
Louisa menjalani kehidupan yang sekarang dengan penuh kebahagiaan, ia menikmati setiap hari-hari yang ia lewati. Mungkin, hidupnya tak senyaman dulu. Di mana ia cukup berteriak saat menginginkan sesuatu, maka dalam sekejap mata para pelayan akan memenuhi keinginannya.
Sementara sekarang? Ia harus belajar mandiri, melakukan semuanya sendiri. Yeah, kecuali masak tentunya. Gadis itu pernah mencoba memasak dan ia membuat dapur seperti kapal pecah.
Nyonya Agatha meminta Louisa tidak perlu memasak, tetapi gadis itu harus belajar membersihkan kamar, merapikan ranjang dan mencuci pakaiannya. Apalagi Nyonya Agatha kini sudah mendapatkan pekerjaan baru yaitu di toko roti, melayani pembeli, membungkus roti. Itu adalah pekerjaan yang bisa dengan cepat dia pelajari.
Awalnya Louisa merasa kesulitan dan terus menggerutu saat ia harus melakukan semuanya sendiri, tetapi melihat sang ibu yang harus bekerja dari pagi sampai sore membuat ia merasa kasihan jika harus melimpahkan semua pekerjaan rumah pada sang ibu.
"Ingat, Sayang, jangan lupa melipat pakaianmu dengan rapi atau Mommy akan tidak akan memberimu jatah makan malam." Ancaman itu sudah sering sekali keluar dari mulut Nyonya Agatha sebelum ia berangkat bekerja, dan Louisa hanya bisa pasrah karena ancaman itu pernah terlaksana beberapa hari yang lalu.
Louisa masih belum pandai membersihkan kamar apalagi menyusun baju dengan rapi di lemari, jadi ia menumpuknya dengan asal dan Nyonya Agatha tak memberinya makan malam.
Sadis, bukan?
"Okay, Mom," sahut Louisa dengan pasrah.
Setelah membersihkan kamar, gadis itu segera berangkat ke sekolahnya dengan penuh semangat.
Louisa juga belajar menari dan bermain piano dengan sangat giat dan semangat, meski ia sudah lama tidak belajar menari, tetapi ia belajar dengan cepat karena Louisa mencintai dan menyukai apa yang dia lakukan.
Louisa juga mendapatkan teman baru, seorang pria muda berusia 20 tahun yang bernama Edwardo. Tetapi Louisa lebih suka memanggil Ed, yang katanya lebih simple dan singkat.
Pemuda itu tampan dan tentu berasal dari Madrid, bahkan tak jarang mereka pergi makan siang bersama di sela aktivitas rutin mereka.
Ed adalah seorang pianis yang cukup baik, ia juga sering mengajari Louisa cara bermain piano dengan baik dan benar. Selain itu, Louisa juga mendapatkan teman yang bernama Lindka, seorang gadis berusia 18 tahun yang juga berasal dari keluarga menengah. Berhasil masuk ke The Great Musical And Dance berkat bakatnya.
"Untuk menyatakan cinta tak selalu harus dengan kata-kata, bisa juga irama musik maupun gerakan tarian," kata Ed sambil tersenyum.
Saat ini Louisa sedang makan siang di kantin bersama kedua teman barunya.
"Benar sekali, ballet bukan hanya gerakan yang lentur. Tapi juga bahasa dan ungkapan hati, kita bisa mengungkapkan amarah, rindu, putus asa dan cinta lewat gerakan tubuh kita," sambung Lindka.
Informasi yang diberikan kedua temannya itu tentu saja sangat berarti untuk Louisa, ia memang banyak belajar dari Ed dan Lindka.
__ADS_1
"Apa kau ingin tampil di acara ulang tahun sekolah nanti, Princess?" tanya Lindka. "Uff, sebenarnya menyebutkan namamu sedikit sulit," ucapnya yang seketika membuat Louisa tertawa kecil.
"Bagi seseorang aku adalah Tuan Putri makanya namaku Princess," ringis Louisa.
"Bukankah nama ibumu adalah Queen Walter?" tanya Ed Penasaran dan Louisa hanya bisa mengangguk pelan.
"Dan nama ayahmu pasti King Walter," tambah Lindka.
"Apa kalian berasal dari keluarga kerajaan?" pekik Ed.
"Tidak," jawab Louisa. "Aku juga tidak tahu kenapa nama kami begitu," gumamnya kemudian.
"Ah, tapi itu nama yang bagus," seru Lindka. "Jadi? Kau belum menjawab pertanyaanku, apakah kau ingin tampil di acara nanti?"
"Aku tidak percaya diri," jawab Louisa dengan jujur. "Aku tidak mungkin bisa menari dan bermain musik dalam waktu 6 bulan."
"Jangan bilang begitu," tegur Ed. "Aku yakin kau bisa melakukannya asal kamu serius, bertekad dan terus berlatih."
Menyatakan cinta?
Mendengar kata itu, Louisa langsung teringat pada Ethan. Haruskah ia menyatakan cintanya sekali lagi lewat musik dan tariannya?
"Tapi dia tidak mungkin datang dan melihatku," batin Louisa.
...🦋...
Di sisi lain, Ethan kembali pada aktivitasnya sebagai seorang Don Mafia yang memiliki banyak aktivitas berbahaya. Bahkan, tak jarang nyawa menjadi taruhannya.
Di sela semua aktivitas itu, Ethan masih sempat memantau Louisa dan juga mencari tahu di mana keberadaan anak-anak Roberto serta Jose.
Selama ini, Ethan tidak pernah takut pada siapapun atau pada apapun yang mungkin menjadi ancaman untuknya.
Namun, sekarang Ethan mengenal apa itu rasa takut.
__ADS_1
Louisa adalah kelemahannya, dia selalu takut gadis itu dalam bahaya karenanya. Ia juga takut orang-orang akan menggunakan dia sebagai senjata untuk menaklukan Ethan.
Hal itu terkadang membuat Ethan benar-benar ingin melupakan Louisa, tak ingin lagi mengurus dan memantau gadis itu meski dari kejauhan. Agar tak ada jejak Louisa dalam dirinya, juga tak ada jejak dirinya dalam hidup Louisa. Namun, ia tak bisa menahan gejolak dalam hatinya.
Ia ingin tahu apa yang terjadi pada gadis itu, apa yang sedang ia lakukan, ke mana saja ia pergi, dengan siapa dan sebagainya.
Ethan tak dapat membendung rasa ingin tahu, untuk pertama kalinya ia kalah pada yang dirasakan hatinya.
"Dia berteman dengan seorang pria muda, apa dia berpacaran sekarang?"
Ethan menghela napas berat saat melihat foto Louisa bersama seorang pria muda. "Aku membayar sekolahnya agar dia belajar dan menjadi orang yang sukses kelak, bukannya pacaran."
Darah Ethan seperti mendidih, hatinya terasa panas dan pikirannya sudah berkecamuk.
Saat ini Ethan sedang dalam perjalanan menemui salah satu rekan kerjanya di pelabuan, tentu saja bersama Peter dan Simon.
"Apa pacarnya tampan?" tanya Simon sembari mengintip layar gadget yang masih menyala.
"Dia sangat jelek," tukas Ethan penuh penekanan. "Masih bocah, aku tidak menyangka selera Louisa seperti selera anak-anak," gerutu Ethan yang membuat Simon meringis.
"Coba aku lihat fotonya." Peter meminta gadget itu dan Ethan langsung memberikannya.
"Anak muda ini tampan," ucap Peter karena Ed memang pemuda yang tampan. "Pemuda Madrid itu memang tampan-tampan, kenapa kau bilang jelek?"
Ethan tampak marah, sorot matanya begitu tajam sementara Simon hanya bisa mengulum senyum.
"Dia sedang cemburu, Peter," tukas Simom. "Jangan pernah mengucapkan satu patah kata pun tentang seseorang yang membuat orang cemburu di depannya secara langsung. Atau dia akan terbakar seperti jerami."
"Aku tidak cemburu," bantah Ethan dengan cepat. "Tapi pria itu memang sangat jelek, dia seperti bocah ingusan yang masih tidur di ketek ibunya."
Peter sudah membuka mulut untuk mengeluarkan opininya, tetapi Simon segera memberi isyarat agar pria itu diam.
"Ingat, Peter! Jerami yang terbakar bisa membuat apapun yang ada di sekitarnya hangus!"
__ADS_1