
Saat tengah malam, Ethan terbangun karena merasa haus dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah Louisa. Senyum Ethan langsung terbit, matanya berbinar dan ia tak bisa menahan diri untuk tidak mengecup gemas bibir gadisnya itu.
"Kau lucu sekali," gumam Ethan. Ia kembali memberikan kecupan singkat di bibir Louisa hingga gadis itu melenguh lirih, merasa terganggu dengan kelakuan Ethan. "Baiklah, tidur yang nyenyak My girl, aku tidak akan mengganggumu."
Ethan mematikan televisi yang masih menyala, setelah itu ia segera pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Saat dahaganya terpuaskan ia pun kembali ke kamar dan Ethan langsung mendesakan tubuhnya ke tubuh Louisa.
"Oh Tuhan, bagaimana caranya aku bisa berhenti merindukanmu sebentar saja, hm? Hanya satu menit aku meninggalkanmu ke dapur dan aku sudah sangat merindukanmu," kata Ethan. Ia menyentuh bibir Louisa dengan jarinya, mengusap dengan pelan dan pada akhirnya bibir Ethan mendarat di bibir ranum gadisnya itu.
Ethan kembali memberikan kecupan, ciuman dan lumataan yang mesra.
"Ehh!" Ethan kembali melenguh.
"Apa kau bermimpi indah, My girl?" bisik Ethan di telinga Louisa. Bahkan, pria itu juga menciumi pipi dan daun telinga Louisa.
"Ethan," tegur Louisa kesal dengan suara yang serak.
"Aku ingin menciummu," kata Ethan yang membuat Louisa terkekeh. Ia pun membuka matanya yang terasa sangat berat itu.
"Tapi ini tengah malam, Honey, sebaiknya kau tidur, okay? Kau bisa menciumku besok, sekarang aku benar-benar mengantuk," pungkas Louisa sembari sedikit bergeser hingga ke tengah ranjang.
"Kemarilah!" Louisa merentangkan kedua tangannya dan Ethan kembali masuk ke dekapan gadis itu, seperti anak ayam yang berlindung ke pelukan induknya.
"Malam ini kita berpelukan saja, ya. Besok baru kau boleh menciumku lagi."
Ethan mengangguk patuh, ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Louisa sehingga mau tak mau Louisa harus sedikit mengangkat wajahnya. Lengan kekar Ethan melingkar dengan begitu posesif di pinggang ramping Louisa.
"Tidur, Honey," pinta Louisa.
"Hem," sahut Ethan sembari menghirup aroma tubuh Louisa, seolah ia membutuhkan aroma tubuh itu untuk bertahan hidup.
Keduanya kembali tertidur dalam posisi yang mesra, hingga tak berselang lama samar-samar Ethan mendengar dering ponselnya.
Ethan langsung mengambil ponsel itu sebelum menganggu tidur Louisa, ia hendak mematikan ponselnya tetapi ada sebuah pesan yang membuat pupil mata Ethan melebar.
"Peter!" gumam Ethan cemas.
Ia langsung menatap Louisa yang masih terlelap, kemudian menatap layar ponselnya yang menampilkan pesan dari Simon.
__ADS_1
"Peter terluka."
"My girl," bisik Ethan di telinga Louisa. "I love you so much, aku akan kembali nanti, okay?" Ethan memberikan kecupan mesra di kening, pipi dan bibir Louisa sebelum akhirnya ia bergegas pergi dengan berat hati.
...🦋...
Saat pagi menjelang, Nyonya Agatha terbangun dari tidurnya dan ia langsung memeriksa ponselnya saat teringat dengan keberadaan Louisa.
"Aku tidak mengerti kenapa gadis zaman sekarang mudah sekali percaya pada orang," gumam Nyonya Agatha heran.
Keningnya berkerut saat ia mendapatkan pesan dari Ethan yang memintanya datang ke alamat mansion yang pria itu kirimkan. "Dia yang mengajak Louisa pergi, seharusnya dia yang mengantarnya pulang," gerutunya.
Namun, meskipun kesal Nyonya Agatha tetap memilih pergi ke alamat itu untuk menjemput Louisa.
Selama dalam perjalanan, ia mencoba menghubungi Louisa tetapi tak ada jawaban. "Apa dia masih tidur?"
Sementara di sisi lain, Louisa yang terbangun dari tidurnya mengernyit bingung karena tak ada Ethan di sisinya.
"Ethan?" panggil Louisa sembari berjalan menuju kamar mandi.
Tak ada pria itu di sana, ia pun segera turun ke bawah sembari terus memanggil nama Ethan. Namun, tak yang menyahut. Hal itu membuat dada Louisa bergemuruh, ada rasa takut, cemas juga marah. Dia tidak tahu Ethan ke mana, dan dia takut jika Ethan meninggalkannya begitu saja.
Hasilnya sama, tak ada siapapun di mansion besar itu. Mata Louisa berkaca-kaca, takut dan kesal kini menyatu dalam hatinya.
Saat ia hendak kembali ke kamar, terdengar suara bel pintu dari luar yang membuat Louisa terkejut dan panik. Bagaimana jika itu musuh Ethan? Pikir Louisa.
Namun, ia mencoba mengintip dari kamera yang terpasang di dekat pintu dan Louisa bernapas lega karena yang datang ternyata ibunya.
"Mom?" Louisa segera membuka pintu utama.
"Astaga, Lou, dari mana saja kamu? Mommy telfon dari tadi tapi tidak dijawab," gerutu Nyonya Agatha.
"Mom, bagaimana kau bisa ada di sini?" tanya Louisa.
"Ethan menyuruhku datang ke sini," jawab Nyonya Agatha. "Di mana pria itu sekarang? Apa kalian tidur satu kamar? Tidak terjadi sesuatu, kan?"
"Ethan pergi," lirih Louisa dengan mata yang kembali berkaca-kaca dan ia enggan menjawab pertanyaan beruntun sang Ibu.
__ADS_1
"Oh, pantas saja dia memintaku segera datang," gumam Nyonya Louisa.
"Apa dia tidak mengatakan sesuatu padamu, Mom? Atau menitipkan pesan untukku?" Louisa bertanya dengan suara bergetar. Pria itu berjanji akan bersamanya seharian, tetapi sekarang dia sudah menghilang di pagi-pagi buta tanpa pamit.
"Tidak," jawab Nyonya Agatha. "Dia hanya memintaku cepat datang untuk menjemputmu."
Louisa segera mengambil ponselnya, ia mencoba menghubungi Ethan tetapi nomornya tidak aktif. Louisa mencoba memeriksa pesan, berharap pria itu meninggalkan pesan untuknya tetapi tak ada satu pun pesan dari Ethan.
Baju dan ponsel pria itu juga sudah tidak ada, dan tanpa terasa kini Louisa menitikan air matanya. Entah apa yang membuat dia menangis, marah karena ditinggalkan begitu saja atau takut dan cemas karena Ethan tak meninggalkan apapun sehingga Louisa tidak tahu apa yang terjadi.
"Kita harus pulang, Lou, Mommy mau bekerja, Sayang," kata Nyonya Agatha.
Louisa hanya bisa pasrah, ia meninggalkan mansion itu dengan perasaan yang berkecamuk.
"Kau melanggar janjimu, Ethan," batin Lousia sedih. "Apakah sulit menghabiskan waktu sehari saja bersamaku? Hanya sehari."
...🦋...
Di sebuah rumah sakit di Moscow, Simon hanya bisa tertunduk lesu di sisi Peter yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.
Wajah pria itu babak belur, ada 4 peluru yang di temukan di tubuhnya. Ada yang di perut, dada, pundak dan juga pinggang.
"Maafkan aku," kata Simon. "Ah, tidak, aku belum melakukan kesalahan apapun padamu jadi aku tidak akan meminta maaf," ucap Simon. "Yang banyak melakukan kesalahan itu kamu, Peter, jadi kamu harus bangun dan meminta maaf padaku."
Simon menghela napas panjang, ia menyentuh lengan Peter dengan jari telunjuknya, menekan dan mencoleknya sambil berkata, "Bangun, Kawan. Karena penampakan wajahmu yang seperti orang tidak berdaya ini sangat tidak lucu."
"Oh ya, aku terpaksa menghubungi Ethan dan memberi tahunya bahwa kau terluka. Aku takut ini adalah hari terakhir kamu hidup di dunia, jadi setidaknya Ethan punya kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal."
"Tapi bukankah terlalu cepat jika kau mati sekarang? Ethan belum menikah, bukankah kita sangat ingin melihat Ethan bahagia?"
"Ck, kenapa kau sekarat di waktu seperti ini, Peter!"
Meskipun mulutnya berceloteh tidak jelas, tetapi Simon tak bisa menyembunyikan kecemasan dan ketakutan yang terlihat di matanya.
"Apa yang harus aku katakan pada Ethan, Peter?"
Bersamaan dengan itu, pintu ruang rawat Peter terbuka secara tiba-tiba yang membuat Simon terkejut.
__ADS_1
Ethan muncul dengan wajah yang tegang, napas memburu dan pria itu berkeringat.
"Apa yang terjadi, Simon?"