
Sekarang Louisa dan Ethan memutuskan tinggal di London, kota yang penuh kenangan untuk kedua nya. Begitu juga dengan Nyonya Agatha, yang kini kembali mengurus perusahaan suami nya yang telah kembali di alihkan kuasa nya oleh Ethan.
Namun, tentu saja Nyonya Agatha yang sekarang berbeda dengan yang dulu. Ia banyak berubah, lebih menghargai hidup, orang lain yang memiliki status sosial lebih rendah dari nya dan tentu ia belajar bahwa semuanya memang harus di jalani dengan kejujuran dan harus setia pada orang yang seharusnya.
Setelah kejadian yang hampir merenggut nyawa Ethan, mereka semua memutuskan untuk memulai semua nya dari awal. Menata hidup mereka senormal mungkin dan sebaik mungkin.
Nyonya Agatha tinggal di rumah nya, mempekerjakan kembali pelayan yang dulu bekerja dengan nya.
Sementara Ethan dan Louisa memilih tinggal di mansion Ethan karena tempat itu memiliki udara yang masih segar dan jauh dari hingar-bingar kota. Tempat yang sangat cocok untuk Louisa yang memang butuh ketenangan untuk jiwa nya.
Malam ini Ethan mengundang Varian dan Ibu mertua nya untuk makan malam di mansion, bahkan Ethan meminta mereka menginap semalam saja mumpung ini akhir pekan.
"Senang melihat mu kembali tersenyum, Nyonya Mayer," ucap Varian saat Louisa menyambut nya dengan senyum hangat.
"Aku harus tersenyum hangat saat menyambut tamu," sahut Louisa. "Oh ya, panggil saja Lou," tambah nya sambil tersenyum lebar,
Ethan yang mendengar hal itu teringat dengan masa lalu, saat Louisa beberapa kali meminta nya memanggil Lou tetapi Ethan tak pernah mau.
"Lou, itu lebih nyaman." Varian menanggapi sambil melirik Ethan. "Asal tidak ada yang cemburu."
"Aku bukan tipe orang yang mudah cemburu," bantah Ethan yang membuat Louisa mendelik tetapi ia iyakan saja apa kata sang suami.
Simon dan Peter juga menyambut Varian dengan baik. Apalagi mengingat berkat bantuan Varian lah mereka bisa menyelamatkan Ethan tepat waktu.
Mereka semua langsung menuju meja makan, di mana beberapa menu lezat sudah terjadi di sana.
"Kapan kau akan menaikkan berat badan mu, Lou?" tanya Nyonya Agatha tiba-tiba sembari mencubit lengan Louisa yang kecil itu.
"Aku sudah berusaha, Mom," jawab Louisa cemberut. "Apa aku jelek jika kurus begini?"
"Aku rasa berat badan seseorang seharusnya tidak menjadi masalah dan bukan ukuran kecantikan, yang penting Louisa sehat," sambung Peter dengan bijak, yang membuat Simon dan Ethan langsung saling melempar tatapan aneh.
__ADS_1
Sejak kapan Peter bijak dalam menilai seseorang?
Louisa pun langsung melirik Peter sambil menahan senyum, tak menyangka pria itu kini membela nya meski masih memasang wajah seolah tak peduli.
"Aku tahu, hanya saja Louisa seperti orang sakit," lirih Nyonya Agatha cemas.
Ia pun sebenarnya tak masalah apakah putri nya itu gemuk atau kurus, hanya saja Louisa masih terlihat seperti orang sakit karena terlalu kurus dan itu membuat nya selalu khawatir.
"Aku baik-baik saja, Mom, hanya saja setiap pagi Uncle Peter menyuruh ku berlari selama sepuluh menit, kemudian esok nya lima belas menit dan begitu seterusnya sampai sekarang aku harus lari pagi selama tiga puluh menit. Aku jadi selalu berkeringat banyak, dan kalori di tubuh ku pasti musnah," pungkas Louisa panjang lebar sambil cengengesan, menatap Peter seolah menyalahkan pria itu.
"Benar juga, jadi sebenarnya kau kurus karena rajin olah raga," ujar Peter dengan polos nya yang seketika membuat semua orang tertawa, tak terkecuali Varian dan Ethan yang sejak tadi hanya diam.
"Non mi aspettavo che ammettesse una colpa infondata," kekeh Varian dalam bahasa Italy pada Ethan. Yang artinya dia tidak menyangka Peter mengakui kesalahan yang sebenarnya tidak berdasar. Karena jelas Louisa kurus bukan karena rajin lari pagi, tetapi karena wanita itu memang sedang tidak sehat.
"Solo mia moglie può farlo," jawab Ethan sambil tertawa kecil, yang artinya hanya istri nya lah yang mampu membuat Peter seperti itu.
"Kalian bicara apa?" tanya Louisa penasaran. "Jangan membicarakan kami dalam bahasa yang tidak kami mengerti." Ia memperingatkan dengan tegas, membuat Varian tertawa.
"Kau mau pergi, My girl?" tanya Ethan. "Kita bisa liburan di sana, dan percayalah Sicily adalah kota yang indah. Kita bisa pergi ke sana untuk bulan madu."
Louisa langsung mengangguk dengan semangat. "Kalian mau ikut?" tanya Louisa pada Peter, Simon dan Nyonya Agatha.
"Bukan kah orang pergi berbulan madu hanya berdua saja?" tanya Peter. "Kalian bisa pergi berdua saja, aku akan pergi ke Singapore untuk menemui Dokter di sana."
"Aku juga punya banyak pekerjaan," kata Nyonya Agatha.
"Lalu bagaimana dengan mu, Simon?" tanya Varian.
"Aku ... aku ada janji kencan dengan seseorang."
"Hah?"
__ADS_1
...🦋...
...Satu tahun yang lalu....
Louisa masih setia menunggu sang suami membuka mata, ia juga selalu membicarakan sesuatu pada Ethan, yakin sang suami pasti mendengar nya.
"Angel baik-baik saja, tapi dia masih harus melakukan perawatan intensif." Louisa menggenggam tangan Ethan yang kini mulai terasa menghangat, tak lagi sedingin hari-hari sebelum nya.
Tak terasa, tiga minggu telah berlalu dan Ethan masih dalam keadaan yang sama meski Dokter mengatakan detak jantung Ethan sudah mulai stabil.
"Dia pernah bercerita tentang paman malaikat, aku pikir dia hanya mengada-ada seperti anak-anak pada umum nya. Tapi aku baru tahu, ternyata paman malaikat itu kamu, Ethan."
Tak terasa air mata Louisa tumpah hingga membasahi tangan Ethan. "Kamu sudah tidur sangat lama, Ethan, kenapa bisa?"
"Padahal ... aku tidak bisa tidur dengan tenang, aku selalu bermimpi buruk."
"Bahkan, meski menutup mata hanya beberapa detik, ingatan hari itu muncul kembali dalam benak ku. Aku butuh kamu, Sayang, aku selalu ketakutan meski semua orang menjaga ku."
"Dokter bilang aku mengalami trauma dan mereka ingin aku berkonsultasi pada psikiater, tapi aku tidak bisa bicara dengan orang asing. Aku tidak percaya pada mereka dan aku takut pada mereka."
Louisa menunduk dalam, hingga tiba-tiba ia merasakan tangan Ethan balas menggenggam tangan nya.
"Ethan?" seru Louisa yang langsung menatap sang suami.
Kelopak mata Ethan bergerak, seolah ia ingin membuka mata. "Sayang, kau mendengar ku?"
Louisa langsung menekan tombol di sisi ranjang untuk memanggil Dokter. Hanya butuh beberapa saat, Dokter dan Suster pun sudah datang.
"Biar kami memeriksa pasien, Nyonya," ujar Dokter itu, meminta Louisa keluar dari ruangan. Namun, tangan Ethan justru menggenggam nya lebih erat, seolah ia tak ingin Louisa pergi.
Louisa tersenyum, yakin bahwa sekarang Ethan benar-benar akan membuka mata.
__ADS_1
"Sayang," ia berbisik di telinga Ethan. "Aku tidak akan pergi, tapi aku mohon buka mata mu."