Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 11 - Penyerangan


__ADS_3

"Dia hanya pergi dengan satu orang Bodyguard, aku yakin kita bisa menculiknya malam ini."


Seorang pria bertubuh kekar dan berperawakan sedikit menyeramkan mengawasi mobil Louisa sejak tadi, ia juga selalu berkomunikasi dengan seseorang di seberang telfon, memberi tahu situasi dan kondisi di sekitarnya.


"Bagus, malam ini juga kita harus berhasil menculiknya karena besok pagi Tuan Rae akan kembali."


"Baik, Tuan."


Sementara di sisi lain, Louisa mengelus dadanya berkali-kali sambil menarik napas kemudian menghembuskannya secara perlahan. "Cantik seperti kupu-kupu, tapi tidak punya sayap dan otak." Untuk ke sekian kalinya Louisa menggumamkan kalimat sadis yang diucapkan Ethan padanya.


Saat ini Louisa ada di toilet, ia menatap pantulan dirinya di cermin. "Aku sangat cantik, dia mengakui itu. Tapi kenapa masih harus ada buntutnya? Tidak punya sayap dan otak? Oh, Bodyguard. Aku benar-benar akan membuatmu bertekuk lutut padaku dan setelah itu aku akan mencampakkanmu. Supaya kau tahu bagaimana rasanya kupu-kupu yang dipotong sayapnya dan diambil otaknya."


Louisa menghentakan kakinya dengan kesal. "Awas saja nanti, Bodyguard sialan!" geram Louisa.


Ia pun segera keluar dari toilet tetapi ia tak kembali ke mejanya di mana Ethan menunggu.


Sementara itu, Ethan menoleh beberapa kali saat menunggu kedatangan Louisa, sudah hampir lima belas menit dan bocah cilik itu tak juga menampakan batang hidungnya.


Ethan pun pergi memeriksa ke toilet wanita dan betapa terkejutnya dia saat tak melihat Louisa ada di sana. "Sialan, seharusnya aku mengikuti dia tadi," geram Ethan.


Ia segera mencari Louisa ke seluruh penjuru restauran tetapi bocah itu benar-benar sudah menghilang. "Apa mungkin dia pulang?" Rasanya sulit dipercaya Louisa akan pulang tanpanya, tapi tak mungkin juga gadis itu diculik di kandangnya sendiri. Area ini masih area kekuasaan keluarga Rae.


Saat panggilan Ethan terjawab, ia pun langsung bertanya, "Apa Nona Rae bersamamu?"

__ADS_1


...🦋...


"Semoga saja tersesat, tidak bisa pulang, biar tahu rasa." Louisa menggerutu kesal tanpa henti.


Ia memang berniat pulang tanpa Ethan, anggaplah itu sebagai hukuman atas hinaan yang sudah Ethan lakukan padanya.


"Tidak ada, Ethan, Nona Rae belum keluar."


Louisa tersenyum jahil mendengar jawaban Tony, sopirnya yang begitu patuh pada instruksinya itu.


"Kau yakin? Dia tidak ada di restauran, tadi dia pergi ke toilet setelah itu dia menghilang." Suara Ethan terdengar cemas, dan itu membuat Louisa senang. Ia pun kembali memberikan isyarat padaa Tony agar tetap tak memberi tahu Ethan.


"Mungkin dia di dapur, atau mungkin di lantai atas, di ruang kerja Nyonya Rae," ujar Tony agar meyakinkan Ethan.


"Kau di jalan?" Seketika Louisa dan Tony tercengang mendengar pertanyaan Ethan. "Aku bisa mendengar suara bising kendaraan dari sekitarmu. Apa kau di jalan? Apa kau yang menculik Nona Rae?"


Panggilan terputus, dan Tony kini menoleh pada Louisa yang justru cekikikan. "Dia terdengar panik, bukankah itu lucu?" kekeh Louisa.


"Tapi dia menuduhku menculikmu, Nona Rae, bagaimana jika dia melapor polisi?"


"Tidak akan, aku akan mengurusnya."


Lagi-lagi Louisa mengeluarkan satu permen karet dari tasnya. Namun, saat ia hendak memakan permen itu tiba-tiba ada sebuah mobil yang menghantam mobilnya dari samping.

__ADS_1


Louisa berteriak terkejut dan secara otomatis mobil pun terhenti. "Oh tidak!" seru Louisa saat ia melihat mobilnya kini sudah di kelilingi beberapa orang yang menodongkan senjata padanya.


"Nona Rae, kau harus tetap di mobil. Aku akan menghadapi mereka," kata Tony sembari mengambil pistolnya.


"Jangan bodoh, mereka ada banyak!" seru Louisa. "Kaca mobil ini anti peluru jadi kita harus tetap di dalam sampai bantuan datang."


Dengan tangan yang gemetar Louisa merogoh ponsel dari tasnya, ia mencoba menghubungi Ethan tetapi pria itu tak kunjung menjawabnya. Si sopir pun mencoba memanggil bantuan.


Sementara di luar, beberapa orang itu mulai menembaki kaca mobil dengan membabi buta.


"Sial, seharusnya aku tidak meninggalkan Ethan."


Louisa mengumpat sambil menangis, ia tak bisa menahan rasa takutnya saat orang-orang itu memberondong mobilnya dengan tembakan.


"Kita ledakan saja mobilnya," seru salah satu penjahat itu.


"Jangan bodoh, Boss meminta gadis itu dibawa dalam keadaan hidup."


"Nona Rae, Tenanglah. Sebentar lagi bantuan datang," ujar Tony sembari memenuhi pistolnya dengan amunisi.


"Tenang bagaimana? Kaca mobilnya sudah retak!" Louisa berteriak takut. Apalagi ini kali pertama ia mengalami penyerangan secara langsung seperti ini. "Ya Tuhan, aku pasti mati malam ini." Seluruh tubuh Louisa sudah panas dingin, air mata semakin deras mengalir di pipinya. Kini ia hanya bisa munduk, memejamkan mata dan menutup telinganya hingga tiba-tiba terdengar suara tembakan dari arah lain.


"Oh Tuhan, syukurlah Ethan datang!"

__ADS_1


...🦋...



__ADS_2