Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 149 - Calon Orang Tua Yang Baik


__ADS_3

Sang wanita memakai gaun yang cantik, sang pria pun memakai tuxedo yang membuatnya begitu tampan dan berkharisma. Dan kesempurnaan penampilan mereka tak berkurang meski Ashley rupanya membawa Peter makan makana Street food, demi menyesuaikan dengan dompenya yang tipis.


Sembari menikmati beberapa Street food itu, Ashley bercerita tentang ibu dan ayahnya yang meninggal. Tetapi sebelum sang Ayah meninggal, ia sempat menikah lagi dengan seorang wanita yang kini menjadi Ibu tiri Ashley.


"Itu seperti di dongeng cinderella," ujar Peter sambil tersenyum tipsi.


"Aku juga merasa begitu, apalagi Ibu tiriku hanya menjadi beban untukku," keluh Ashley. "Aku bekerja siang dan malam sampai tidak bisa menabung hanya untuk menghidupi kami berdua, apalagi dia benar-benar tidak bekerja."


"Apa dia sudah sangat tua sampai tidak bekerja?" tanya Peter yang membuat Ashley mengulum senyum. Bagaimana tidak? Ini pertanyaan pertama Peter setelah sejak tadi pria itu hanya menanggapi sekedarnya saja.


"Dia masih kuat untuk bekerja, bahkan temannya pernah menawarkan pekerjaan. Tapi dia memang pemalas sialan, hanya ingin bergantung hidup padaku."


Peter menatap wajah Ashley dan tampak jelas wanita marah. "Kalau begitu jangan beri dia uang," kata Peter. "Kau dewasa, dia juga dewasa. Kalian bisa hidup sendiri-sendiri."


"Dia marah saat aku tidak memberinya uang."


"Kalau begitu tinggalkan dia. Lagi pula dia bukan ibu kandungmu, bukan tanggung jawabmu menghidupi dia."


Ashley terdiam dan kini ia yang menatap Peter. Selama ini, setiap kali Ashley bercerita pada seorang tentang hidupnya, biasanya mereka hanya akan bilang sabar dan sabar. Dan baru kali ini ada yang memberikan tanggapan berbeda atas ceritanya.


"Lalu bagaimana dengan keluargamu?" tanya Ashley kemudian. "Kau tinggal bersama siapa saja?"


"Aku tinggal bersama Simon, Ethan, dan Louisa. Tapi karena Simon sudah menikah, jadi sekarang dia tinggal bersama istrinya."


"Apakah mereka semua suadaramu?"


"Bukan," jawab Peter. "Simon temanku, Ethan putra temanku yang sudah meninggal dan Louisa istri Ethan."


Ashley melongo, tak mengerti dengan hubungan Peter bersama ke empat orang yang disebutkan itu.


"Bisa kau bercerita lebih detail?" pinta Ashley, dan Peter pun mengangguk.


"Jadi begini, dulu aku tinggal di jalanan karena aku kabur dari rumah. Aku tidak suka tinggal bersama orang tuaku yang tidak baik, kemudian aku bertemu dengan pria bernama Eduardo, ayah Ethan. Dia membawaku ke rumahnya dan mempekerjakan ku di sana, aku juga bertemu Simon di sana."

__ADS_1


"Hem, cerita yang menarik, lalu?"


"Lalu kami bertiga menjadi teman yang sangat dekat, tapi suatu hari rekan kerja bisnis ayah Ethan yang Bertrand Rae membunuh kedua orang tua Ethan_"


"Uhuk ... uhuk!" Ashley langsung tersedak makanannya sendiri mendengar kata membunuh, ia melotot terkejut.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Peter cemas apalagi melihat wajah Ashley memerah.


"Membunuh? Mereka dibunuh?" bisik Ashley tak percaya.


"Iya," jawab Peter dengan tenang. "Lalu Ethan menyusun misi balas dendam pada Bertrand Rae, tapi dia justru jatuh cinta pada putru Bertra Rae yang bernama Louisa Rae."


"HAH?!"


Ashley melotot lebih lebar, bahkan mulutnya pun menganga sangat lebar.


"La-lalu?" tanyanya kemudian.


"Lalu mereka menikah setelah Bertrand Rae mati, dan sekarang Louisa sedang hamil. Aku sangat senang, aku akan membelikan banyak hadiah untuk mereka nanti." Peter bercerita sambil tersenyum lebar, seolah apa yang dia ceritakan bukan sesuatu yang mengerikan, padahal Ashley menganggap itu sangat mengerikan.


Namun, seketika Ashley menyadari sesuatu. "Apa kau baru saja tersenyum lebar?" tanya Ashley. "Kau sangat tampan saat tersenyum lebar."


Lagi-lagi Peter tersipu saat mendapatkan pujian itu, bahkan dadanya berbunga-bunga.


...🦋...


"Sayang, apa yang kau lakukan?" pekik Ethan saat melihat Louisa membawa satu nampan yang berisi makanan dan minuman.


"Aku mau makan sambil nonton TV," kata Louisa.


"Oh Tuhan, kau tidak boleh membawa barang begitu. Nanti kau lelah dan anak kita juga lelah." Ethan langsung mengambil nampan itu dari tangan Louisa. "Di sini ada banyak pelayan, suruh saja mereka melakukannya."


"Itu hanya hal kecil," ujar Louisa.

__ADS_1


"Kau tidak boleh membantah, ini semua demi anak kita!"


Ethan membawa Louisa ke ruang tengah. "Kau ingin yang lain, Sayang?" tanyanya kemudian.


"Tidak," jawab Louisa.


Saat ia hendak duduk di sofa, tanpa ia sengaja pahanya terkena pinggiran meja yang membuat ia memekik secara spontan.


"Kenapa?" tanya Ethan cemas.


"Auh, kena pinggiran meja," ringis Louisa sembari memegang pahanya itu.


"JOEL!" teriak Ethan dengan sangat lantang.


Yang dipanggil pun langsung datang hanya dalam hitungan detik. "Iya, Don Mayer?"


"Singkirkan meja ini!" seru Ethan yang membuat Joel bingung, begitu juga dengan Louisa.


"Kenapa, Sayang?" tanya Louisa.


"Meja ini berbahaya untukmu," jawab Ethan.


"Cepat, Joel!!" titah nya. "Dan jangan lupa setelah itu beli meja yang tidak berbahaya untuk istriku."


Joel hanya melongo, dia sudah membuka mulut untuk bertanya tetapi Ethan justru berkata, "Jangan banyak tanya dan lakukan saja apa yang aku suruh. Keselamatan Nyonya Mayer itu sangat penting."


"Baiklah," cicit Joel kemudian.


"My girl, kita makan di kamar saja, kau bisa menonton TV di sana. Okay?"


"Tapi, Ethan-"


"Ayo, jangan membantah ucapanku karena aku melakukan ini demi keselamatan kalian berdua. Aku ingin jadi suami dan ayah yang baik."

__ADS_1


Louisa mengulum senyum mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu, meski ini sangat berlebihan, tetapi Louisa merasa sangat senang karena dicintai dengan begitu besar.


"Baiklah, suami seksi-ku," goda Louisa. "Ayo kita ke kamar."


__ADS_2