
"Apa yang kau lakukan pada nya, Andres?"
"Meracuninya."
Louisa dan Nyonya Agatha sama-sama menganga lebar mendengar apa yang dikatakan oleh Andres. "Aku memang memintamu menembak kepalanya, Andres, tapi itu tidak sungguhan," lirih Louisa, ia sungguh tak habis pikir bagaimana bisa Andres bisa membunuh orang dengan begitu mudahnya.
"Oh Tuhan, bagaimana bisa kau membunuh seseorang dengan begitu mudahnya?"
"Kau bisa masuk penjara, Andres!" Nyonya Agatha menambahkan dengan tegas. Namun, hal itu tidak membuat Andres takut, ia justru tertawa kecil yang membuat Nyonya Agatha dan Louisa bingung.
"Jika dia dibawa ke rumah sakit dalam waktu tiga puluh menit dan Dokter dapat menemukan penawar pada racunnya, maka dia akan sembuh. Namun, jika dia tidak mendapatkan pertolongan apapun selama tiga puluh menit, dia akan mati secara perlahan," tutur Andres menjelaskan.
" Dia akan merasa kesakitan di seluruh tubuhnya, tetapi dia tidak dapat mengatakan hal itu karena dia tidak akan sanggup bersuara." Lanjutnya yang membuat Lousia dan Nyonya Agatha terperangah.
"Kejam sekali," gumam Louisa tak percaya.
"Kau tidak boleh melakukan itu!" seru Nyonya Agatha.
"Tapi ini belum bisa aku pastikan, Nyonya Rae," kekeh Andres. "Racun ini masih dalam masa percobaan sebenarnya. Dan aku harap kalian tidak perlu merasa bersalah karena pria ini memang buronan."
Andres menunjukan foto pria itu dari ponselnya, dan memang benar foto di bawah foto itu tertera tulisan bahwa pria itu buronan polisi atas kasus pemerkosaan dan pembunuhan.
"Pergi lah dari sini, sebentar lagi polisi pasti datang," pinta Andres sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka, mencari tahu apakah ada cctv atau tidak di sekitar mereka.
"Jangan mengkhawatirkan apapun," tambahnya.
Louisa dan Nyonya Agatha pun hendak pergi, tetapi tiba-tiba kembali memanggil Louisa. "Tunggu sebentar, Nona Rae."
__ADS_1
"Ada apa lagi?" tanya Louisa.
Andres melepaskan kalungnya yang berbentuk selongsong peluru, kemudian menyerahkan benda itu pada Louisa. "Apa ini?" tanya Louisa yang menatap benda asing itu dengan bingung.
"Senjatamu," jawab Andres.
Tentu saja jawaban ambigu itu membuat Louisa kembali mengernyit bingung, hingga Andres kembali berkata, "Kau tidak bisa berkelahi, jadi gunakan cara ini untuk melindungi dirimu sendiri."
Andres membuka bagian teratas selongsong peluru itu dan di dalamnya Louisa melihat ada beberapa jarum. "Apa semuanya beracun?" tanya Louisa.
"Hem," sahut Andres sambil mengangguk. "Gunakan di saat kau terdesak dan tidak punya jalan keluar."
"Tapi aku tidak mau menjadi pembunuh," tegas Louisa. Sementara Nyonya Agatha hanya bisa menyaksikan percakapan mereka. Merasa apa yang Andres katakan ada benarnya.
"Terkadang kau harus membunuh jika tidak ingin terbunuh," tegas Andres.
"Dia benar, Lou," kata Nyonya Agatha sembari mengambil kalung tersebut kemudian memakaikannya ke leher Lousia. "Beberapa orang mengenalimu sebagai orang terdekat Ethan, dan mungkin mereka akan memanfaatkan kamu seperti yang pernah Jose lakukan."
Louisa menatap sang Ibu, sembari mengingat kembali tragedi yang merenggut nyawa sang ayah. "Membunuh untuk membela diri atau orang lain itu tidak apa-apa, Sayang. Tuhan akan mengerti dan tidak akan marah."
"Baiklah, Mom, aku akan menyimpan ini," kata Louisa yang membuat sang Ibu tersenyum lega.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan, menikmati kota Madrid di malam hari.
"Mom, aku ingin sekali makan Street food," Seru Louisa yang entah kenapa tiba-tiba menginginkan hal seperti itu.
"Baiklah, ayo kita makan apapun yang kita mau malam ini," ajak Nyonya Agatha dengan semangat.
__ADS_1
Sementara Andres kini berusaha meretas cctv yang ada di sana untuk menghilangkan jejak mereka, dan alasan ia memberikan jarum yang telah dilumuri racun itu karena Andres yakin suatu hari nanti Louisa akan membutuhkannya. Apalagi setelah Andres tahu apa yang sedang kelompoknya hadapi sekarang, nyawa meraka semua bisa dalam bahaya.
...🦋...
Ethan merasa tak dapat lagi membendung rasa rindunya pada sang istri, rasanya ia ingin terbang sekarang juga ke Madrid.
Dia sangat sanggup melakukan hal itu, tetapi sekarang resikonya terlalu besar. Yang dapat Ethan lakukan untuk mengobati rasa rindunya hanya dengan melihat foto altar tempatnya menikahi Louisa.
Hanya foto altar, tak ada foto Louisa atau pun dirinya. Hal itu sengaja Ethan lakukan agar tak ada yang dapat menemukan informasi apapun tentangnya.
"Setelah semua ini selesai, aku akan menikahi mu secara resmi, My girl," gumam Ethan. "Membuat pernikahan impianmu menjadi kenyataan, dan apapun yang kau mau akan selalu aku berikan."
"Kita juga akan bulan madu ke tempat yang kau mau."
"Tapi bagaimana jika aku tidak bisa datang?"
"Aku harap kau bisa melupakanku dan ... tidak!" seru Ethan dengan sendirinya. "Kau tidak boleh melupakan aku apalagi berpindah ke lain hati, kau milikku."
"Ethan!" seru Simon yang datang tergesa-gesa, membuat Ethan terkejut. "Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu."
Tanpa berkata-kata, Ethan ikut dengan Simon tetapi tanpa sengaja ia menjatuhkan ponselnya saat berpapasan dengan Erik.
Erik pun mengambilkan ponsel itu dan memberikannya pada Ethan. Tanpa mengucapkan terima kasih, Ethan kembali bergegas mengikuti Simon.
Sementara Erik hanya tersenyum sinis. "Sungguh pemimpin sombong yang tak pantas memimpin," gumam Erik kesal.
Ia pun pergi ke ruangannya sendiri dan mempersiapkan apa yang ia perlukan untuk hari eksekusi yang kini semakin dekat. Namun, langkah Erik terhenti saat mengingat gambar apa yang ada di ponsel Ethan.
__ADS_1
"Bukankah itu gereja di Madrid? Apa ada sesuatu yang tersembunyi di gereja itu?