Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 43 - Ketika Don Mafia Cemburu


__ADS_3

Louisa menepuk pipinya berkali-kali saat ia bangun tidurnya, gadis itu bahkan mengendus-ngendus aroma di sekitarnya seolah mencari sumber aroma tertentu.


"Apa aku cuma mimpi?" gumam Louisa


"Ah, pasti cuma mimpi," ujarnya sambil mengacak-ngacak rambutnya. Namum, seketika Louisa kembali mencium aroma Ethan di kamarnya. Bahkan, gadis itu juga seolah merasakan ada yang menyentuh bibirnya tadi malam dan itu terasa sangat nyata.


"Oh my, kenapa aku jadi mesum gini?"


Louisa meringis, ia menggeleng kan kepalanya mengusir segala prasangka dan pemikiran tentang Ethan. Lagi itu sudah pasti mimpi, tak mungkin Ethan datang ke rumahnya bahkan mencium bibirnya. Dan soal aroma pria itu ... ah, Louisa pasti hanya berhalusinasi.


"Lou, apa kau sudah bangun?" terdengar suara teriakan sang Ibu dari luar yang membuat Louisa terkejut.


"Iya, Mom," balas nya juga berteriak.


Louisa langsung berlari membuka pintu dan keningnya berkerut saat melihat ibunya sudah berpakaian sangat rapi.


"Mom, kau pergi?" tanya Louisa bingung.


"Iya, Sayang, Mom sama Daddy mendapatkan undangan dari teman kami yang kebetulan datang ke Hampstead," jawab Nyonga Agatha. "Kami harus menemuinya karena ... Karena kemungkinan dia bisa membantu kita memberikan dana untuk membuka usaha baru."


Wajah Louisa langsung sedih saat mendengar penjelasan sang Ibu. Padahal, dulu orang-orang yang datang pada mereka meminta dana, bantuan dan sebagainya. Tapi sekarang?


Ternyata benar apa kata pepatah, roda kehidupan itu berputar. Yang di atas pasti akan ke bawah, begitu juga sebaliknya


"Mommy sudah menyiapkan sarapan untukmu, Sayang," kata Nyonya Agatha dan Louisa hanya mengangguk. "Kami pergi dulu, jangan pergi ke mana pun sampai kami kembali, okay?" Ia mencium pipi Louisa dengan gemas. "Dan jangan terima tamu yang tak di undang, kau mengerti?" Lagi-lagi Louisa hanya mengangguk.


Saat mereka pergi, Louisa langsung pergi mencuci wajahnya dan setelah itu ia pun langsung sarapan. Saat menikmati roti panggang yang sudah disiapkan oleh sang Ibu, Louisa teringat dengan Bi Amy.

__ADS_1


Segala perhatian yang diberikan wanita paruh baya itu kini Louisa rindukan, dan bdohnya dulu ia justru berlaku sangat buruk pada Bi Amy. Padahal wanita itu lah yang selalu ada untuknya, menggantikan kedua orang tuanya yang selalu sibuk.


"Jika saja aku punya satu kesempatan untuk balas dendam pada yang membunuh mu, Bi Amy, aku akan melakukannya," kata Louisa penuh keyakinan. "Bukan Ethan yang melakukan nya, kan? Tapi anak buahnya, aku pasti akan menghajarnya untukmu, Bi Amy!"


Sementara itu ....


Ethan tertidur di mobilnya yang terparkir tak jauh dari rumah Louisa.


Setelah melepaskan rasa rindunya tadi malam, rupanya itu tak serta merta membuat Ethan merasa puas apalagi merasa cukup. Sebuah rasa yang menggebu di hatinya semakin menggebu, bahkan sampai membuat ia enggan menjauh dari Louisa.


Ethan juga sengaja mematikan ponselnya agar tak ada yang mengganggunya.


...🦋...


"Apa maksudmu Tuan Mayer tidak datang ke mansion?" tanya Peter dari seberang telfon.


"Sial!" geram Peter. " Cepat kerahkan semua anak buahmu dan cari dia, Theo. Nyawanya dalam bahaya, Roberto sialan itu berkhianat! Dia akan menjebak tuan Mayer."


"Kami akan melakukan yang terbaik, Peter."


"Bagus, sebentar lagi aku dan Simon akan sampai ke sana!"


...🦋...


Sementara itu, pria yang sedang dikhawatirkan oleh para anak buahnya kini justru senyum-senyum sendiri saat mengikuti Louisa yang sedang lari pagi. Gadis kecil yang semalam sudah ia curi ciumannya itu tampak bersemangat lari pagi. Namun, Ethan bisa melihat sorot mata Louisa yang tak lagi sama seperti dulu.


Sorot mata itu sama seperti sorot matanya yang dulu, saat Ethan masih memendam amarah karena kematian orang tuanya.

__ADS_1


Rasa kasihan menggelitik hati Ethan, rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


Louisa menghentikan langkahnya saat ia merasa ada yang mengikutinya. Gadis itu menoleh dan bersamaan dengan itu Ethan langsung berbalik badan dan memasang topi yang ia bawa, ia tak ingin Louis menyadari keberadaannya.


"Aku jadi mudah takut sekarang," gumam Louisa.


Sejak tragedi di rumahnya itu, Louisa memang mudah merasa takut apalagi di saat sendiri seperti ini.


Louisa berbalik badan dan berniat pulang, tetapi tiba-tiba Jose datang menyapanya. "Kau suka olah raga?" tanya Jose sambil tersenyum ramah seperti biasa. Bahkan, kini Louisa pun mulai merasa senyum ramah Jose sedikit berlebihan.


"Tidak, aku hanya bosan di rumah," ujar Louisa.


"Kalau begitu ayo kita pergi bersama," ajak Jose.


Ethan yang mendengar itu tiba-tiba merasa marah, dadanya bergemuruh bahkan darahnya terasa mendidih. Bahkan, sang Don mafia kini sudah bersiap mengeluarkan senjatanya untuk meledakkan kepala Jose.


"Tidak, aku ingin pulang," tolak Louisa yang membuat Ethan tersenyum dan ia menyimpan kepala senjatanya.


"Kenapa? Aku lihat kau belum berkeringat," kata Jose.


Ethan kembali merasakan kemarahan yang tak biasa, ia benar-benar tidak suka Jose berbicara dengan Louisa. Kini, Ethan kembali mengambil senjatanya dan bersiap menghabisi pria itu.


"Aku akan olah raga di rumah saja, see you," kata Louisa kemudian ia berlari ke arah rumah, bahkan melewati Ethan.


Saat melihat Louisa pergi, Jose hanya bisa geleng-geleng kepala setelah itu ia pun segera kembali ke rumahnya untuk memantau Louisa dari drone.


"Hari ini kau selamat, bocah!" geram Ethan. "Sekali lagi aku melihat kau mengajak Lou pergi bersamamu, detik itu juga aku akan mematahkan kedua kakimu dan ke sepuluh jari kaki mu, sialan!"

__ADS_1


__ADS_2