
Peter memejamkan mata sembari terus menggumam bahwa ini hanya mimpi.
"Aku tidak melihatnya, aku sama sekali tidak melihatnya."
Peter merasa sangat gugup, dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Apalagi jantungnya berdetak sangat cepat.
Setelah beberapa menit berdiam mencoba menenangkan diri, kini Peter membuka mata dan seketika ia bernapas lega karena Ashley tak ada di sana.
"Jadi itu bukan mimpi? Apakah aku sungguh berhalusinasi?" Peter bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Setelah yakin situasinya aman, ia pun menyibak selimutnya. Peter mengambil ponselnya yang menyala, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Ethan membuat ia langsung merasa khawatir.
Tanpa membuang waktu, Peter langsung menghubungi Ethan tetapi tak ada jawaban dari pria itu. Sekarang Peter benar-benar cemas, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan mereka di mansion?
"Oh Tuhan, jaga mereka!" gumam Peter dengan begitu tulus dan penuh harap.
Ia baru menyadari ada beberapa pesan masuk dari Ethan, Peter pun segera membuka pesan itu dan seketika ia langsung terharu mendengar kabar kehamilan Louisa.
"Setan kecil itu akhirnya hamil juga," gumam Peter bahagia. "Aku harus memberinya hadiah, ini benar-benar kabar yang membuatku bahagia."
Saat Peter hendak menghubungi Ethan sekali lagi, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita yang tidak asing baginya.
Ashley.
Yeah, itu suara Ashley. Namun, Peter merasa itu hanya halusinasinya jadi ia mengabaikan suara itu. Hingga tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang di iringi dengan suara Angel.
Peter segera membuka pintu, bahkan tak sabar ia juga ingin memberi tahu kabar ini pada Angel dan Dante.
Akan tetapi....
"Hai?"
Raut wajah Peter yang tadi sumringah dan ceria kini langsung berubah sendu, bahkan wajahnya langsung pucat pasi melihat Ashley tersenyum lebar padanya.
"Ini mimpi atau halusinasi?" pikir Peter.
"Aku datang ke sini ingin mengucapkan terima kasih," kata Ashley sembari menyentuh lengan Peter, seketika pria paruh baya itu terkesiap. Lagi-lagi ia merasakan sensasi disengat listrik hanya karena sentuhan lembut itu.
__ADS_1
Bahkan, Peter langsung menarik tangannya secara spontan. Membuat Ashley sedikit bingung, apalagi raut wajah Peter seperti orang melihat hantu saja.
"Uncle Peter, aunt Ashley membawakan makanan loh untuk kita," seru Angel yang seketika menyadarkan Peter bahwa itu bukan mimpi atau halusinasi.
"Iya, sebagai ucapan terima kasih karena kamu sudah menolongku dua kali." Ashley menambahkan sembari menyentuh Peter sekali lagi.
Dan sekali lagi Peter hendak menarik tangannya, tetapi kali ini Ashley justru langsung memegang tangan pria itu dengan kedua tangan nya setelah itu ia menarik Peter menuju meja makan.
"Lepaskan aku, Nona," seru Peter berusaha tegas dan mengintimidasi seperti biasa. Akan tetapi suaranya justru bergetar, dan ia tak bisa menyembunyikan kegugupannya.
Ashley yang menyadari itu langsung terkekeh tetapi ia segera melepaskan Peter. Hingga tiba-tiba entah bagaiman Ashley terpeleset hingga ia hampir jatuh, secara spontan Peter langsung menangkap tubuh wanita dengan cara memegang punggungnya.
Saat Peter berhasil menangkap tubuh Ashley, seketika Peter merasa lagi-lagi mereka ada di taman dan suasana pun seperti musim semi. Bahkan, mentari terasa begitu hangat dan bersinar sangat indah.
Posisi mereka sangat indah, begitu dekat dan setengah berpelukan. Bahkan, Peter dapat mencium aroma manis dari tubuh Ashley.
Ashley pun kembali terpesona dengan aksi sigap sang dewa pelindungnya itu, sehingga bokongnya selamat dari mencium lantai di mana rasanya itu pasti lah sangat sakit.
Angel yang melihat hal itu juga tampak terpesona, merasa aksi paman es kutub itu sangat manis.
Suara gadis kecil itu langsung menyadarkan Peter dari lamunannya, seketika teman itu kini berubah menjadi ruang tengah rumah Peter.
Peter segera membantu Ashley berdiri tegak, setelah itu ia kembali berlari ke kamarnya, padahal Ashley suka membuka mulut hendak mengucapkan terima kasih.
Bersamaan dengan itu, Dante datang dan ia hanya bisa mengernyit melihat Peter yang lagi-lagi lari ke kamarnya.
"Ada apa dengannya?" tanya Ashley bingung.
"Entahlah, sejak tadi dia bertindak aneh," jawab Dante.
"Dia tersipu, Daddy!" seru Angel yang memang selalu memperhatikan Peter. "Setiap kali uncle Peter ada di dekat Aunty Ashley, dia selalu tersipu. Wajahnya memerah, lucu sekali."
"Ah, apa itu benar?" tanya Ashley yang juga tersipu. "Aku rasa aku menyukai pria tua itu, dia adalah dewa pelindungku."
Dante meringis mendengar pengakuan wanita di depannya ini, Ashley memang bukan lah wanita muda, tetapi tetap saja usianya jauh lebih muda dari usia Peter. Ashley masih berusia 32 tahun, masih cukup muda.
"Dia pria tua yang kaku seperti kanebo kering, kau tidak akan cocok dengan dia," ujar Dante yakin.
__ADS_1
"Justru itu lah yang membuat aku terpesona pada nya," kata Ashley. "Dia bukan tua, dia adalah pria dewasa yang matang. Aku suka dengan sikap dinginnya karena sebenarnya dia punya hati yang hangat."
"Itu sangat benar!" seru Angel dengan lantang. "Aku mendukungmu mendekati uncle Peter, Aunty Ashley, aku mendukungmu!"
"Kalau begitu, kau harus membantuku, Angel kecil."
"Pasti, Aunty! Aku juga bosan melihat uncle Peter jomblo!"
Sementara di sisi lain, Peter yang panik langsung menghubungi Simon. Saat panggilan terjawab, Simon langsung bertanya, "Apa kau sudah mendengar kabar dari Ethan bahwa Louisa hamil?"
"Iya, aku sudah tahu," jawab Peter dengan suara yang bergetar.
"Ada apa denganmu? Suaramu bergetar, apa kau dalam masalah?"
"Iya," jawab Peter sembari memegang dadanya, di mana jantungnya berdetak sangat cepat. "Aku rasa ... aku punya masalah yang lebih besar, aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi jantung ku berdebar, tubuhku seperti disengat listrik. Dan aku ... aku selalu berhalusinasi."
Peter berbicara dengan panik, dan itu pasti membuat Simon bingung.
"Berbicara lah yang jelas, sialan!" desis Simon dari seberang telfon. "Jangan membuat moment bahagia karena kehamilan Louisa menjadi kecemasan karena pria tua seperti mu ini."
Peter yang mendengar itu hanya bisa menghela napas lesu. "Cepat bicara lah! Apa yang sebenarnya terjadi."
"Aku bertemu ... bertemu seorang wanita," cicit Peter kemudian.
"Lalu? Apa kau melihat pelangi dan merasa ada di musim semi?" tanya Simon lagi.
Peter terdiam sejenak dan mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Ashley. "Iya, aku bahkan merasa seperti ada kelopak bunga mawar yang menghujaninya."
Seketika terdengar suara gelak tawa Simon dari seberang telpon, suara tawa seolah pria itu merasa sangat bahagia dan puas.
"Kau jatuh cinta padanya, bodoh!"
"Aku tidak merasa begitu," bantah Peter. "Aku ... aku selalu melihat dia di mana-mana, aku bahkan melihat dia di bawah selimut ku." Peter merengek, seolah merasa begitu tersiksa dengan hal itu.
"Kalau begitu kau hanya butuh dua hal," kata Simon. "Kau butuh wanita itu atau psikiater."
"Kau pikir aku punya masalah mental sampai butuh psikiater?" pekik Peter dengan kesal.
__ADS_1