Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 34 - Benci Setelah Cinta?


__ADS_3

Entah apa yang merasuki Ethan, tapi mantan Bodyguard Louisa itu tak bisa menahan diri untuk tidak menyambangi Lousia meskipun ia harus melihatnya dari jauh.


Ethan merasa kasihan melihat Louisa yang tampak berbeda dari biasanya, dan ia terkejut melihat Louisa diikuti oleh tiga orang pria tetapi Ethan tetap berusaha tak menampak diri dan hanya menjaga dari jauh. Namun, saat Ethan melihat para bocah ingusan itu bertindak kurang ajar, ia tak bisa lagi menahan diri dan langsung melesatkan satu tembakan tepat di pahanya.


Louisa yang melihat kembali pria itu hanya bisa tercengang, ia hanya bisa menggumamkan nama Ethan seolah tak percaya itu memang sang Bodyguard.


Sementara Ethan kini justru menodongkan senjatanya pada kedua pria yang lain. "Pergi dan bawa temanmu ke rumah sakit!" seru Ethan dengan dingin.


"Hey, Bodyguard sialan!" seru salah satu pria itu yang memang hanya mengenali Ethan sebagai bodyguard Louisa. "Kami akan melaporkanmu ke polisi!"


Tanpa sadar, Lousia tersenyum miring mendengar ancaman itu.


Polisi?


Ethan membunuh lebih dari 30 orang di rumahnya dan sampai sekarang tak ada polisi yang datang untuk melakukan investigasi.


"Apa kau lihat itu?" Ethan menatap ke langit dan secara spontan ketiga pria itu pun juga menatap ke atas. "Lihat burung itu!"


Ethan membidik buruk yang sedang terbang di atasnya dan sejurus kemudian terdengar suara tembakan, membuat semua orang menjerit apalagi ketika burung itu kini jatuh tepat di depan mereka dengan luka di kepalanya.


Seketika ketiga senior Louisa itu gemetar, bahkan ada yang sampai terkencing di celananya. Sementara Louisa hanya bisa menatap Ethan penuh amarah.


"Cepat pergi dan jangan lupa tutup mulut kalian!"


Ketiga pria itu langsung pergi dari sana dengan ketakutan.


"Apa semudah itu bagimu untuk membunuh orang, huh?" desis Louisa, dadanya bergemuruh dan darahnya terasa mendidih.


"Mereka hampir melecehkanmu," sahut Ethan dengan tenang.


"Kau bisa memukul mereka tanpa menembaknya, kau bahkan membunuh burung yang tak bersalah."


Ethan justru menahan senyum mendengar kata-kata terakhir Louisa.


"Sekarang pulanglah!" seru Ethan kemudian ia bergegas pergi dari sana, meninggalkan Louisa yang masih terbakar amarah. Ingatan dengan apa yang terjadi di rumahnya kembali terngiang dalam benak gadis remaja tersebut.


Louisa mengambil sebatang kayu dan mencoba menyerang Ethan dari belakang. Namun, Ethan dapat merasakan pergerakan Lousia itu sehingga ia bisa menghindari serangan Louisa tepat waktu.


"Apa kau ingin membunuhku?" tanya Ethan dengan nada datar.

__ADS_1


"Iya, kau telah membunuh Bi Amy jadi aku ingin balas dendam," jawab Louisa berapi-api. Ia kembali mencoba memukul Ethan dengan kayu itu tetapi dengan mudah Ethan menangkisnya.


"Kau sungguh ingin membunuhku?" tanya Ethan sekali lagi.


"Iya!" teriak Louisa sambil menagis.


Ethan menarik kayu itu dan melemparnya menjauh, setelah itu ia meletakkan pistol di tangan Lousia yang seketika membuat tangan gadis itu gemetar.


"Ayo, tarik pelatuknya!" seru Ethan tetapi Lousia hanya berdiam diri.


"Pistol itu tidak terkunci, Lou. Kau hanya perlu menarik pelatuknya seperti ini." Ethan seperti iblis yang menggoda anak Adam agar membunuh, bahkan kini ia memegang tangan Lousia kemudian menarik pelatuknya hingga terdengar suara tembakan yang membuat Lousia tersentak.


"Ayo, Louisa! Tembak aku!"


Mata Louisa memerah, ia mencoba menarik pelatuk tetapi pada akhirnya ia melempar senjata itu menjauh darinya.


"AAGGGHHHHH!!!!"


Lousia menjerit dan tangisnya pun pecah, membuat hati Ethan terkesiap.


"Kamu membantai orang-orang di rumahku, Ethan," lirih Louisa. "Ada lebih dari 30 nyawa yang kau ambil, kau sudah seperti malaikat maut yang mengerikan."


Louisa terperangah, ia tak menyangka justru itu kata-kata yang keluar dari mulut Ethan.


"Apa kau tidak merasa bersalah?" lirih Louisa akhirnya. "Apa kau benar-benar tidak punya hati, Ethan?"


"Hatiku sudah mati saat aku melihat orang-orang di sekitar ku mati!"


"Ya Tuhan!"


Louisa menggumam lesu, ia mengusap wajahnya dengan kasar sementara Ethan kini berlalu pergi, dan ia sengaja tak membawa senjatanya. Jika memang Louisa ingin membunuhnya, maka Ethan sudah siap mati detik itu juga di tangan sang Nona muda.


Sementara Louisa kini melihat senjata api itu dengan pikiran yang berkecamuk, haruskah ia meninggalkannya atau membawanya?


Atau ... bisakah dia menembak Ethan dengan senjata itu?


"Ethan!" teriak Lousia yang kini sudah mengarahkan senjata itu pada Ethan. "Aku akan membunuhmu!"


Ethan mendengar ancaman itu dengan sangat jelas tetapi ia enggan menoleh. Bahkan, Ethan dengan sengaja memperlambat langkahnya tetapi setelah beberapa saat ... masih tak ada penyerangan.

__ADS_1


Di belakangnya, Louisa kini terduduk lemas dan ia hanya bisa menangis sesegukan. Entah kenapa Louisa tak sampai hati membunuh Ethan, sang Bodyguard yang menjadi cinta pertamanya tetapi juga menjadi malaikat maut bagi orang-orang di sekitarnya.


"Lalu kenapa kamu masih datang menyelamatkan aku seperti Dewa penyelamat, sialan!" geram Louisa. "Bukankah kau ingin balas dendam dan aku adalah target utamamu?"


...🦋...


"Maafkan aku, Bertrand, tapi aku tidak bisa membantumu apalagi aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu."


Tuan Bertrand hanya bisa menghela napas berat mendengar alasan yang sama dari beberapa teman-temannya.


Ia mencoba mencari bantuan agar bisa membangun bisnis kembali, ia butuh seorang investor tetapi tak ada yang bersedia memberikannya dana setelah mereka tahu kini semua perusahaan Rae tiba-tiba menjadi milik Ethan Eduardo Mayer tanpa alasan yang jelas.


Apalagi desas desus Lousia yang diperkosa beberapa pria membuat mereka semakin enggan membantu, sebab mereka merasa Tuan Bertrand sedang bermasalah dengan orang tertentu dan mereka tak mau kena imbasnya.


Seharian Tuan Bertrand dan sang istri mencoba mencari bantuan tetapi hasilnya nihil, hingga mereka memutuskan untuk pulang karena hari sudah sore.


Sesampainya di rumah, mereka dikejutkan dengan Lousia yang menonton televisi sambil memegang sebuah pistol.


"Lou, dari mana kau mendapatkan senjata itu?" pekik Nyonya Agatha.


"Aku ingin membunuh Ethan," sahut Lousia sekenanya yang membuat sang Ibu terhenyak.


"Sayang, putriku ...." Nyonya Agatha langsung mengambil mengambil pistol itu. "Jangan begini, Sayang, Mommy mohon."


Tuan Bertrand terdiam, ia menatap putrinya yang kini tampak sangat berbeda. Dulu Louisa terlibat manis dan ceria. Tetapi kini gadis itu terlihat sangat sangar, dipenuhi amarah dan semua itu karena dirinya.


"Dendam tidak akan ada habisnya, Louisa. Kau putri kami yang baik, Mommy mohon jangan pikirkan dendam," bujuk Nyonya Agatha dengan sangat lembut.


"Sayang ...." Tuan Bertrand duduk bersimpuh di depan Louisa, ia memegang tangannya dan menatap mata Lousia. "Kita pergi dari sini, kita pergi ke tempat yang jauh dan memulai hidup baru. Kau mau? Lupakan semua yang terjadi, lupakan dendam dan masalah yang ada. Okay?"


"Daddy tidak marah dia membunuh semua orang?"


Mendengar pertanyaan itu, Tuan Bertrand teringat dengan masa lalu dan kali ini terlihat penyesalan di mata pria paruh baya itu.


"Dia hanya membalas apa yang sudah Daddy lakukan dulu padanya."


...🦋...


Mampir gaesss, masih sepi.

__ADS_1



__ADS_2