Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 103 - Menuju Akhir Dari Segalanya


__ADS_3

Amber dan Dexter merasa bingung sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi di dalam markas, mereka bisa mendengar dengan jelas suara tembakan di sana. Yang artinya masih ada perlawanan sengit dari musuh, mereka juga dapat mendengar semua percakapan orang-orang di bawah sana karena ia pun terkoneksi dengan Jose.


"Haruskah kita turun dan membantu Jose?" tanya Amber yang sudah tak sabar menunggu kabar kekalahan lawan.


"Mereka sudah sangat banyak, sedangkan Ethan hanya bersama dua puluh orang," tukas Dexter. "Kita tunggu saja, jika Ethan kalah, kita akan turun. Tapi jika pihak kita yang kalah, maka kita harus pergi."


Amber menatap sang Kakak dengan kesal kemudian berkata, "Itu benar-benar tindakan pengecut, Dexter!"


Amber membuang napas kasar, marah dengan tindakan Dexter yang menurutnya terlalu lambat dan terlalu banyak berpikir. "Kau akan melepaskan orang yang membunuh ayah kita begitu saja?" geramnya kemudian.


"Bukan membiarkannya pergi, Amber, hanya melihat situasi apakah kita akan membunuh atau justru terbunuh!" Dexter membantah dengan kesal. "Lain kali, berpikirlah dengan sedikit bijak, agar kita bisa memenangkan sebuah pertarungan. Apa yang terjadi pada ayah kita itu karena dia terlalu terburu-buru, tidak mengenali kekuatan dan kecerdasan musuh sehingga dia terjebak pada rencananya sendiri."


"Oh, jadi sekarang kau menyalahkan ayah?"


Dexter sudah membuka mulut, ingin sekali memarahi adik perempuannya itu. Namun, ia kembali menutup mulutnya. Merasa hal itu justru akan membuat keduanya terus bertengkar.


Dexter melirik arlojinya, sudah jam 4, pikirnya. Tetapi sampai detik ini tak ada tanda-tanda kemenangan untuknya, juga tak ada tanda-tanda kekalahan dari pihak lawan.


Yeah, sudah dua jam mereka main petak umpet yang cukup berbahaya. Sudah banyak musuh yang tewas, bahkan kini sisa setengah saja lawan Ethan. Sementara Ethan dan sekutunya masih tak terluka sedikitpun berkat bantuan Peter. Walaupun begitu, meraka juga mulai merasa lelah dan ingin cepat mengakhiri pertempuran ini.


Saat ini, Ethan sedang mengincar Jose. Ia harus membunuh pria itu agar hidup Peter tak lagi terancam.


Sementara Jose kini berlindung di salah satu ruangan, di mana ada Erik juga Gonza di sana. "Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Jose.


"Kita harus menyusun strategi baru," tukas Erik. "Aku yakin ada yang mengawasi kita dan mengarahkan Ethan juga yang lain untuk menyerang kita, jadi sekarang kita harus melakukan hal yang sama."


"Tapi kita tidak punya akses pada kamera cctv di tempat ini," sahut Jose sembari mengatur napasnya yang memburu.


"Siapa yang baru saja kau hadapi? Kau terlihat kelelahan," sambung Gonza.

__ADS_1


"Ethan, dia sendirian tetapi menyerang kami menggunakan senjata laras panjang," papar Jose.


"God, pria itu gila!" geram Gonza. "Kita harus membunuh Ethan sebelum matahari terbit, jika pria itu mati, maka anak buahnya pasti akan lari atau menyerah."


"Masalahnya kita tidak tahu Ethan ada di mana, bangunan ini sangat besar, ada banyak lorong dan ruangan."


"Hanya Erik yang hafal setiap sudut tempat ini."


Jose dan Gonza langsung menatap Erik yang sejak tadi hanya diam. "Kita sudah menghancurkan semua kamera cctv, jadi sekarang pasti tidak akan ada yang bisa menyerang kita atau melindungi Ethan dan yang lainnya." Gonza berkata penuh percaya diri.


"Baiklah, aku akan maju mencari keberadaan Ethan," kata Erik. "Kalian harus mengawasi ku karena aku yakin akan ada yang diam-diam menyerang kita."


Ketiga pria itu saling pandang, mereka kembali mendapatkan rasa percaya diri dan semangat tempur lagi setelah mendapat ide itu.


Namun, sayangnya rencana mereka terdengar jelas oleh Peter yang mengawasi mereka bak malaikat.


Saat ini, Ethan sedang bersama Simon. Mereka sama-sama mengincar Jose, dan sisanya mengincar Martin, Gonza dan Orlando.


"Di mana Jose?" tanya Ethan.


"Di bagian utara, ruangan dekat dapur. Dia sedang bersama Erik dan satu pemimpin, mereka berencana untuk menjebak mu keluar."


Peter membeberkan rencana Jose dan kedua temannya pada Ethan dan tentu secara otomatis anak buah Ethan yang lain mendengar, Peter dan Ethan pun kembali menyusun rencana untuk menjebak mereka dalam rencana mereka.


...🦋...


Di Madrid masih menunjukkan pukul 2 dini hari, Nyonya Agatha sudah tertidur lelap karena kekenyangan juga kelelahan. Namun, beda hal nya dengan Lousia yang masih terus terjaga.


Louisa sungguh tidak tahu apa yang terjadi pada Ethan sekarang, apakah pria itu juga berpesta menikamati malam tahun baru, ataukah pria itu sedang berada dalam sebuah misi berbahaya.

__ADS_1


"Di saat semua orang menikamati malam ini bersama pasangan mereka, aku justru seperti janda sebelum dinikahi," gerutu Louisa.


Ia mencoba menghubungi nomor telepon Ethan yang tersimpan di ponselnya, tetapi yang menjawab justru operator.


"Haruskah aku datang ke Moscow, Ethan sialan?" geram Lousia. Kesal, sedih, rindu, khawatir, semuanya bercampur menjadi satu. Dan jika perasaan itu terus terjadi, mungkin sebentar lagi Lousia akan gila


...🦋...


Di Markas The Eagle.


Erik menyusuri lorong markas dengan dua senjata di tangannya, diam-diam Jose, Gonza dan beberapa anak buah mereka melindungi Erik dari kejauhan, dari berbagai sisi.


Dan benar saja, tak lama kemudian terdengar suara tembakan dari arah kiri. Erik langsung membalas tembakan itu, tetapi kini tembakan datang dari arah kanan, depan juga belakang. Erik terpaksa berlindung untuk menyelamatkan nyawanya. Sementara Jose, Gonza dan yang lainnya mencari siapa yang menembak. Namun ....


Dorrr


Dorr


Dorrr


Mereka juga ditembaki, sehingga mau tak mau mereka juga harus berlindung.


Kini Ethan muncul dari persembunyiannya. Erik dan Jose yang mengetahui hal itu juga keluar dari persembunyiannya, lagi-lagi mereka mengepung Ethan. Namun tiba-tiba ada karung yang jatuh dari atas, membuat mereka semua terkejut apalagi ketika darah keluar dari karung itu.


"Mau melihat isinya?" sinis Ethan.


Jose memberikan isyarat pada salah satu anak buahnya untuk memeriksa siapa yang ada dalam karung itu. Dan ketika dibuka, Gonza hanya bisa tercengang melihat dua temannya sudah berlumuran darah. Martin juga Orlando.


"KAU PENGECUT!" teriak Gonza marah.

__ADS_1


__ADS_2