Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 14 - Musuh Dalam Selimut?


__ADS_3

Siapa yang memiliki uang, maka dia yang akan memegang berkuasa. Dan siapa yang berkuasa, maka dia yang akan memegang kendali atas segalanya. Bukankah itu memang hukum alam?


Seseorang yang mengerti apa arti kuasa akan memanfaatkannya dengan baik, sama seperti yang dilakukan oleh Louisa pada Ethan.


Gadis berusia delapan belas tahun itu sudah dua kali mengancam akan melecehkan seorang pria dewasa yang sebenarnya jauh lebih kuat dari Louisa secara fisik. Namun, ada relasi kuasa yang membuat Ethan seolah tak bisa melakukan perlawanan.


Saat ini. Yeah, hanya saat ini Ethan tampak tak berdaya.


Ethan tersenyum miring saat mengingat ancaman Louisa, dia tidak tersinggung atau takut pada gadis kecil itu. Namun, untuk saat ini saja dia harus mengalah.


Tapi ... rsanya menyenangkan melihat tingkah konyol Nona muda ini, bukan?


"Nona Rae, aku bahkan tidak yakin kau tahu bagaiman berciuman. Apa kau sungguh tahu bagaimana caranya memperkosa?" cibir Ethan.


"Aku memang tidak tahu, tapi aku pernah menonton adegan pemerkosaan di beberapa film." Louisa meringis di akhir kalimat. "Tidak ... tidak, aku tidak jago memperkosa. Aku tidak tega jika melihat kamu menangis nanti."


Yeah, Louisa melihat setiap korban pemerkosaan itu selalu menangis karena sebuah pelecehan seksual itu memang sangat mengerikan.


Sedangkan Ethan terperangah mendengar ucapan Louisa, dia takut Ethan menangis?


Yang benar saja.


Louisa merangkak turun dari ranjang sang bodyguard. "Aku mencintaimu, Bodyguard, jadi aku tidak akan menyakitimu." Louisa berkata dengan sangat lembut, bahkan tatapan matanya terlihat sayu seolah ia begitu tulus dengan kata-kata itu.


Untuk pertama kalinya, Ethan merasa seperti ada angin hangat yang menerpa hatinya.


"Berhati-hatilah, Nona Rae, mungkin aku yang akan menyakitimu," kata Ethan kemudian dengan senyum misteriusnya.


"Aku tidak takut," sahut Louisa percaya diri. "Menurut film yang aku tonton dan novel yang aku baca, love is hurt," kata Louisa sambil tersenyum.


Setelah mengucapkan kalimat itu Louisa segera berlalu dari kamar Ethan, meninggalkan Ethan yang tiba-tiba merasa seperti terkena serangan jantung ringan. Pria itu duduk di tepi ranjang sembari memegang dadanya. "Aku belum meminum kopi pagi ini, kenapa jantungku berdebar?"


...----------------...

__ADS_1


"Tidak seharusnya kau membunuh bocah itu, Peter, dia masih tujuh belas tahun, sialan!" seru Simon yang memang lebih punya hati dari pada Peter. Dia sungguh merasa kasihan melihat kepala bocah itu bocor karena peluru Peter.


"Justru karena dia masih bocah makanya aku membunuh dia," sahut Peter dengan santai sembari mengirimkan pesan pada Ethan, memberi tahu bahwa dia sudah mendapatkan barangnya. "Orang bilang, anak muda itu masih suci. Jika pun ada dosanya, mungkin hanya sedikit sehingga peluang masuk surga lebih besar."


Peter menutup kembali koper yang berisi barang haram itu kemudian melanjutkan. "Dia bergabung dengan geng Octopus, dia akan mengedarkan narkoba, memakai narkoba, bahkan dia akan membunuh dan mencuri untuk itu. Jika dia hidup lama, dosanya akan lebih banyak jadi aku mengirim dia ke surga sekarang."


Simon hanya bisa menghela napas mendengar ocehan temannya itu. "Lagi pula bukankah tuan Mayer selalu mengajarkan kita untuk menembak kepala pengkhianat di detik kita mengetahui bahwa orang itu berkhianat?"


"Tuan Mayer memang membuat peraturan itu, tetapi untuk anggota kita, Peter. Untuk anggota The Eagle," seru Simon penuh penekanan. "Jika kita membunuh anak buah orang lain, maka bisa jadi itu mengundang musuh baru."


"Tidak akan, Simon," sanggah Peter. "Memang siapa yang berani melawan pimpinan The Eagle? Siapa yang berani melawan raja dunia bawah tanah?"


...🦋...


"The Eagle, ini sangat keren!"


Ethan yang saat ini sedang sarapan di dapur tampak terkejut mendengar suara Louisa yang menyebutkan nama anggota geng mafianya, The Eagle.


Ethan langsung mengingat-ingat kembali apakah dia membawa sesuatu yang berhubungan dengan The Eagle?


Kening Ethan berkerut, ia menunggu Louisa masuk ke dapur dan tiba-tiba ....


Bugghh


"Ah, sial!" geram Louisa saat kepalanya terbentur tembok karena ia terlalu fokus pada gadgetnya.


"Bukankah semua orang sering memperingatkan mu agar kau tidak main game saat berjalan, Nona Rae?" seru Bi Amy sambil geleng-geleng kepala.


Mendengar kata game itu membuat Ethan langsung menghela napas lega, rupanya gadis itu sedang main game dan The Eagle yang ia maksud pasti game itu.


"Ah, kau di sini, Ethan," seru Louisa girang. Ia langsung menghampiri bodyguardnya itu bahkan ia mengambil beberapa sayuran dari piring Ethan kemudian memakannya.


"Nona Rae, kau ingin makan lagi?" tanya Bi Amy.

__ADS_1


"Tidak," jawab Louisa sementara Ethan diam saja "Aku hanya ingin menemani calon pacarku makan," ucapnya kemudian yang membuat Bi Amy sempat terkejut.


"Ethan, kenapa kamu diam saja?" tanya Louisa yang masih memakan sayur mayur dari piring Ethan.


"Kau ingin aku mengatakan apa, Nona Rae?" tanya Ethan.


"Apa saja, misalnya emm ... I love you, Lou." Louisa menaik turunkan alisnya, menggoda sang bodyguard yang masih setia memasang wajah es baloknya.


"I hate you, Lou."


"What?"


...🦋...


"Siapa pelakunya, Honey?" tanya Nyonya Agatha pada sang suami yang baru saja selesai berbicara dengan seseorang.


"Belum dipastikan, apalagi semua penjahat itu mati sehingga kita tidak bisa mencari tahu siapa yang mengirim mereka."


Ketegangan terlihat jelas di wajah Tuan dan Nyonya Rae itu, seolah mereka merasa ada bahaya besar yang mengancam hidup mereka saat ini.


"Setiap kali ada penyerangan seperti ini, aku sungguh takut itu datang dari masa lalu," lirih Nyonya Agatha. "Aku sangat takut putriku yang tidak bersalah menjadi sasaran mereka."


"Tidak akan," bantah sang suami dengan tegas. "Masa lalu tidak akan datang ke masa depan, percayalah!"


Nyonya Agatha tersenyum tipis sambil mengangguk pelan. "Syukurlah ada Ethan yang menjaga Louisa, kita memang tidak salah memilihnya sebagai bodyguard."


...🦋...


"Seseorang yang salah memilih teman, pasti salah memilih musuh." Ethan berseringai saat mengucapkan kalimat itu. "Dan seseorang yang pernah menjadi teman terbaik, maka dia akan menjadi musuh terbaik jika kau mengkhianatinya.Bukankah begitu, Peter?"


"Tentu saja, Tuan, oleh sebab itu aku benci pengkhianat," sahut Peter dari seberang telfon.


"Bersiap-siaplah, Peter, sebentar lagi kita berperang karena aku sudah menemukan medan pertempuran yang pas."

__ADS_1


...🦋...



__ADS_2