Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 99 - The Real King


__ADS_3

DORRRR


DORRR


DORRRR


Suara tembakan itu membuat Jose dan yang lainnya terkejut, mereka pun segera keluar untuk memeriksa apa yang terjadi.


Rupanya, adu tembak sudah dimulai, entah siapa yang memulainya lebih dulu dan entah siapa yang menyerang. Akan tetapi, Jose melihat ada tiga anak buahnya yang kini terkapar dengan luka tembakan tepat di kepala. Seolah yang menembak adalah orang yang begitu ahli.


"Siapa yang menembak?" tanya Jose.


"Seseorang dari arah utara dan selatan" jawab anak buahnya. "Kami mencoba membalas, bahkan beberapa dari kami mengejar mereka, tapi tembakan yang lain muncul dari arah barat dan timur."


Jose yang mendengar jawaban anak buahnya itu kini tersenyum sinis, ia menyadari Ethan akan menghadapinya dan mungkin sedang menjebaknya.


"PENGECUT KAU, ETHAN!" teriak Jose marah. "Keluar dan hadapi kami jika kau memang berani!"


Tak berselang lama, Ethan keluar seorang diri, dengan begitu gagahnya. Raut wajah pria itu dingin, sorot matanya tidak memancarkan ketakutan sedikitpun.


Segera saja, anak buah Jose mengepung Ethan yang sebenarnya memegang dua senjata di tangannya. Namun, mereka tahu secara jumlah Ethan kalah telak.


"Apa kau menyerah dengan begitu mudahnya?" cibir Erik sembari mendekati Ethan. Namun, Ethan hanya mengulum senyum tipis, membuat Erik merasa heran apalagi Ethan tak terlihat terkejut dengan pengkhianatannya.


"Kau menjebak kami?" tuduh Erik yang mulai meragukan kekuatan dan kecerdasannya sendiri.


"Pertanyaan mu menandakan kau tidak percaya, Erik." Ethan balas mencibir. "Seseorang yang tidak percaya pada dirinya sendiri, bagaimana bisa dipercaya orang lain apalagi menjadi pemimpin orang lain?" sarkasnya.


"Jadi kau sudah tahu aku berkhianat?" desis Erik.


Namun, Ethan tak langsung menjawab secara gamblang, ia justru berkata, "Seseorang pernah bertanya apakah aku manusia atau bukan, tentu saja aku manusia tetapi punya kecerdasan malaikat, memiliki kekejaman iblis dan menguasai kekuatan binatang."


Erik terlihat murka, jika Ethan tahu dirinya berkhianat, maka rencananya pun juga pasti diketahui oleh Ethan.


"Di mana Peter?" desis Jose yang langsung menodongkan senjata tepat di kepala Ethan.


"Say hello!" seru Ethan sembari menatap kamera cctv di ruangan itu, Jose pun mengikuti ke mana arah Ethan menatap.

__ADS_1


Di ruangan Ethan, Peter memantau setiap sudut markas dengan begitu jeli. Ia berdecak saat melihat Ethan di kepung oleh begitu banyak orang, ia juga melihat saat adegan tembak menembak tadi yang berhasil membunuh tiga anak buah Jose.


Yeah, meskipun tiga jiwa itu bilangan yang terlalu sedikit untuk kelompok Jose yang membawa begitu banyak orang. Bahkan, itu bukan apa-apa.


"Ck, menjadi penonton benar-benar membosankan," gerutu Peter.


"Kau bukan hanya penonton, tapi coach!" terdengar suara Ethan dari earphone yang ia pakai.


Yeah, Ethan dan Peter memang berkomonikasi.


"Siap-siap dalam hitungan ke tiga, Tuan Mayer!"


Ethan yang saat ini masih berada diantara para musuh hanya tersenyum sinis mendengar instruksi Peter, sementara Jose dan Erik tampak semakin kesal setelah tahu Ethan berkomonikasi dengan seseorang yang mereka tidak tahu itu siapa.


"Bunuh dia!" seru Erik tetapi tiba-tiba lampu mati, seluruh ruangan begitu gelap dan mereka tentu tak bisa menembak.


Lima detik kemudian, lampu kembali menyala dan Ethan sudah menghilang dari tempatnya.


Martin, Gonza dan Orlando yang menyadari hal itu menjadi panik tetapi juga marah. Kelakuan Ethan mengingatkan mereka pada Marlon Mayer yang juga gagal mereka taklukan.


"Cari di semua tempat dan habisi siapapun yang kalian temui!" seru Gonza.


Para anak buahnya yang berjumlah sangat banyak itu langsung berpencar ke berbagai sudut untuk mencari musuh dan menghabisinya, tentu saja mereka tahu setiap sudut markas itu setelah Erik membocorkan cetak biru markas tersebut pada mereka.


Martin, Gonza, Orlando, Jose dan Erik juga berpencar. Mereka siap dengan senjata di tangan mereka, siap melesatkan pelurunya pada siapa saja yang melintas di depan mereka.


Tanpa mereka sadari, Ethan masih berada di ruangan yang tadi. Namun, ia berada di langit-langit ruangan bergelantungan pada sebuah tali yang sudah disiapkan.


Ethan dapat melihat para orang bodoh itu yang mencari dirinya dengan penuh napsu untuk membunuh Ethan.


Para musuh yang mencari Ethan tiba-tiba mendapatkan serangan tembakan dari arah kiri dan kanan, mereka pun langsung membalas tembakan itu. Sementara yang lain segera berlari menuju asal suara tembakan tersebut.


Begitu juga dengan Martin, ia membantu anak buahnya untuk menembaki orang yang mereka kira anak buah Ethan.


Adu tembak menembak pun berlangsung cukup sengit, tak ada kesempatan sedikitpun yang mereka lewatkan untuk menembak musuh. Namun, para penembak itu tampaknya begitu terlatih sehingga Martin dan anak buahnya yang kewalahan.


"Sial, katanya semua orang sudah mabuk dan pingsan, tapi siapa ini? Malaikat?" dengus salah satu anak buah Martin.

__ADS_1


"Mayer pasti sudah mengantisipasi penyerangan ini sehingga dia pasti punya pasukan cadangan," sahut Martin. "Tetap lah bertahan, malam ini kita harus membunuh mereka semua atau kita yang akan terbunuh!"


Sementara di sisi lain, Erik hendak masuk ke ruang kontrol untuk memantau keadaan dari cctv, tetapi tiba-tiba Ethan datang dan menyerangnya dengan tangan kosong.


Perkelahian sengit pun terjadi, keduanya sama-sama kuat bertahan dan juga sama-sama kuat menyerang.


"Kau tahu aku berkhianat," ujar Erik sembari mengarahkan tinjunya ke wajah Ethan, tetapi Don Mafia termuda itu berhasil mengelak dengan cepat. "Lalu apakah ini jebakan?"


"Pertanyaan bodoh!" sinis Ethan yang kini mengarahkan tinjunya ke ulu hati Erik, tetapi seniornya itu juga mampu mengelak. Bahkan, ia berhasil memukul rahang Ethan hingga Ethan mengerang dan terpukul mundur.


"Kau yang bodoh!" seru Erik.


Ethan hanya tertawa kecil kemudian menyerang Erik dengan membabi buta, hingga beberapa pukulan mengenai wajah dan dadanya. Erik mengerang, tetapi ia tetap berdiri meski terpukul mundur.


Ethan meringis sembari memegang pipinya yang sudah sedikit memar karena pukulan Erik tadi. "Aku bisa memaafkan musuh yang menyerah, tetapi tidak teman yang berkhianat," desis Ethan.


Ia kembali hendak menyerang Erik, tetapi Jose dan Gonza datang membantu. Bahkan, beberapa anak buah mereka juga datang mengepung Ethan dan lagi-lagi mereka menodongkan senjata mereka.


Tentu saja Erik merasa di atas angin sekarang.


"Kau terkepung," desis Erik bangga. "Anak buahmu tidak akan ada yang datang membantu."


"Yeah, aku memang tidak membiarkan mereka datang untuk berperang malam ini," sahut Ethan dengan tenangnya. "Aku membuat mereka tertidur nyenyak malam ini, dan yang berkeluarga aku biarkan berpesta dan bersenang-senang dengan keluarganya."


Ethan tersenyum miring kemudian melanjutkan. "Kamu memang mencampurkan obat tidur ke dalam makanan mereka, kamu juga ingin membuat mereka mabuk. Tapi aku sudah membuat mereka semua tertidur nyenyak, aku juga mengunci mereka di Free Island, sehingga jika ada yang terbangun, mereka tak mendengar keributan kita."


Erik tampak bingung mendengar apa yang dikatakan oleh Ethan panjang lebar, apakah karena itu markas sepi tanpa suara sedikitpun?


Ethan memang menyuruh Simon memastikan anggota The Eagle tertidur, oleh karena itu Ethan terpaksa meminta Simon membius mereka dengan asap saat ia menyadari masih ada yang tersadar. Ethan juga memerintahkan Simon menutup semua akses keluar masuk ke ruangan itu.


"Apa yang ada dalam otak mu?" desis Gonza yang sungguh tak memahami cara berpikir Ethan.


"Sebuah strategi untuk memenangkan pertempuran sekaligus menjaga janji pada mendiang Kakek, itulah apa yang ada dalam otak the real king," kata Ethan.


Bersamaan dengan itu, tiba-tiba muncul dua puluh orang bertubuh kekar, bersenjata lengkap dari berbagai arah.


Erik menatap meraka semua dengan bingung karena tak ada satupun dari ke dua puluh orang itu yang merupakan anggota The Eagle.

__ADS_1


"Mereka anggota militer Russia, Erik," kekeh Ethan yang merasa lucu melihat ekspresi bingung Erik.


Erik terbelalak, begitu juga dengan yang lain. Sementara Ethan berseringai bak raja iblis yang berhasil menaklukan musuhnya.


__ADS_2