itu ketika di kirim pada Ethan. Dan itu lah yang membuat trauma nya semakin menjadi, ia tak pernah menyangka diri nya menjadi orang yang begitu kejam.
"Apa yang terjadi tak dapat di batalkan atau di ulang, Lou, semua sudah berjalan pada garis takdir nya masing-masing," pungkas Dokter Lawrence.
"Jangan tenggelam pada penyesalan karena mungkin Tuhan punya rencana lain sehingga Dia mengambil janin mu."
"Jangan pula tenggelam pada rasa bersalah karena kami tahu, Ethan, ibu mu dan semua orang tahu, bahkan diri mu sendiri juga pasti tahu bahwa kamu bukan lah seorang pembunuh. Yang kamu lakukan itu adalah bentuk membela diri dan membela orang terkasih mu."
"Setiap manusia punya sisi binatang yang tidak akan pernah di duga, sisi itu bekerja seperti binatang, baik untuk menyerang atau berlindung dari marabahaya. Tapi itu bukan lah jati diri yang sebenarnya, jadi tak perlu kau sesali selarut ini, kau sendiri tahu itu, kan?"
"Masa lalu itu kenangan yang harus di kenang jika indah, dan harus di kubur jika buruk. Kita melangkah ke depan, bukan ke belakang. Kita juga tidak bisa berdiam diri dalam satu tempat atau keadaan, karena dunia itu terus berjalan."
"Kamu masih muda, masa depan mu panjang sekali. Ibu, suami, teman, orang-orang yang peduli pada mu, kamu memiliki semua yang kamu butuhkan."
...🦋...
"Apa kau sudah bisa berlari?"
Peter menoleh, menatap Simon yang menghampiri nya dengan membawa dua gelas kopi.
"Belum, tapi beberapa bulan lagi aku pasti akan kembali bisa berlari," ujar Peter penuh keyakinan.
Setelah menjalani berbagai macam pengobatan dan terapi, dari satu Dokter ke Dokter yang lain, akhirnya kini Peter bisa bergerak. Ia bisa berdiri dan berjalan, tetapi tentu tak bisa berjalan cepat apalagi berlari seperti dulu.
__ADS_1
"Aku yakin Louisa tidak akan suka jika kau bisa berlari seperti dulu," ujar Simon sambil terkekeh.
Saat ini kedua nya duduk santai di depan rumah, sambil terus menatap ke pagar mansion seolah menunggu seseorang.
"Dia memang tidak pernah menyukai ku," ujar Peter.
"Kau sudah tahu dia tidak menyukai mu, tapi kau terus saja meminta nya melakukan ini dan itu!" Simon menggerutu kesal, tetapi Peter tak peduli hal itu.
Selama dua bulan terakhir, Peter memang melatih fisik Louisa. Meminta wanita itu berlari dengan jarak tertentu dengan waktu yang sudah di tentukan setiap pagi, bahkan ia juga di ajari karate dengan alasan untuk melindungi diri.
Awalnya semua orang melarang, takut itu semakin buruk untuk keadaan Louisa. Akan tetapi ternyata Louisa sendiri justru semangat belajar ilmu bela diri, dia sendiri yang ingin lebih kuat, berharap itu juga dapat menguatkan psikis nya, bukan hanya fisik.
Tak berselang lama, sebuah mobil datang.
"Mereka datang," ujar Simon sambil tersenyum lebar.
Louisa dan Ethan turun dari mobil, dan Peter bersiap memarahi wanita itu karena pesan nya yang menjengkelkan. Namun ....
"Aku sakit kepala." Louisa merengek saat ada di depan Peter sambil memegang kepala nya. "Aku juga lemas, aku belum sempat istirahat karena sesampainya di London kami langsung menemui Dokter."
Ia memasang wajah memelas nya, membuat Peter merasa iba dan mengurungkan niat nya untuk mengomel.
"Pergilah istirahat, aku akan meminta pelayan menyiapkan makanan untuk kalian!" seru Peter dengan dingin, raut wajah datar dan tentu tanpa senyum seperti biasa.
Tentu saja batin Louisa bersorak girang, ia pun segera berlari ke kamar nya. Sementara Ethan hanya mengulum senyum geli karena Peter selalu berhasil di permainkan oleh Louisa.
"Aku rasa dia baik-baik saja," kata Simon.
"Itu memang rencana nya untuk menghindari kemarahan Peter," sahut Ethan yang membuat Peter melongo.
"Benarkah?" pekik nya. "Jadi dia tidak sakit?"
Ethan menggeleng sebelum akhirnya bergegas dengan cepat menyusul Louisa ke kamar.
__ADS_1
Kini sisa Simon yang menertawakan Peter, bahkan ia tak segan mencibir sahabat nya itu. "Kau ini polos apa bodoh, Peter?"