
Sudah hampir seminggu Louisa berada di Madrid, tak ada hal berarti yang bisa gadis itu lakukam. Sementara sang Ibu sedang berusaha mencari pekerjaan agar bisa menyambung hidup mereka. Namun, semua itu ternyata tak mudah.
Dua hari yang lalu, Nyonya Agatha sudah menemukan pekerjaan di sebuah restaurant sebagai pelayan. Akan tetapi, ia dipecat hari itu juga karena dia justru duduk manis di meja, makan dan minum dengan santainya dengan alasan ia sudah merasa sangat letih berdiri setengah hari dan berjalan ke sana ke mari saat ada pengunjung yang memanggil.
Ia juga sempet diejek oleh beberapa rekan kerjanya karena ia bernama Queen Walter.
Itu sangat menyedihkan, tetapi saat Louisa tahu, gadis itu justru terkikik geli.
Hari ini, Nyonya Agatha akan kembali mencari pekerjaan ke beberapa tempat yang sudah ia tandai di koran.
"Semangat, Mom, aku yakin kau bisa!" teriak Louisa sembari mengangkat kedua tangannya, gadis itu tersenyum lebar dengan mata yang berbinar.
Ini adalah satu-satunya sumber kekuatan Nyonya Agatha, memberikan kehidupan yang lebih baik untuk sang putri.
"Jaga rumah baik-baik, okay?"
Louisa hanya mengangguk, sebab ia memang tidak pernah keluar rumah sendirian.
Saat membuka pintu, Nyonya Agatha dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita muda yang sangat cantik dan berpakaian begitu rapi.
"Nyonya Walter?" tanya wanita itu.
"Iya, ada yang bisa aku bantu?" tanya Nyonya Agatha.
"Oh, perkenalkan, namaku Alice." Wanita itu mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Nyonya Agatha.
"Aku datang ke sini untuk menjemput Nona Walter karena sudah dua hari dia tidak masuk sekolah," tukas Alice yang seketika membuat Nyonya Agatha terperangah.
"Maaf, tapi aku rasa kau salah alamat. Lou-ah, Princess, maksudku Princess Walter tidak mendaftar di sekolah mana pun," pungkas Nyonya Agatha.
"Kami menerima pendaftarannya tiga hari yang lalu untuk kelas musik dan menari, Nyonya Walter." Wanita itu memberikan bukti formulir pendaftaran siswa di kelas menari, dan memang benar ada nama Princess Walter alias nama samaran Louisa.
Namun, Nyonya Agatha merasa itu pasti bukan Louisa.
"Mungkin hanya namanya yang sama," ujar Nyonya Agatha, tetapi ia semakin bingung saat melihat foto Louisa tertera di formulir itu.
Louisa yang mendengar sang Ibu berbicara dengan orang lain, segera pergi keluar untuk memeriksa. "Ada apa, Mom?" tanya Louisa.
"Kamu mendaftar di sekolah musik menari?" tanya Nyonya Agatha.
"Tidak," jawab Louisa sambil menggeleng.
"Tapi semua data ini atas nama kamu, Lou," bisik Nyonya Agatha sembari menunjukkan formulir pendaftaran. Tentu saja Louisa juga terkejut sekaligus bingung, bahkan dia tidak tahu di mana sekolah menari itu.
Bersamaan dengan itu, ponsel Louisa berdering. Tertera nomor asing di layar pipih tersebut. Dengan ragu, Louisa menjawab panggilan tersebut.
"Lou?"
__ADS_1
Pupil mata Louisa membesar, ia menahan napas dan seketika dadanya berdebar.
Dari seberang telfon terdengar suara Ethan, suara dari pria yang sangat ia rindukan selama ini.
"Lou, apa kau mendengarku?" tanya Ethan.
"Emm yeah," jawab Louisa sambil melirik sang Ibu yang tampak penasaran.
"Aku mendaftarkanmu di kelas musik dan menari, kau bisa belajar di sana dan tidak perlu memikirkan soal biaya. Aku sudah melunasinya untuk tiga tahun ke depan."
Louisa tercengang, kedua bola matanya membulat sempurna.
"Siapa, Lou?" tanya Nyonya Agatha.
Louisa menarik sang ibu ke dalam membuat Alice tampak bingung. "Tolong tunggu sebentar," kata Nyonya Agatha.
"Ada apa?" tanyanya kemudian.
"Ethan, Mom," jawab Louisa setelah menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
"Maksudnya?"
"Ethan yang mendaftarkan aku sekolah di sana, dia bilang sudah melunasi biaya administrasinya untuk tiga tahun ke depan."
Nyonya Agatha melongo, merasa tak percaya dengan informasi yang baru saja didengarnya itu.
Ia pun menyambar ponsel Louisa. "Ethan?" panggil Nyonya Agatha.
"Apa benar kamu yang mendaftarkan Louisa di sekolah musik dan menari?"
"Benar, karena Louisa menyukai dua kegiatan itu. Jangan khawatir soal biaya, aku sudah mengurusnya."
"Tapi—"
"Dan jangan memaksa dia untuk melanjutkan sekolah manajemen, bisnis atau apapun itu karena otak Louisa tidak sampai ke sana."
Nyonya Agatha melongo, tatapannya lurus pada Louisa yang tampak masih bingung.
"Hanya itu."
Panggilan terputus.
"Apa katanya, Mom?" tanya Louisa.
"Mommy rasa ... ini kesempatan yang baik, pergilah ke sekolah."
...🦋...
__ADS_1
"Aku tidak pernah tahu kalau seseorang yang sedang kasmaran dalam hatinya dapat mempengaruhi otak, bukankah itu sangat berbahaya? Itu menurunkan kecerdasan kita," tukas Peter panjang lebar yang seolah masih tak terima dengan warna baru dalam hidup Ethan yang disebut cinta.
"Sebenarnya ada dua efek atas adanya cinta, Peter," sahut Simon. "Yang pertema, orang waras jadi gila. Yang kedua, orang gila jadi waras."
Joel dan Theo yang mendengar itu langsung tertawa. "Aku sudah menawarkan ribuan wanita dan pria pada Peter, tetapi sepertinya dia tidak punya hasrat," ujar Theo.
"Atau mungkin dia berjiwa malaikat yang suci?" cibir Joel dan seketika semuanya tertawa, kecuali Peter tentunya.
Sejak dulu, ia memang tidak mengenal wanita dan tidak tertarik pada wanita. Bukan karena dia tidak normal, tetapi karena ia hidup hanya untuk menjaga Ethan sesuai janjinya pada kedua orang tua Ethan, sahabat sejatinya.
Saat ini, para ajudan setia Ethan sedang bermain kartu bersama. Seperti seorang pengangguran.
"Kapan kita akan kembali ke Moscow?" tanya Ethan yang ikut bergabung dengan para anak buahnya itu.
"Seharusnya kami yang bertanya padamu," kata Peter sembari melirik Ethan. "Ada apa? Apa kau baru menaklukan sebuah kerajaan? Wajahmu berbinar."
Bukannya menjawab pertanyaan Peter, Ethan justru tampak tersipu. Layaknya seorang gadis yang baru saja disapa oleh pria pujaannya.
Bagaiamana tidak? Ethan baru saja berbicara dengan Louisa, meskipun tidak banyak, tetapi itu sudah membuat hatinya berbunga-bunga.
"Kenapa diam?" tanya Peter sembari menelisik wajah Ethan yang tampak ... bersemu?
"Oh tidak, apa kau bermimpi setan kecil itu?" pekik Peter yang seketika menarik perhatian yang lainnya.
"Atau mungkin dia baru saja berbicara dengan Nona Rae," sambung Simon. "Mengingat tiga hari yang lalu dia memintaku mendaftarkan Nona Rae ke sekolah musik dan menari."
"Astaga, romantis sekali," ucap Joel.
"Itu menggelikan." Theo menimpali.
"Wanita adalah makhluk paling manis dan indah, sama sekali tidak menggelikan." Joel membalas dengan sengit.
"Tapi banyak orang bermasalah karena wanita, bahkan banyak kerajaan hancur karena wanita," sergah Theo.
"Dan wanita juga bisa memadamkan api dendam yang telah membara selama 22 tahun," Peter menambahkan.
"Sebenarnya kalian ini bicara apa?" Ethan angkat suara dan ia berpura-pura polos. "Aku datang ke sini hanya untuk bertanya kapan kita akan ke Moscow tapi kalian sibuk membahas wanita."
"Kau juga sibuk memikirkan wanita siang malam," sungut Peter.
"Aku tidak memikirkan wanita, aku hanya memikirkan Louisa," bantah Ethan yang kini mulai jujur. Namun, kejujuran itu membuat semua orang tampak bingung.
"Memangnya Nona Rae waria?" tanya Simon.
"Dia seorang gadis, bukan wanita."
"Astaga, benar apa aku katakan!" seru Peter dengan suara lantang. "Cinta dapat menurunkan kecerdasan otak!"
__ADS_1
...🦋...