
"Kalau begitu berhenti membunuh, ayo kita susun hidup kita yang baru, yang lebih baik."
Ethan hanya bisa menanggapi ajakan Louisa itu dengan senyum tipis, ia tak berniat menjawabnya karena Ethan tahu hal itu sangat sulit atau bahkan mungkin mustahil ia lakukan.
The Eagle adalah organisasi Mafia terbesar di Rusia, tak mungkin bisa Ethan tinggalkan begitu saja atau para anak buahnya akan saling membunuh untuk memperebutkan posisinya.
Louisa tak bertanya lebih lanjut, ia percaya Ethan tahu apa yang harus pria itu lakukam dalam hidupnya.
Keduanya terdiam, menikamati kebersamaan yang tak biasa ini.
"My girl, kau ingin makan apa untuk makan malam?" tanya Ethan setelah sekian lama tak bersuara, ia beranjak dari atas tubuh Louisa.
"Apa saja," jawab Louisa yang juga beranjak dari sofa.
"Aku akan membuat steak, sepertinya masih ada daging di kulkas."
Ethan segera pergi ke dapur, Louisa pun mengikutinya dari belakang.
"Kau bisa memasak?" tanya Louisa saat Ethan mengeluarkan daging dari dalam kulkas.
"Tentu saja," jawab Ethan dengan percaya diri.
Louisa membuka kulkas Ethan yang berukuran cukup besar, dan ia cukup terkejut melihat kulkas itu yang terisi penuh dengan sayuran dan buah.
"Siapa yang tinggal di sini?" tanya Louisa sembari mengambil satu buah jeruk.
"Tidak ada, My girl, hanya saja tiga hari sekali akan ada orang yang memeriksa mansion, membersihkan dan memastikan ada makanan segar di kulkas karena kami bisa datang ke sini kapan saja."
Louisa mengangguk mengerti.
"Kau mau?" Ia menawarkan saat selesai mengupas jeruk.
Tanpa berkata-kata, Ethan membuka mulutnya di depan Louisa. "Ah, jadi sekarang aku harus menyuapimu juga," kekeh Louisa.
"Tentu saja," sahut Ethan.
Keduanya pun memasak bersama, lebih tepatnya Louisa menemani Ethan memasak dan membuat minuman segar.
"Wah, kau punya wine," kata Lousia saat melihat sebotol wine.
"Kau tidak boleh meminumnya," tegas Ethan. "Kau masih kecil, Lou, itu tidak sehat untuk tubuhmu."
"Oh, kata siapa aku masih kecil? Kau bahkan sudah mengajakku bercinta," kata Lousia yang seketika membuat Ethan menatapnya. "Kenapa?" tanya Lousia.
"Tadi kau belum menjawab pertanyaanku, My girl, Bisakah kita bercinta sebentar saja?"
"Tidak bisa, Honey, z" jawab Lousia dengan tegas. "Nanti aku hamil, aku ingin sekolah dan menjadi orang yang sukses agar kau tidak sia-sia membiayai sekolahku." Jelasnya.
__ADS_1
"Baiklah, tidak apa-apa," ucap Ethan pasrah.
Kini mereka makan bersama, tetapi ada yang berbeda dari sang Don mafia sekarang. Dia duduk sangat dekat dengan Lousia, bahkan tak jarang pria itu meminta disuapi.
"Ada apa denganmu? Kenapa tidak makan sendiri?" gerutu Lousia sembari menyuapkan satu potong steak kecil ke mulut Ethan.
"Aku tidak tahu, hanya saja hatiku senang saat kau menyuapiku seperti ini," kata Ethan. "Aku juga suka saat menyentuh kepalaku seperti tadi, aku merasa kau sangat menyayangiku."
Louisa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sisi yang sangat berbeda dari Ethan. "Sang es balok sudah cair," gumam Lousia.
"Apa?" tanya Ethan.
"Tidak apa-apa, Honey, hanya saja aku teringat dulu kau sangat kejam padaku," kata Lousia. "Kau menolak cintaku dengan sadis."
"Aku hanya jujur dengan apa yang aku pikirkan dan yang aku rasakan," dalih Ethan.
"Terserah kau saja," ucap Lousia.
Setelah makan, ia pun memberskan meja makan dan memindahkan piring kotor ke wastafel.
"Apa kau bisa bekerja sekarang?" tanya Ethan saat melihat Louisa melakukan pekerjaan itu.
"Tentu saja, aku dan mommy berbagi tugas di rumah," pungkas Louisa yang kini mulai mencuci piring kotor.
"Kau mengalami perubahan yang sangat baik, My girl."
Ethan memeluk Lousia dari belakang, bahkan ia mengecup leher dan tengkuk gadis itu membuat Lousia menggelinjang geli.
"Besok sore kita sudah harus berpisah, aku hanya ingin memuaskan hati selama bersamamu."
"Aku tahu, tapi setidaknya nanti setelah aku selesai mencuci piring, okay?"
"Tidak okay."
"Ethan!"
"Hem!"
...🦋...
Hari sudah malam, saat ini Ethan dan Lousia sedang menonton film romantis di kamar Ethan.
Berbeda dari sebelumnya di mana Ethan melihat adegan romantis sebagai sesuatu yang bukan apa-apa, kini pria itu juga senyum-senyum sendiri saat adegan pemeran utama bermesraan.
"Apa kau tidak pernah menonton film seperti ini sebelumnya?" tanya Lousia sembari memainkan jari jemarinya di rambut Ethan.
Posisi keduanya begitu intim dan mesra sekarang. Di mana Lousia duduk bersandar ke kepala ranjang sedangkan Ethan meletakkan kepalanya di pangkuan Lousia.
__ADS_1
"Pernah," jawab Ethan.
"Oh ya? Kapan? Jangan bilang saat bersamaku itu."
"Yeah, memang saat itu."
Lousia langsung tertawa mendengar jawaban Ethan. "Ya Tuhan, kau habiskan untuk apa saja hidupmu, Honey?" tanya Lousia sembari menarik hidung Ethan dengan gemas.
"Mengurus organisasi The Eagle," jawab Ethan dengan jujur.
"Oh ya, aku ingin tahu," seru Lousia yang tiba-tiba memasang wajah seriusnya. "Bagaiamana kau tahu Jose akan mencelakaiku? Dan siapa pria yang ada di mansion itu? Anak buahmu yang aku kenal cuma uncle Peter, uncle Simon dan Theo."
"Maksudmu Joel?" tanya Ethan. "Dia adalah mata-mata yang aku tempatkan pada geng Octopus sejak beberapa tahun yang lalu, dia yang memberikan informasi bahwa mereka merencanakan pengkhianatan."
"Jadi kau punya banyak koneksi?"
"Aku harus memastikan itu, My girl, karena tidak semua orang bisa terus setia apalagi ketika harta dan tahta mulai menggelitik hasrat mereka."
"Kau benar," kata Lousia sembari melirik jam dinding di kamar Ethan. "Ini sudah malam, kau tidak mengantuk?" tanya Louisa mengingat semalam Ethan berada dalam perjalanan, seharusnya pria itu sudah tidur sekarang.
"Tidak, aku masih ingin bersamamu," kata Ethan yang justru semakin mendesakan tubuhnya ke perut Lousia.
"Aku tidak ke mana-mana, Ethan, aku akan di sini."
"Aku tahu," ucap Ethan kemudian ia berbaring menyamping di sisi Lousia. "Kau mengantuk? Tidurlah di sini."
Lousia langsung masuk ke dalam dekapan Ethan. "Apa kau bisa menemuiku setidaknya seminggu sekali, Ethan? Rasanya hatiku sesak memikirkan akan berpisah darimu."
"Aku pun merasakan hal yang sama, My girl."
Ethan membelai rambut hitam Lousia. "Tapi aku janji akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kita, okay?"
Lousia mengangguk percaya. Ia mendesakan wajahnya ke dada bidang Ethan, menghirup aroma khas pria itu yang tak pernah berubah sejak dulu.
"Sekarang tidurlah, masih ada hari esok untuk mengobrol," tukas Lousia.
"Selamat malam, My girl, mimpi indah."
Ethan memberikan kecupan selamat malam yang mesra di ubun-ubun Lousia, membuat wajah gadis itu langsung merona indah.
Keduanya pun memejamkan mata, apalagi rasa kantuk mulai menyapa. Dan mereka tetap membiarkan layar televisi menyala, seolah benda itulah yang kini menyaksikan betapa romantisnya mereka.
...🦋...
Sementara di sisi lain, Peter dan Simon dikejutkan dengan penjarahan yang terjadi di gudang tempat mereka menyimpan barang-barang yang belum di kirim.
Bahkan, tempat itu juga dibakar seolah pelakunya tak hanya ingin mengambil barang Ethan, tetapi juga menghancurkan bisnis Ethan.
__ADS_1
"Haruskah kita menghubungi tuan Mayer?" tanya Simon.
"Tidak perlu," jawab Peter. "Biarkan dia menikamati hidupnya sebentar saja, kasihan dia."