
Seharusnya setelah salam perpisahan itu hati Ethan menjadi lebih tenang, tetapi ternyata tidak!
Sang Don mafia itu justru merasa ada yang salah dengan hatinya, sebab hatinya terus berdebar dan ia terus terbayang dengan kecupan Louisa di keningnya. Bahkan, pria itu sampai menyentuh keningnya sendiri sambil mengulum senyum manis sejak tadi.
Saat ini Ethan masih di kamarnya, ia melirik jam dinding dan memperkirakan apakah kini Louisa sudah sampai di tempat tujuan atau tidak.
Bersamaan dengan itu, Simon dan Peter masuk ke kamarnya dan Ethan langsung menodong mereka dengan pertanyaan tentang Louisa.
"Apa ada kabar dari Louisa?" tanya Ethan dengan cepat yang membuat Simon terkekeh, beda halnya dengan Peter yang justru melempar wajah sinis nya saat Ethan bertanya seperti itu.
"Ada," jawab Simon. "Dia sudah sampai di Madrid, sudah diantarkan ke tempat tinggalnya juga," jelas Simon.
"Apa dia menyukai tempat tinggalnya? Apa menurutmu dia akan nyaman di tempat asing itu? Apa dia bisa beradaptasi?"
Pertanyaan beruntun Ethan itu membuat Simon tertawa geli, sementara Peter hanya bisa melongo sambil geleng-geleng kepala.
"Aku tidak tahu," jawab Simon. "Lagi pula kau hanya memerintahkan kami untuk menyiapkan tempat tinggal dan mengantarkan mereka dengan selamat sampai tempat tinggal mereka. Bukan mewawancarai mereka," tukas Simon.
"Yeah, kau benar juga," gumam Ethan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Apa yang sudah setan kecil itu lakukan padamu, huh? Apa dia menyihirmu?" cibir Peter. "Kau banyak berubah sejak mengenal gadis itu."
"Apa kau tahu sebuah rahasia?" bisik Simon pada temannya itu dan Peter hanya menaikan sebelah alisnya. "Rahasia bahwa cinta adalah sihir, dia bisa merasuki jiwamu dan mengambil kewarasanmu."
"Kau terlalu banyak menonton sinetron, tidak ada cinta seperti itu." Peter mendorong Simon agar menjauh darinya, sementara Ethan hanya terkekeh melihat kedua pria di depannya itu, dan tentu ia mendengar apa yang dikatakan oleh Simon.
"Tentu saja ada," tegas Simon tak mau dibantah.
__ADS_1
"Identitas seperti apa yang kau berikan pada Louisa dan ibunya?" tanya Ethan kemudian. "Siapa nama mereka?" tanyanya karena Ethan memang mempercayakan semuanya pada Peter.
"Princess dan Queen Walter," jawab Peter yang membuat Simon dan Ethan terbelalak.
"Siapa?" tanya Ethan sekali lagi seolah ingin memastikan bahwa dia tidak salah dengar, sementara Simon menatap temannya itu dengan mata yang membulat.
"Nama baru Louisa adalah Princess dan ibunya adalah Queen. Nama keluarga mereka adalah Walter." Peter menjawab dengan santai seolah tak ada yang salah dengan itu.
Sementara Simon kini justru tertawa terbahak-bahak, beda halnya dengan Ethan yang masih melongo.
Princess dan Queen memang cocok, tapi ....
"Lalu di mana King?" tanya Simon mengejek di tengah tawanya.
"Sudah mati, kan." Lagi-lagi Peter menjawab dengan santai yang membuat tawa Simon semakin menjadi.
"Astaga, Peter, apa kau tidak bisa mencari nama lain yang sedikit lebih normal?" kekeh Ethan.
"Daughter dan Mother," jawab Simon yang masih tertawa. Bahkan, mata pria itu sampai berair dan ia memegang perutnya yang terasa sakit karena tak bisa berhenti tertawa.
"Aneh sekali saranmu," sungut Peter. "Aku sudah memberikan nama yang benar, Princess untuk gadis kecil itu dan Queen untuk ibunya."
...🦋...
^^^Madrid, Spain.^^^
Louisa dan sang Ibu hanya bisa tercengang saat Andres-anak buah Ethan, mengantar mereka ke sebuah perumahan yang tak bisa dibilang sederhana.
__ADS_1
Saat Simon mengatakan mereka akan dikirim ke Spain, Louisa dan ibunya tak bertanya mereka akan di kirim ke kota mana. Namun, kini berada sudah berada di ibu kota Spain, Madrid.
Ethan menempatkan mereka di kota besar ini dan tentu sudah dengan tempat tinggal yang sangat layak, bahkan cukup mewah.
"Sampai kapan kami boleh tinggal di sini?" tanya Louisa pada Andres yang mengantar mereka.
"Selama yang kau mau, Nona Walter," jawab Andres.
Louisa dan Nyonya Agatha mengelilingi rumah yang cukup luas itu. "Apa bisa kita membersihkan rumah ini tanpa pelayan?" tanya Louisa cemas pada sang Ibu.
"Kau harus belajar bersih-bersih, Lou, kita tidak akan punya pelayan di sini," tukas Nyonya Agatha.
"Kami tidak akan menemui kalian lagi setelah ini," kata Andres tiba-tiba. "Itu adalah perintah tuan Mayer, karena jika ada yang mengikuti kami atau melacak keberadaan kami maka secara otomatis kalian dalam bahaya."
"Kami mengerti," sahut Nyonya Agatha. "Terima kasih banyak atas bantuannya."
"Silakan gunakan ponsel ini!" Andres menyerahkan dua kotak ponsel pada Nyonya Agatha. "Ponsel ini tidak akan bisa disadap atau dilacak, tuan Mayer ingin aku memberikannya pada kalian."
"Apa ada nomor Ethan di sini?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Louisa, tentu saja ia sangat berharap ada kesempatan untuk menghubungi Ethan.
"Tidak ada, Nona Walter," jawab Andres yang langsung membuat wajah Louisa murung, itu artinya ia takkan pernah bisa menghubungi Ethan lagi.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Andres segera pergi dari rumah itu. Meninggalkan Nyonya Agatha dan Louisa seperti anak yatim piatu.
"Mom, apa yang harus kita lakukan di sini?" tanya Louisa cemas.
"Menjalani hidup yang indah, Sayang," jawab Nyonya Agatha semangat padahal ia sendiri tidak tahu harus melakukan apa. Selama ini hidupnya terlalu nyaman dan terjamin karena uang dan kuasa suaminya, sebelum menikah pun dia adalah putri orang kaya sehingga tak pernah memulai kehidupan dari nol seperti itu.
__ADS_1
"Ini adalah kota Madrid, pasti akan sangat menyenangkan jika kita tinggal di sini."
Namun, sayangnya Louisa tampak tak senang. Dia memang berada di Madrid, tapi hatinya tertinggal di London.