
Enam tahun kemudian....
Mendidik putrinya menjadi wanita yang hebat?
Tidak manja, dan tidak nakal seperti dirinya dulu.
Yeah, itu adalah keinginan Louisa dan Ethan.
Namun, ia lupa bahwa putrinya terlahir sebagai putri Ethan Mayer. Yang kekayaannya berkali-kali lipat melebihi kekayaan ayah Louisa dulu, dan orang-orang di sekitar mereka juga memperlakukan mereka dengan sangat baik.
Ah, jangan lupakan juga dua Kakeknya yang katanya akan melatih Rossabelle menjadi wanita yang tangguh karena dia putri seorang Don Mayer.
Akan tetapi pada kenyataannya ....
Rossabelle Lucette Mayer justru tumbuh menjadi anak yang sangat manja, layaknya seorang Tuan putri yang harus selalu dilayani.
Bahkan, Rossabelle bersikap sangat manja pada dua adiknya, yaitu pada Noah dan Gavin. Putra Peter dan juga Simon.
"Dia masih anak-anak, wajar jika dia manja dan apa-apa harus dilayani," kata Ethan sambil terkekeh. "Dia tidak harus menjadi wanita tangguh di usianya yang baru enam tahun, kan?"
"Iya," jawab Louisa lesu. "Hanya saja aku bisa merasakan sikapnya itu akan terbawa sampai nanti," kata Louisa.
Saat ini Ethan bersama Louisa sedang ada di pantai, tentu mereka mengajak si kecil Rossabelle, Noah dan Gavin. Sementara ayah para anak-anak itu sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing dan katanya akan segera menyusul.
Ketiga anak itu asyik sendiri membuat rumah-Rumah an dari pasir, sementara Louisa dan Ethan mengawasi dengan seksama.
"Hey, jangan menyentuh itu!" seru Rossabelle saat Noah tanpa sengaja menyentuh bangunan pasirnya hingga rusak.
Putra Peter itu hanya menatap Rossabelle dengan dingin, sama sekali tidak merasa bersalah karena ia memang tidak merasa dirinya salah.
Gen cuek dan dingin sang ayah sepertinya menurun sempurna pada Noah. Walaupun begitu, sebenarnya dia penuh kasih sayang.
"Huuua, Noah nakal!" seru Rossabelle kesal.
__ADS_1
Rossabelle menangis karena rumah pasirnya rusak, dan Gavin datang untuk menghiburnya dengan mengatakan dia bisa memiliki rumah pasir milik Gavin.
"Ini untukmu saja, Rossabelle, jangan menangis, ya!" ucap Gavin dengan lembut, bahkan ia menyeka air mata Rossabelle dengan penuh kasih sayang.
"Benar ini untukku?" tanya bocah itu yang seketika langsung menghentikan tangisnya, bahkan dia langsung tersenyum lebar seolah tidak terjadi apa-apa.
Noah hanya melirik itu, tetapi diam-diam dia membuatkan rumah pasir yang lebih besar untuk Rossabelle walaupun dia tidak berniat memberikannya. Bagi Noah, setidaknya ia sudah punya niat melakukan itu untuk sang kakak.
"Anak-anak, sudah sore!" seru Louisa. "Ayo kita kembali ke resort!"
"Sebentar, Mommy!" bantah Rossabelle.
"Tidak, Sayang, ini sudah sore. Sudah waktunya kalian mandi," kata Louisa dengan tegas.
"Ayo, Rossabelle, nanti Aunty marah," bujuk Gavin dengan lembut.
"Tidak mau, masih mau main," rengek bocah itu dengan manja. Selain manja, terkadang dia juga memang keras kepala.
Noah menatap Louisa yang kini menunggu mereka, tanpa berkata-kata, ia langsung menarik tangan Rossabelle bahkan setengah menyeret bocah itu pada ibunya.
Yeah, selain bersikap dingin, bocah itu juga sangat jarang berbicara. Bukan karena tidak bisa, atau memiliki kelainan. Tapi bagi Noah, mengucapkan kata yang tidak penting itu membuang waktu dan tenaga. Dia pernah mengatakan itu pada ayah dan ibunya, dan mereka mencoba mengerti Noah.
Jika anak yang lain mungkin cerewet dan itu akan terlihat sangat lucu, maka mereka harus ikhlas menerima anak mereka yang seperti es balok.
"Noah, kau menyebalkan!" geram Rossabelle tetapi Noah masih benar-benar tak peduli.
"Oh, kau kejam sekali, kawan!" seru Gavin sambil geleng-geleng kepala. "Wanita itu ingin diperlakukan lembut, itu kata Daddy."
"Wanita bayi yang butuh perlakuan lembut," sahut Noah.
"Jangan bertengkar, ya!" teriak Ethan.
"Bertengkar itu ke kanak-kanakan, Uncle," ucap Noah dengan raut wajah yang datar.
__ADS_1
Membuat Louisa dan Ethan terkekeh geli.
"Baiklah, sekarang ayo kalian berlomba lari ke resort. Yang sampai lebih dulu akan mendapatka hadiah!" seru Louisa dengan semangat.
"Apa hadiahnya, Mommy?" tanya Rossabelle.
"Apapun yang kalian mau," jawab Louisa.
Seketika Gavin dan Rossabelle memekik girang, bahkan kedua anak itu langsung berlari. Beda halnya dengan Noah yang masih berjalan santai, seolah ia tidak tertarik dengan apapun hadiah dari Louisa.
Bersamaan dengan itu, Peter dan Simon juga istri mereka datang.
"Kenapa kau tidak ikut berlari, bocah?" tanya Simon sembari mengancak rambut Noah.
"Aku tidak tertarik lomba dengab wanita," jawab Noah yang seketika membuat semua orang melongo.
"Astaga, anakmu, Peter!" seru Simon sambil geleng-geleng kepala.
"Biarkan saja lah, nanti dia akan tunduk jika sudah bertemu pawangnya," kata Peter sembari melirik Ashley penuh arti.
"Benar, sama sepertimu juga 'kan, Simon," goda Ethan.
"Lalu apa bedanya denganmu?" ujar Peter.
"Itu benar," kata Louisa. "Dulu kau benar-benar seperti es balok, aku menggodamu dengan segala cara tapi tidak berhasil."
"Dan sekarang sudah berhasil," kekeh Filly.
"Bukan hanya berhasil, tapi benar-benar takluk." Ethan mengakui tanpa ragu sambil menatap sang istri penuh cinta. Lousia pun membalas tatapan itu juga penuh cinta.
Yeah, kini semuanya telah takluk pada pesona dan cinta dari pasangan mereka masing-masing.
...**π¦...
__ADS_1
THE ENDπ·π·π·π·**