Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 59 - Ketika Don Mafia Kasmaran


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam di London, artinya sudah jam 12 di Madrid. Dan Ethan tak bisa tidur karena terus memikirkan Louisa, ia bertanya-tanya apakah gadis itu menyukai rumahnya? Apakah dia merasa nyaman di sana? Dan apakah dia memikirkan Ethan seperti Ethan memikirkannya?


Pertanyaan itu terus menari dalam benak Ethan, bahkan tak terasa kini jarum jam sudah menunjukan pukul 3 pagi.


Ethan menghabiskan waktu berjam-jam memikirkan Louisa dan Louisa, bahkan ia mengabaikan perintah Dokter agar tidur tepat waktu.


Sementara di sisi lain, Louisa pun tak bisa tidur karena memikirkan Ethan. Ia terus bertanya-tanya kenapa Ethan tak mau mengakui perasaan cintanya?


"Lagi pula aku takkan meminta dia menikahiku, apa susahnya akui saja kalau dia menyukaiku?" Louisa berbalik badan. "Apa dia tahu rasanya merindukan seseorang? Sangat menyiksa, aku harap dia lebih tersiksa dariku." Louisa kembali berbalik badan, hal itu terus terjadi sejak tadi.


"Tapi itu tidak mungkin, dia tidak punya hati dan otak," kata Louisa lagi. "Tapi bisa saja dia punya, mungkin egonya yang terlalu tinggi."


Gadis itu menghela napas berat kemudian kembali berkata pada dirinya sendiri. "Biarkan saja, lagi pula dia bukan calon suamiku yang harus memikirkan aku."


Perlahan mata Louisa mulai terasa berat, kantuk mulai menyerangnya dan ia pun tertidur meski dalam otaknya masih terus memikirkan Ethan.


...🦋...


Beberapa hari telah berlalu sejak perpisahan mereka, Louisa berusaha beradatasi dengan lingkungan barunya dan ia berusaha mengenyahkan Ethan dari benaknya. Sehingga ia bisa tidur tepat waktu saat malam hari.


Namun, beda halnya dengan Ethan yang tak ada usaha untuk menyingkirkan Louisa dari dalam otaknya. Bahkan, pria itu tampak menikamati bagaimana dia tenggelam dalam merindukan gadis kecil itu.


Kini keadaan fisik Ethan sudah jauh lebih baik, dan ia pun sudah kembali ke kamar pribadinya. Namun, kesehatan mental pria itu kini dipertanyakan karena beberapa anak buahnya sering memergoki Ethan yang senyum-senyum sendiri. Namun, terkadang pria itu juga terlihat murung.


Seperti saat ini, Ethan duduk di sofam TV di depannya menyala tetapi sorot mata pria itu tampak kosong. Hingga tiba-tiba iklan di TV memperlihatkan sepasang kekasih yang sangat romantis dan seketika senyum lebar terbit di bibir Ethan.


Ia teringat dengan Louisa, dan Bisakah ia mengatakan bahwa Ethan juga bermesraan dengannya?


"Ah, tidak!" seru Ethan tiba-tiba sambil geleng-geleng kepala. "Aku bukan tipe orang seperti itu, konyol, berlebihan, aneh, seperti orang gila."

__ADS_1


Tanpa Ethan sadari, di belakangnya ada pelayan yang hanya bisa tercengang melihat Ethan berbicara sendiri.


Mereka tidak terkejut, karena sudah beberapa kali mereka memergoki Ethan bertindak aneh seperti ini.


Bersamaan dengan itu, Peter datang dan kening pria itu berkerut dalam melihat Ethan yang tersenyum sendiri.


"Aku rasa kau butuh psikiater," kata Peter sembari duduk di sisi Ethan dan tentu saja pria itu enggan merespon, membuat Peter hanya bisa menghela napas berat.


"Jika kau sudah sehat, kita harus kembali ke Moscow, pekerjaan kita banyak di sana, Tuan Mayer," tukas Peter, Namun, apa yang dikatakan oleh Ethan justru membuatnya tercengang.


"Apa kau bisa mencari film romantis tentang pria dan wanita yang saling jatuh cinta setelah saling membenci?"


Peter menganga, kedua bola matanya melotot sempurna begitu juga dengan para pelayan di belakang Ethan.


"Aku rasa kita harus pergi psikolog sekarang juga," tegas Peter.


"Aku tidak berpikir begitu," bantah Peter dengan tenang. "Tapi gejalanya memang begitu!"


"PETER!!!"


...🦋...


Berkonsultasi ke psikolog?


Tentu saja Ethan tak pernah melakukan itu seumur hidup, bahkan pasca kematian orang tuanya pun ia tak melakukan hal itu.


Namun, pria tua yang sudah ia anggap ayahnya sendiri itu justru membawa psikolog ke mansion untuk memeriksa kejiwaan Ethan yang menurut mereka ada yang salah.


Kedatangan seorang psikolog itu membuat Simon, Theo dan Joel juga terkejut.

__ADS_1


"Selama beberapa hari ini sikap Tuan Mayer berubah," kata Peter pada sang psikolog. "Terkadang dia melamun, tatapannya kosong, keningnya berkerut dalam. Lalu tiba-tiba dia tersenyum, dia juga sering begadang. Lihat kantong matanya yang hitam itu!"


"Apa kau punya riwayat insomnia?" tanya psikolog itu pada Ethan.


"Aku hanya tidak mengantuk, bukannya tidak bisa tidur." Ethan menjawab dengan dingin.


"Itu sama saja," sanggah Peter kesal.


"Lalu apa saja yang kau rasakan akhir-akhir ini?" tanya psikolog itu lagi.


"Tidak ada," jawab Ethan singkat dan masih dengan nada dingin.


"Kau berbohong," desis Peter. "Semua orang di rumah ini tahu kau sangat aneh akhir-akhir ini."


"Mungkin karena trauma setelah kejadian di terowongan itu," sambung Joel.


"Bisa jadi," sahut Peter mengangguk mengerti.


"Sejak kapan aku trauma setelah membunuh orang?" desis Peter yang langsung membuat psikolog itu terkejut, sebab ia tidak tahu siapa mereka. Hanya saja, tiba-tiba Peter datang menjemputnya dan mengatakan seseorang butuh bantuan.


"Memangnya kenapa kau memanggil psikolog, Peter?" tanya Simon yang kini mulai bersuara.


"Tadi aku mengajak dia kembali ke Moscow karena pekerjaan kita banyak di sana, tapi tiba-tiba dia meminta film romantis dimana pria dan wanitanya saling cinta setelah saling membenci."


Simon melongo, begitu juga yang lainnya sementara Ethan masih memasang wajah dinginnya dan Peter memasang wajah garangnya.


"Apa kau pernah menonton film romantis bersama Nona Rae?" tanya Simon akhirnya dan Ethan mengangguk jujur yang seketika membuat semua orang tergelak, tentu saja kecuali Ethan dan Peter yang kini masang wajah melongonya.


"Astaga, itu namanya kasmaran," ucap sang psikolog. "Kau tidak perlu psikolog, cukup temui wanita itu dan buatlah hubungan romantis."

__ADS_1


__ADS_2