Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 102 - Tak-Tik


__ADS_3

...Sekarang...


Erik dan yang lainnya menatap Ethan dan ke dua puluh orang yang mengelilingi mereka. Namun, mereka masih tak terlihat takut. Bahkan, dengan percaya diri Erik berkata, "Mereka hanya anggota militer, bukan malaikat maut. Dan kalian hanya 20 orang, kami bisa menghabisi kalian dalam waktu lima detik!"


Sudut bibir Ethan sedikit melengkung, membentuk sebuah senyum samar yang sebenarnya tampak mengerikan.


Sementara Ethan dan para tentara itu kini mendengarkan instruksi Peter. "Aku beri waktu lima detik, bunuh mereka semua kecuali para pemimpin!"


Para tentara itu saling memandang, kemudian mereka menatap para musuh, seolah membidik mereka dan ....


Tek


Lampu mati.


Para musuh menembak secara asal ke tempat para tentara tadi berdiri, tetapi tentu saja tak ada siapapun di sana. Sementara suara tembakan terdengar dari arah yang berbeda, begitu cepat dan terdengar suara erangan yang memekakan telinga.


Erik dan Gonza pun ikut menembak sembari melangkah mundur, dan lima detik kemudian lampu kembali dinyalakan.


Seketika Erik dan Gonza terbelalak, melihat semua anak buah mereka terkapar dengan luka tembak di dada dan perut. Tak ada satu pun dari anak buah mereka yang lolos dari tembakan.


Kedua pria itu menatap ke sekeliling mereka, mencari Ethan dan yang lainnya. Namun, mereka menghilang seperti bayangan.


"Sial!" geram Erik.


"Pasti ada seseorang yang membantu mereka dari belakang," ujar Gonza.


"Aku tahu itu," desis Erik. "Aku juga harus melakukan hal yang sama, mengawasi pergerakan mereka dari cctv."


Erik segera masuk ke ruang kontrol, tetapi semua monitor sudah rusak. Erik tercengang, bagaimana bisa Ethan merusak ruangan itu dalam waktu lima detik dan anak buahnya juga lumpuh dalam lima detik?


Sekarang Erik sadar, Ethan tak dapat diremehkan.

__ADS_1


"Kita harus menghancurkan semua kamera cctv agar mereka tidak bisa mengawasi kita lagi!" seru Erik pada Gonza.


Sementara itu, Martin dan beberapa anak buahnya terus berjalan dengan siap siaga, menelusuri setiap lorong markas yang sebenarnya berbentuk lingkaran itu. Ada begitu banyak lorong dan ruangan, sehingga begitu besar kemungkinan mereka akan tersesat.


Hingga tiba-tiba ....


DORRR


DORRRR


Terdengar suara tembakan yang membuat mereka terkejut, dua anak buah Martin terkapar dengan luka tembak dari punggung tembus ke depan dan itu tepat mengenai jantung mereka. Sudah pasti yang menembak adalah orang yang ahli dan terlatih.


"Sial!" geram Martin marah.


Ia dan anak buahnya langsung membalas tembakan itu, tetapi sayangnya musuh berhasil menghindar. Mereka terus maju dan tak berhenti melesatkan timah panas mereka, tak memberi kesempatan pada musuh untuk balas menembak. Namun, kini mereka justru di tembak dari arah belakang.


Dengan sigap sebagian dari mereka membalas tembakan dari arah belakang, sementara yang lain mengawasi dari arah depan.


"Bukan kah itu lebih baik?" sahut temannya yang juga tertawa. "Sebuah aksi bisa dikatakan peperangan jika ada perlawanan. Tapi jika tidak ada, maka itu sebuah penindasan dan hanya pengecut yang melakukan penindasan."


Suara tembakan masih terdengar, barang-barang yang ada di sana menjadi korban. "Sial, mereka tidak memberikan kita waktu kita untuk menembak."


"Sebentar lagi, saat mereka mengisi amunisi. Kita punya waktu lima detik, jika mereka bisa mengisi amunisi secepat itu."


Benar saja, tak berselang lama para musuh itu kehabisan amunisi satu persatu dan mereka harus segera mengisinya. Namun, ternyata mereka tidak cukup cepat saat mengisi amunisi tersebut. Sehingga kesempatan itu digunakan untuk membantai mereka oleh para anak buah Ethan.


Martin mencoba membalas tembakan itu, tetapi ia juga kewalahan.


"Sial! Kenapa kalian tidak menunjukkan diri jika memang kalian berani?" teriak Martin kesal.


Di sisi lain, Peter tertawa kecil mendengar ucapan Martin. "Tampakan diri kalian!" seru Martin.

__ADS_1


Tanpa membantah, tiga anak buah Ethan menampakkan diri. Apalagi anak buah Martin sisa lima orang saja yang masih selamat dari tembakan. "Beraninya kalian menembaki kami dari belakang," sinis Martin sembari mengangkat senjatanya.


"Kalau begitu kami akan menembaki kalian dari depan," kekeh anak buah Ethan itu.


"Senjata pria itu adalah revolver berkaliber .22, isi 10 peluru. Dia sudah menembak sebanyak 8 kali, sisa dua peluru!" para anggota militer itu merasa takjub mendengar penjelasan Peter yang ternyata mengerti senjata dengan baik, bahkan dapat menghitung berapa kali Martin menembak. Pengetahuan seperti ini sangat penting dalam segala situasi, agar bisa menebak apa tindakan musuh selanjutnya.


"TEMBAK DAN BERLINDUNG!"


Lagi-lagi ketiga mantan anggota militer itu menembak kemudian berlindung dengan cepat. Hal itu memancing musuh untuk balas menembak, yang sebenarnya Peter lakukan untuk menguras sisa peluru mereka.


Dan benar saja, Martin kini kehabisan pelurunya. Kesempatan itu para anak buah Ethan gunakan untuk menyerang balik. Mereka menembak, kemudian berlindung. Hal itu terus mereka lakukan hingga musuh berhasil mereka tumbangkan. Bahkan, Martin pun terkena luka temban di dada kirinya sebanyak dua kali. Pria malang itu mengerang kesakitan dan langsung bersembunyi.


"Ethan tidak pernah salah memilih teman," puji Peter senang.


Sementara di sisi lain Simon dan kedua teman Dante menyerang Orlando dan anak buahnya. Trik mereka sama, menyerang dalam kegelapan dari dua sisi yang berbeda. Menembak dan berlindung.


Jose dan beberapa anak buahnya juga diserang oleh Ethan, sendirian. Berkat bantuan Peter, ia tahu harus menyerang dari mana.


Hal itu rupanya membuat Jose marah, ia memerintahkan anak buahnya untuk mencari sang penembak. "Cepat temukan orangnya dan bunuh mereka semua!" seru Jose.


"Hanya satu!" tiba-tiba Ethan datang dengan membawa senjata laras panjang.


Jose terkejut, tetapi itu hanya sepersekian detik. Di detik selanjutnya, Ethan justru menembaki mereka tanpa henti dengan senjata laras panjang itu. Mereka kewalahan dan terpaksa berlindung, begitu juga dengan Jose.


"Kenapa kalian mundur?" teriak Ethan dingin. "Keluar dan terima lah kematian kalian!"


"Sial, kenapa semuanya jadi berantakan seperti ini?" Jose menggeram, antara kesal, menyesal dan marah. Ethan menembak seperti orang gila dan tak memberikan kesempatan padanya untuk balas menembak.


Sementara itu, Erik dan Gonza berusaha menghancurkan semua cctv, tetapi sayangnya itu tidak berguna. Sebab, Ethan tidak mengawasi mereka dari kamera cctv itu, tetapi kamera baru yang diam-diam Ethan pasang sendiri dan tidak ada satu orang pun yang tahu di mana letaknya.


Peter yang hanya menjadi penonton kini tertawa geli melihat raut wajah para pimpinan musuhnya, ia merasa begitu puas dan semakin yakin mereka akan keluar sebagai pemenang, karena memangitu yang akan terjadi.

__ADS_1


"The real king tidak banyak bicara, tetapi bertindak dengan nyata."


__ADS_2