
Louisa hanya bisa tercengang, mulutnya sedikit terbuka seolah ia ingin mengatakan sesuatu. Namun, yang biasa ia lakukan hanya berkedip dan bernapas dengan susah payah.
Bagaimana tidak?
Ethan membawa Louisa ke gereja, di mana sudah ada pendeta yang siap menikahkan mereka.
"Ethan Eduardo Mayer, apakah kau bersedia menerima Louisa Rae sebagai pengantin mu?"
Jantung Louisa sepertinya akan meledak, ia juga merasa akan pingsan bahkan kakinya sudah seperti tak bertulang.
"Iya." Ethan menjawab dengan tegas, tanpa ragu sedikitpun. Sementara Louisa kini hanya bisa menelan ludahnya susah payah.
"Kau berjanji akan setia padanya di saat sakit dan sehat, kaya dan miskin, susah dan senang?"
"Iya."
Kepala Louisa terasa melayang, pandangannya sudah berkunang-kunang.
Ethan benar, dia membawa Louisa ke tempat yang hanya bisa menjawab iya atau tidak.
"Louisa Rae, apakah kau bersedia menerima Ethan Eduardo Mayer sebagai pengantin mu?"
"Hah?" Louisa melongo, ia menatap Ethan dengan nanar.
"Jawab iya atau tidak, My girl," bisik Ethan. Tentu ia tahu Louisa takkan menjawab tidak, ia sangat percaya diri akan hal itu.
"Louisa Rae, apakah kau bersedia menerima Ethan Eduardo Mayer sebagai pengantin mu?" Pendeta mengulangi pertanyaannya.
"Apa kau ingat yang kau katakan dulu, My girl? Kau bilang kita harus punya anak banyak setelah menikah, agar anak kita tidak kesepian seperti mu."
Ethan menggiring Louisa pada perasaan dan ingatan nya dulu, untuk meruntuhkan pertahanan hati Louisa.
"Jika kita menikah nanti, kita hanya punya dua pilihan. Pilihan yang pertama kita harus punya banyak anak. Supaya anak kita tidak kesepian jika kita sibuk bekerja."
"Pilihan yang kedua, kita boleh punya satu anak saja tapi kita tidak boleh terlalu sibuk. Anak kita butuh orang tuanya untuk menjadi teman curhat, atau setidaknya teman untuk menghabiskan sedikit waktu bersama. Bagaimana?"
"Ah, Ethan," rengek Louisa saat mengingat kembali apa yang dulu sempat ia katakan pada pria itu.
"Louisa Rae, apa kau keberatan dengan pernikahan ini?" tanya sang Pendeta yang membuat Louisa galau. "Jawablah, iya atau tidak"
"Iya." Louisa menjawab dengan cepat yang membuat Ethan langsung tersenyum penuh kemenangan.
"Baiklah, jawab pertanyaan ku sekali lagi. Louisa Rae, apakah kau bersedia menerima Ethan Eduardo Mayer sebagai pengantin mu?"
"Iya."
__ADS_1
"Kau berjanji akan setia padanya di saat sakit dan sehat, kaya dan miskin, susah dan senang?"
"Iya."
"Sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri, dan kau boleh mencium pengantin mu, Ethan."
Louisa masih terkejut dan masih mencoba memahami apa yang terjadi, tetapi Ethan justru langsung menarik tengkuk Louisa dan memangut bibir gadisnya itu.
Gadis yang entah bagaimana kini telah sah menjadi istrinya, tanpa cincin pernikahan, tanpa gaun pernikahan.
Louisa hanya bisa melotot saat Ethan mengecup bibirnya dengan dalam, bahkan pria itu kini mulai melumaatnya dengan gemas.
Louisa hanya bisa pasrah, ia meremas lengan Ethan untuk melampiaskan perasaan yang bergejolak dalam hati nya.
"Ethan!" Louisa mendorong dada Ethan saat ia merasa ciuman itu cukup berlebihan.
"Yes, My girl," sahut Ethan sembari mengusap permukaan bibir Louisa yang basah karena ulah nya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Louisa dengan suara rendah.
"Menikahi mu." Ethan menjawab dengan enteng.
"Cincin nya mana? Aku bahkan tidak memakai gaun, tidak ada tamu undangan, tidak ada Mommy, tidak ada uncle Peter dan uncle Simon. Tidak ada emmphhh__"
Ethan yang gemas mendengar ocehan Louisa langsung membungkam bibir gadisnya itu dengan bibirnya, bahkan kini Ethan langsung menyusupkan lidah nya ke mulut Louisa. Membuat gadis itu tersentak, tubuh nya menegang dan ia hanya bisa mematung menerima serangan tiba-tiba itu.
Namun, bukan Ethan nama nya jika patuh pada perintah orang lain.
Alih-alih menghentikan ciuman nya dan membawa Louisa pulang, ia justru memperdalam ciuman itu hingga Louisa merasa lemas dan kesulitan bernapas.
...🦋...
"Apa? Menikah?"
Nyonya Agatha memekik, tubuh nya langsung terasa lemas tak berdaya, wajah nya langsung pucat bahkan jantung nya seperti berhenti berdetak.
Siapa yang takkan jantungan ketika anak perempuan nya tiba-tiba pulang membawa suami?
"Itu tidak sah!" seru Nyonya Agatha sembari melempar tatapan tajam nya pada Ethan. Sementara Louisa hanya bisa bersembunyi di balik tubuh kekar Ethan.
"Kami dinikahkan oleh orang yang tepat dan di tempat yang tepat," sanggah Ethan dengan santai.
"Tapi__"
"Dan usia Louisa sudah 18 tahun, dia berhak membuat keputusan nya sendiri." Ethan tak membiarkan ibu mertuanya itu berbicara.
__ADS_1
"Lou?" lirih Nyonya Agatha.
Wanita paruh baya itu sungguh bingung harus melakukan apa, atau berkata apa. Tindakan Louisa dan Ethan sungguh di luar nalar.
"Kenapa kamu melakukan ini, Sayang?" tanya Nyonya Agatha dengan sangat lembut.
"Ethan memaksa ku, Mom," jawab Louisa merengek.
"Tapi kamu bahagia 'kan kita menikah? Sekarang sudah jadi suami istri," ujar Ethan sembari tersenyum manis.
Louisa hanya bisa cengengesan, ia sendiri sungguh tak menyangka akan bertindak sejauh ini dengan Ethan.
"TIDAK!" seru Nyonya Agatha kemudian. "Pernikahan kalian belum sah, jadi ...." Ia menarik Louisa hingga menjauh dari Ethan. "Kalian menikah lagi nanti, saat usia Louisa 20 tahun."
"Itu terlalu lama," protes Ethan sembari menarik Louisa hingga gadis itu jatuh ke pelukannya.
"Tapi, Ethan__"
"Karena kami sudah menikah, jadi sekarang kami akan mengatur jadwal untuk bulan madu."
"Astaga, kenapa kalian jadi begini?" Nyonya Agatha memijit pelipis nya
"Karena kami saling mencintai Nyonya, Rae," jawab Ethan. "Ini adalah cara kami mengungkapkan cinta."
"Dengan menikah?"
"Memangnya ada ungkapan cinta yang lebih kuat dari pernikahan?"
...🦋...
"MENIKAH?"
Peter dan Simon memekik bersama saat Ethan memberi tahu bahwa ia sudah menikah.
Saat ini kedua pria paruh baya itu sedang video call dengan Ethan, anak asuh sekaligus Tuan muda mereka itu pamer fakta bahwa ia sudah menikahi Louisa.
"Iya, kami akan bulan madu sebentar," tukas Ethan dengan santainya.
"Bulan madu? Apa kau gila?" geram Peter. "Kita sedang di puncak masalah, dan kau memikirkan bulan madu?"
"Peter, saat seseorang menikah, apalagi yang mereka pikirkan kalau bukan bulan madu?"
Simon dan Peter meringis mendengar ucapan Ethan yang sangat di luar nalar itu.
"Tapi kita sedang punya banyak masalah, Tuan Mayer," ujar Simon mencoba tenang. "Kita juga harus mengurus Dante, kita belum menemukan putri Dante. Kita harus bergerak cepat sebelum mereka yang menyerang kita, jangan sampai mereka melihat kita hanya tenang-tenang saja, seolah tidak apa-apa."
__ADS_1
"Simon, sungai yang tenang bukan berarti takkan membuat seseorang tenggelam. Bahkan, bisa jadi di sungai yang terlihat tenang itu ada buaya yang siap menerkam siapa saja yang menceburkan diri ke sungai tersebut. Dan akan jauh lebih baik kita terlihat tenang kemudian mengejutkan mereka dengan aksi yang tak terduga, dari pada kita heboh padahal tak ada yang terencana."