
"Kita buat perjanjian dulu," kata Louisa yang membuat Ethan langsung melongo.
"Perjanjian apa, My girl?"
Ethan cemberut, hasrat yang menggelora dalam jiwa nya telah begitu menyiksa sejak pertama kali dia datang ke Madrid dan membawa Louisa menginap di mansion. Dan sekarang ia hanya butuh satu langkah kecil untuk menuntaskan hasrat itu, tetapi Louisa masih mengganggu nya.
"Kau harus berjanji dulu akan memenuhi perjanjian kita," tegas Louisa.
"Aku berjanji, My girl," jawab Ethan tanpa berpikir panjang.
"Okay, yang pertama ...." Louisa menatap wajah Ethan dengan serius. "Kau tidak boleh pergi begitu saja seperti yang selalu kau lakukan, Ethan, aku hampir mati karena mencemaskan mu." Suara Louisa bergetar, ia teringat bagaimana hari-hari yang ia lalui setelah Kepergian Ethan.
"Aku janji lain kali akan selalu pamit," sahut Ethan penuh keyakinan. "Maafkan aku, My girl." Ia mengusap pipi Louisa dengan lembut.
"Yang Kedua_"
"Ada berapa perjanjian?" sela Ethan dengan cepat. "Aku tidak sabar memasuki mu, Lou, tolong jangan siksa aku." Ia merengek lirih.
"Rasanya tersiksa itu tidak enak, kan?" kekeh Louisa. "Itu juga yang aku rasakan, aku tersiksa saat aku tidak tahu apakah kau akan menamui ku lagi atau tidak. Apakah kau masih hidup atau tidak."
"Jadi apa yang kau inginkan, My girl?"
"Berikan aku kepastian, tanda, atau apapun tentang keadaan mu. Aku harus tahu apakah kau hidup atau tidak."
"Baik, aku akan janji akan melakukan itu." Ethan menjawab dengan cepat. "Ada permintaan lain, Hem?" Ia bertanya dengan sangat lembut.
"Aku ingin kau tetap setia pada ku, dan selalu pulang ke pelukan ku."
Ethan tertawa kecil kemudian menyapukan bibirnya di permukaan bibir Louisa. "Tidak perlu meminta ku melakukan itu, karena bagi ku kamu memang tempat ku berpulang, Lou."
"Sekarang katakan satu hal," pinta Louisa sembari memainkan jari jemarinya di pipi dan dada Ethan. "I Love you, Lou."
"I Love you, Louisa my Wife, Nyonya Mayer."
__ADS_1
Louisa merona, dan entah siapa yang memulai kini kedua bibir mereka sudah menyatu. Dengan intens, menggebu, dan dalam. Seolah ini akan menjadi ciuaman terakhir mereka, seolah ini adalah obat dari segala rasa siksaan yang mereka rasakan selama ini.
Louisa terlalu fokus menikmati ciuman Ethan sehingga ia tak menyadari ketika tangan nakal suaminya itu kini sudah beraksi, melepaskan dua kain yang tersisa dari tubuh mungil Louisa.
Keduanya saling mencumbu, dari wajah, leher, dada, bahkan juga bahu. Ethan yang merasa gemas dengan tubuh mungil Louisa memberikan beberapa gigitan yang akhirnya meninggalkan tanda kepemilikan di sana.
Louisa tak bisa melawan kenikmatan atas segala sentuhan yang Ethan berikan, begitu juga dengan Ethan. Ia tak pernah tahu, ternyata menyentuh tubuh wanita bisa memberikan kenikmatan yang tiada tara seperti ini.
Tubuh Louisa yang lembut, hangat dan halus membuat Ethan tak dapat memikirkan sesuatu yang lain.
"Kau sangat indah, My girl," lirih Ethan dengan suara yang rendah dan berat.
Tatapan kedua nya bertemu, wajah Louisa tampak tegang karena ia tahu kini Ethan akan melakukan penyatuan.
"Apa kau takut?" tanya Ethan sembari menyentuh kening Louisa yang berkerut.
"Tentu saja aku sedikit takut," jawab Louisa.
"Aku rasa setiap orang menikmati percintaan, kenapa kamu harus ta— agh!"
Ethan memekik saat ia mencoba memasuki sang istri, tetapi seperti ada yang menghalanginya. Begitu juga dengan Louisa yang memekik sakit, bisa-bisanya Ethan langsung berusaha masuk begitu saja.
"Apa kau tidak punya bayangan bagaimana orang bercinta?" tanya Louisa, ia tahu Ethan tak pernah bercinta, bahkan tak pernah menonton film romansa. Tapi Louisa tidak menyangka Ethan akan sepolos ini. Suaminya itu masuk tanpa permisi, tanpa rayuan.
"Tidak," jawab Ethan. "Apakah aku salah masuk? Aku seperti tertahan sesuatu."
Louisa meringis mendengar pengakuan sang suami. "Ya Tuhan, kau sudah 30 tahun, dan kau tidak tahu ke mana harus memasukan nya?"
"Sebentar lagi aku 31 tahun," kata Ethan. "Aku rasa wanita hanya punya satu jalan masuk, memang harus masuk dari mana lagi jika jalan yang ini salah."
Louisa kembali meringis, ia ingin tertawa tetapi merasa kesal dengan tingkah Ethan. Ia ingin kesal dan marah, tetapi tingkah Ethan cukup lucu baginya.
"Sayangku, suamiku, belahan jiwaku." Louisa merayu Ethan, ia membelai pipi pria itu dan kembali memangut bibirnya.
__ADS_1
"Dia akan menemukan jalannya sendiri." Louisa berbisik di sela-sela ciumannya. "Dan aku masih gadis, tentu saja masih ada penghalang dan kau harus menembus itu."
Ethan mengangguk mengerti, ia mencoba melepaskan ciuman nya agar bisa fokus pada pergerakan di bawah sana. Namun, Louisa justru menarik tengkuk Ethan, menekan bibir pria itu ke bibir nya. Bahkan, kini Louisa kembali memberikan godaan yang luar biasa pada pria itu.
Kini Louisa yang mengambil alih permainan bibir mereka, sementara Ethan berusaha menerobos pintu di bawah sana.
Louisa meringis, rasa sakit itu semakin terasa, perih. Bahkan, air mata Louisa tak dapat di bendung lagi. Ethan yang melihat sang isti menangis mencoba menghentikan aksi nya. Akan tetapi Louisa justru menahan pinggul Ethan.
"Harus tetap masuk, Sayang, jangan ditarik."
"Tapi—"
"Sentak saja yang keras—"
"Auh, MOMMY!"
Louisa menjerit saat Ethan benar-benar menyentak nya dengan keras, hingga benteng Louisa tembus.
Air mata Louisa semakin mengalir deras, bahkan gadis itu sampai terisak.
Ethan panik, ia segera menghapus air mata Louisa sembari terus mengucapkan kata maaf.
"Maafkan aku, My girl, sungguh maafkan aku."
Wajah pria itu pucat, selama ini ia tak pernah membiarkan orang lain menyakiti Louisa. Lalu kenapa sekarang justru ia yang membuat Louisa menangis?
"Aku menyakitimu, maafkan aku." Ethan hendak menarik diri tetapi Louisa kembali mencegahnya.
"Jangan bergerak, bodoh!" seru Louisa di sela isak tangis nya.
"Tapi aku menyakitimu," lirih Ethan dengan raut wajah penuh penyesalan. "Aku tidak bisa menyakitimu."
Louisa mengulum senyum, ia memainkan jarinya di dada Ethan, membuat gerakan abstrak yang entah bagaimana hal kecil itu berhasil memancing gairah Ethan kembali.
__ADS_1
"Sakitnya hanya sebentar," kata Louisa. "Oh Ethan, kau seorang Don Mafia tapi kau masih begitu murni, Sayang. Haruskah aku bangga memiliki mu, Hem?"
"Mafia-ku yang begitu murni."