
"Tuan Mayer memerintahkan kita langsung masuk dan menghabisi semua yang terlihat berada di luar rumah, kalian paham?"
"Paham, Theo."
Theo, salah satu orang kepercayaan Ethan itu memimpin anak buah Ethan untuk menyerang kediaman Rae.
Dan saat ini anak anak buah Ethan sedang dalam perjalanan ke rumah kediaman Rae, mereka sudah sangat dekat dan sebentar lagi akan sampai.
Tak berselang, Theo mendapatkan pesan dari Simon untuk bergerak.
Mereka pun bergerak tetapi saat hendak memasuki gerbang, ada yang menghalangi jalan mereka.
Polisi itu memaksa mereka semua keluar dari mobil, tetapi tentu saja mereka tak mau. The Eagle tidak akan patuh pada perintah siapapun selain Tuan mereka.
"Cepat keluar!" seru polisi itu sambil menggedor kaca mobil.
Theo teringat dengan pesan Ethan, siapapun yang menghalangi jalan mereka dalam misi ini maka orang itu harus dibunuh detik itu juga. Tanpa berpikir lagi, Theo keluar dari mobil dan langsung melesatkan timah panasnya tepat ke jantung polisi tersebut.
DORRRR
DORRRR
"Mengganggu!" geram Theo, ia pun langsung menyampaikan kabar itu pada Simon apalagi kini ada dua polisi lainnya yang langsung menodongkan pistol padanya.
Sementara itu, kini perhatian Ethan kembali pada misinya setelah hampir saja ia lengah karena tangisan Louisa.
Simon yang telah mendapatkan pesan dari Theo langsung menyampaikan pesan itu pada Ethan.
__ADS_1
"Kata Theo mereka dihadang oleh polisi, haruskah mereka juga dihabisi?" tanya Simon.
"Kalian juga mau membunuh polisi?" pekik Louisa. "Ethan, jangan lakukan itu.
"DIAM!" bentak Ethan yang seketika membuat Louisa tersentak. Ini kali pertama ada yang membentaknya seperti ini. "Sekali lagi kau bersuara, aku akan melubangi lehermu itu, kau paham?" Ethan mendesis tepat di depan wajah Louisa, membuat gadis itu kembali terdiam.
Kakinya pun terasa lemas seperti tak bertulang, bahkan Louisa merasa ia tak berpijak di bumi.
Kedua orang tua Louisa tentu tak terima anaknya diancam seperti itu. "Jaga bicaramu pada putriku, sialan!" geram Tuan Bertrand.
Ethan menatap Louisa dan ia melihat tatapan gadis itu kosong, Ethan tahu Louisa pasti shock dengan semua ini.
"Duduk!" perintah Ethan sambil mendorong Louisa ke sofa. "Kau juga!" Ethan juga mendorong Nyonya Agatha.
"Simon, perintahkan Theo menghabisi siapapun yang menghalangi jalan mereka!"
Mendengar perintah Ethan, Tommy mulai merasa cemas karena ia tahu polisi yang datang tak banyak. Sebab Tommy tak bisa membuktikan adanya bahaya di rumah itu, sehingga pihak kepolisian hanya mengirim dua atau tiga petugas untuk memeriksa.
Di dalam, tangis Louisa semakin pecah saat mendengar suara tembakan berkali-kali itu.
"Tenang, Sayang," bisik Nyonya Agatha merangkul Louisa.
"Sudah cukup, Ethan!" seru Tuan Bertrand dengan emosi yang sudah memuncak, pria paruh baya itu langsung berlari cepat menghantam tubuh Ethan hingga keduanya terjatuh ke lantai.
Ethan tak sanggup menghindar dan kini pistolnya terlempar. Tommy yang melihat itu langsung mengambil pistol itu, Tommy tertawa girang sambil menodongkan pistol itu ke kepala Simon.
"Hanya begini saja rencana mu anak muda? Receh sekali," cibir Tommy menatap Ethan dengan remeh.
__ADS_1
Ethan masih terlihat santai, bahkan saat Tommy melangkah mundur dengan menyandra Simon sambil berteriak memanggil para bodyguard.
"Permainanmu sudah berakhir, Ethan," sinis Tuan Bertrand yang sudah meras menang.
Namun, Ethan justru mendekati Louisa yang kini hanya tercengang dengan tatapan kosong. "Lou, kau mau menghitung bersamaku?" tanya Ethan yang membuat Louisa langsung menatapnya.
"Apa lagi yang kau rencanakan?" lirih Louisa.
"Ayo berhitung mundur bersama ku," kata Ethan sambil berseringai.
Tommy dan Tuan Bertrand saling melirik, mereka sungguh tidak tahu apalagi rencana Ethan hingga tiba-tiba kembali suara tembak menembak dari luar sana.
Bahkan, suara itu begitu dekat dan terdengar dari depan pintu masuk.
"Astaga! Aku belum menghitung mundur tapi mereka sudah mulai," kekeh Ethan.
Tommy yang merasa marah pada Ethan langsung menarik pelatuknya untuk menghabisi Simon. Namun, sebuah peluru justru menembus kepalanya lebih dulu yang membuat Tommy langsung tewas detik itu juga.
"AAAGGGHHHHHHHH"
Nyonya Agatha dan Louisa histeris saat melihat polisi yang selama ini mereka kenal dengan baik kini tewas mengenaskan di depan mata mereka sendiri.
"Kerja bagus, Peter," seru Ethan yang kini tersenyum puas.
Sementara Tuan Bertrand tampak kehilangan harapan saat melihat mayat Tommy, sekarang ia merasa terpojok dan bingung.
"Aku datang tepat waktu," kata Peter yang kini menyandra ke enam pelayan Louisa, termasuk Bi Amy.
__ADS_1
"Permainanku memang singkat dan akan segera berakhir, Rae," ujar Ethan yang kini mengambil kembali senjatanya dari tangan Tommy. "Karena aku masih punya pekerjaan yang sama pentingnya dengan membunuhmu," imbuhnya.
"Aku tidak bermaksud bermain lama, aku hanya ingin menghabisi dan aku tidak perduli dengan durasi waktunya."