Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 7 - Yang Tersembunyi


__ADS_3

"Apa perintah Tuan Mayer?" tanya seorang pria paruh baya pada Peter yang saat ini sedang mengisi senjatanya dengan amunisi.


"Menghabisinya," jawab Peter dengan wajah datar kemudian ia menoleh pada pria di sisinya itu. "Kau ingin menemaniku, Simon?" tanyanya.


"Kau akan menembaknya?" tanya Simon tanpa menjawab pertanyaan Peter. "Aku pikir Tuan Mayer akan menghabisnya sendiri, atau mungkin akan melemparnya ke kandang singa," kekeh Simon.


"Dia sedang sibuk, kau tahu sendiri saat ini dia tidak bisa diganggu," ujar Peter.


"Apakah dia baik-baik saja? Aku tidak berani menghubunginya lebih dulu," tukas Simon dengan raut wajah yang terlihat cemas.


"Dia baik-baik saja, dia akan selalu baik-baik saja," jawab Peter sambil tersenyum miring. "Tidak akan pernah ada orang yang mampu membuatnya dalam bahaya, karena dia sendiri adalah marabahaya yang maha dahsyat."


"Yeah, kau benar," sahut Simon. "Tapi tetap saja aku mencemaskan nya, aku sudah menganggap dia putraku sendiri."


"Putramu itu adalah singa, dia raja. Dia tidak butuh dicemaskan oleh siapapun."


Setelah mengucapkan kalimat yang agun itu dan penuh kebanggaan itu, Peter dan Simon segera bergegas ke sebuah ruang bawang tanah.


Jika biasanya ruang bawah tanah itu gelap, hanya memiliki cahaya remang-remang. Namun, tidak dengan ruang bawah tanah yang didesain sendiri oleh Ethan. Ruangan itu terang benderang, ada beberapa ruangan seperti penjara dan yang sempit tapi juga terang tetapi tanpa alasan bahkan masih berupa tanah.


"Tuan Mayer sangat tahu bagaimana cara menciptakan ketakutan untuk para musuhnya," kekeh Simon. "Dengan membuat ruangan terang benderang seperti itu, para pengkhianat itu bisa melihat luka dan darah mereka ataupun komplotan mereka dengan sangat jelas," paparnya.


"Yeah, Tuan Mayer tak pernah salah dalam memutuskan sesuatu."


Kini kedua orang itu memasuki salah satu ruangan yang paling pojok, di mana terdapat seorang pria yang terkapar lemah dengan segala luka di sekujur tubuhnya. Bahkan, darah sudah mengering di lengan, kaki dan kepalanya.


"Bagaimana perasaanmu sekarang, kawan?" tanya Peter tetapi dengan senyum dan tatapan yang penuh dengan ejekan, pria itu mengangkat wajahnya dengan sisa tenaga yang ia punya.


"Bunuh saja aku, sialan!" geram pria itu dengan suara yang hampir hilang.

__ADS_1


"Yeah, Tuan Mayer memang sudah memerintahkan untuk menghabisi mu," jawab Peter sembari menodongkan pistol ke kepala pria itu. "Pengkhianat sepertimu memang seharusnya mati."


DOORRR


DORRRR


...🦋...


"Mommy!"


Louisa terbangun dari tidurnya dengan keringat yang membanjiri sekujur tubuhnya, ia tampak begitu ketakutan dan tak berselang lama pintu kamarnya terbuka.


"Nona Rae?" panggil Bi Amy cemas.


"Bibi Amy, aku mimpi buruk," rengek Louisa.


Bibi Amy pun mendekati Louisa, ia mengusap keringat dingin yang membasahi pelipis gadis itu. "Itu hanya mimpi, jangan takut," hibur Bi Amy.


"Tidak ada yang akan menyakiti mu, Nona Rae, kami semua akan melindungi," ujar Bi Amy berharap Nona mudanya ini kembali tenang. "Sekarang tidurlah, ini sudah malam, Sayang."


"Temani aku malam ini, Bi Amy, nanti aku mimpi buruk lagi."


Bi Amy mengangguk, ia menyelimuti Louisa dengan benar dan perlahan gadis itu kembali memejamkan mata sementara tangannya masih menggenggam erat tangan Bi Amy.


"Bi, bisa kau nyanyikan lagu untukku?" pinta Louisa tanpa membuka mata.


"Baiklah, Nona Rae," jawab Bi Amy dengan senang hati.


Hal seperti ini tak hanya terjadi sekali dua kali, tapi sudah sangat sering. Saat Nona mudanya sakit, atau mimpi buruk seperti sekarang, dia lah yang akan selalu ada untuk Louisa. Oleh sebab itu ia dan Louisa memiliki kedekatan yang berbeda dari pelayan yang lainnya.

__ADS_1


Meskipun Louisa juga sering berlaku tak baik padanya, tetapi Bi Amy tak mempermasalahkan itu karena itu tahu sebenarnya Louisa hanya kurang kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Sebenarnya gadis itu tidak nakal seperti yang orang-orang lihat, tetapi dia hanya ingin menarik perhatian semua orang karena ia tak mendapatkan itu dari orang tuanya.


...🦋...


Saat pagi menjelang, Ethan sudah rapi dan dia sudah siap dengan tugas hari ini. Ia berdiri di depan rumah bersama sopir Louisa yang bernama Tony.


"Apa kau betah bekerja di sini?" tanya Tony basa-basi karena sejak tadi Ethan hanya diam seperti orang bisu.


"Iya," jawab Ethan singkat.


"Padahal selama ini tidak ada yang betah menjadi Bodyguard pribadi Nona Rae, paling lama mereka hanya bekerja dua bulan karena mereka tidak tahan dengan segala tingkah gadis itu," papar Theo.


Ethan hanya melirik pria paruh baya itu tanpa mau menanggapi ceritanya.


"Kau pernah bekerja di mana sebelum ini?" tanya Tony.


"Di banyak tempat," jawab Ethan masih tanpa ekspresi.


"Pernah mendapatkan bos seperti Nona Rae?"


Ethan melirik Tony dengan kesal, raut wajahnya tampak begitu dingin bahkan sorot matanya begitu tajam. Hal itu berhasil membuat Tony bergidik ngeri, Ethan tampak berbeda dari Bodyguard yang lain


Tak berselang lama, Louisa datang dan ia langsung menggandeng tangan Ethan membuat pria itu terkejut. "Ada apa, Nona Rae?" tanya Ethan.


"Ayo masuk, aku ingin sarapan bersama dengan calon pacarku," tukas Louisa dengan ceria.


"Maaf, Nona Rae, aku tidak ingin menjadi calon pacarmu," bantah Ethan.


Louisa berdecak kesal. "Kau mau jadi calon pacarku atau aku perkosa kamu, mau? Huh?"

__ADS_1


...🦋...



__ADS_2