
Nyonya Agatha menangis saat ia terjatuh karena tak lagi mampu untuk berjalan apalagi dengan Louisa yang harus ia gendong di punggungnya. Darah semakin banyak keluar dari beberapa luka di tubuhnya, begitu juga dari luka-luka di tubuh Louisa.
Dia tidak tahu berapa lama dia harus berjalan, apalagi tak ada tanda-tanda keberadaan orang seperti yang Ethan katakan. Tempat itu sempit dan gelap, membuat Nyonya Agatha semakin takut dan merasa tak ada lagi harapan.
Ia ingin menyerah, tetapi saat melihat wajah pucat Louisa, ia mengurungkan niatnya.
"Bangun, Lou, Mommy mohon, Sayang," bisik Nyonya Agatha sembari berusaha menyadarkan Louisa. Namun, putrinya itu tak merespon sedikitpun.
"Lou?" Nyonya Agatha menenggelamkan wajahnya di dada Louisa, ia menangis sejadi-jadinya hingga tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekat.
Wanita paruh baya itu langsung menodongkan pistolnya saat ada beberapa pria yang datang. "Siapa kau?" tanya salah satu pria dari sana.
"Apa kau mengenal Ethan Mayer?" Nyonya Agatha justru balik bertanya yang membuat orang-orang itu tampak terkejut. "Dia memintaku masuk ke sini dan memintaku membawa senjatanya!"
Nyonya Agatha memberikan pistol itu, ia sudah pasrah. Entah apakah di depannya ini orang-orang Ethan atau bukan. Ia pasrah.
Namun, orang-orang di depannya itu tampak mengenali senjata Ethan apalagi setelah ia memeriksa logo The Eagle di sana.
"Bawa mereka!" seru pria itu yang membuat Agatha bisa bernapas lega.
Sementara itu, Theo dan Simon sedang berusaha menghentikan pendarahan Ethan yang semakin parah. Bahkan, sang Don mafia itu sudah tak bisa lagi bersuara.
Seluruh luka yang ada di tubuhnya seolah akan segera mengambil nyawa Ethan. "Kita harus menjahit lukanya, hanya itu caranya untuk menghentikan pendarahan Tuan Mayer," kata Theo.
"Tapi sebelum itu kita harus mengeluarkan pelurunya," sambung Simon.
Saat ini mereka semua masih dalam penerbangan menuju mansion.
"Tidak ada alat medis apapun di sini," lirih Peter yang tampak sangat mencemaskan Ethan. "Aku lupa untuk mempersiapkannya, maafkan aku."
"Ck, jangan meminta maaf," kata Joel sambil menepuk pundak Peter. "Kau sudah datang tepat waktu."
__ADS_1
"Tapi keadaan Ethan—"
"Ini bukan kali pertama dia berpapasan dengan malaikat mautnya," potong Theo. "Tetapi Tuan Mayer pasti bisa menghindar seperti biasa."
"Benar, kita pasti bisa menyelamatkan Tuan Mayer," sambung Simon. "Sebentar lagi kita akan sampai, yang harus kita lakukan sekarang adalah mencoba menekan lukanya agar darah tidak semakin banyak keluar."
"Apa kau sudah memanggil Dokter?" tanya Peter pada Theo, dan temannya itu mengangguk cepat.
"Lalu di mana Louisa dan ibunya?" tanya Simon yang baru saja teringat dengan kedua wanita itu.
"Aku yakin mereka berdua kabur lewat pintu rahasia di terowongan," jawab Joel. "Tadi aku melihat mereka masuk ke terowongan, bahkan pria tua ini juga sudah hendak pergi tetapi entah kenapa dia kembali dan sok menjadi pahlawan."
"Mungkin dia merasa bersalah," gumam Peter sambil menatap mayat Tuan Bertrand.
"Sebenarnya ini salahku," ucap Joel kemudian sambil tertunduk. "Seharusnya aku bisa mencegah ini terjadi, aku sungguh tidak tahu Jose bisa bertindak semaunya seperti tadi."
"Kita semua sudah berusaha melakukan yang terbaik," seru Peter yang juga menahan rasa sakit di lengannya.
Sementara itu, tubuh Ethan kini mulai terasa sangat dingin bahkan pria itu sudah kehilangan kesadarannya. Membuat mereka semua semakin panik, tetapi lagi-lagi Peter memenangkan mereka dan meyakinkan bahwa Ethan takkan mati semudah itu.
Mereka membawa Ethan ke salah satu kamar khusus di mansion, kamar yang person seperti ruang operasi di rumah sakit karena jika mereka terluka dalam sebuah pertempuran, meraka memang sangat jarang pergi ke rumah sakit.
Di ruangan itu, mereka langsung menangani Ethan layaknya para Dokter ahli. Mereka membersihkan luka Ethan, mengeluarkan pelurunya kemudian menjahit semua luka-luka di tubuh Ethan.
"Detak jantungnya sangat lemah," kata Dokter. "Tubuhnya juga sangat dingin, kita harus bekerja dengan cepat dan tepat agar nyawa nya terselematkan."
Meraka semua melakukan pekerjaannya dengan sangat hati-hati, meski mereka tak bisa membohongi diri mereka sendiri bahwa kemungkinannya sangat kecil untuk menyelamatkan Ethan. Beberapa peluru bersarang di punggung dan dada kanan pria itu, luka tusukan di perutnya sangat dalam. Tak hanya itu, tulang kakinya juga bergeser dan kepalanya juga cidera.
Sebenarnya, Ethan sudah seeing mendapatkan luka berat seperti ini tetapi ini kali pertama pria itu mendapatkan penananganan yang lambat. Menyebabkan Ethan kehilangan banyak darah.
Sedangkan Peter dan yang lainnya pun juga mendapatkan penanganan karena tak ada yang tak terluka dalam kejadian itu.
__ADS_1
Saat ini, tak ada yang bisa meraka lakukan selain berdoa untuk keselamatan sang Don mafia.
Tak berselang lama, dua mobil anak buah Ethan datang dengan membawa Louisa dan Nyonya Agatha. Secepat kilat, meraka pun juga ditangani sebaik mungkin.
Luka yang dialami Nyonya Agatha maupun Louisa tak terlalu berat. Tetapi mereka juga kehilangan banyak darah, selain itu mereka juga pasti shock dengan apa yang terjadi. Sehingga hal itu membuat mereka seolah mengalami luka yang juga sangat berat.
...🦋...
"Kenapa kau di sini, Sayang?"
Bocah kecil itu langsung mengangkat wajahnya saat mendengar suara seorang wanita yang berbicara dengannya.
"Mom?"
"Ethan, apa yang kau inginkan, Sayang? Kenapa diam-diam masuk ke dalam mobil, hm?"
Ethan hanya cengengesan kemudian dia duduk tegak di kursi belakang.
"Seharusnya kau di rumah saja, Ethan. Kau pasti belum mengerjakan tugas sekolahmu," kata sang Ayah sambil melirik Ethan dari spion.
Saat ini meraka memang sedang dalam perjalanan, dan Ethan diam-diam masuk ke dalam mobil karena tak ingin ditinggal oleh kedua orang tuanya.
"Mommy dan Daddy mau pergi tanpa aku, tapi aku tidak bisa menerima itu," kata Ethan sambil bersandekap dada. Bocah itu memperlihatkan wajah marahnya yang membuat kedua orang tuanya justru tertawa gemas.
"Kami pergi untuk urusan yang penting, Sayang, bukan untuk liburan," ucap sang Ibu.
"Aku tidak perduli, aku ingin ikut kalian kemana pun kalian pergi." Ethan berkata dengan sangat tegas.
"Baiklah ... baiklah," kekeh sang Ayah kemudian. "Kau ingin pergi bersama kami, Hem? Oke, tidak masalah. Tapi di sana kau tidak boleh nakal, apa kau mengerti?"
"Ah, Daddy, memangnya kapan aku nakal? Kata Peter aku adalah anak yang sangat baik dan cerdas, dia memanggilku Tuan muda yang genius," seru Ethan berbangga diri. "Daddy tidak seru, tidak seperti Peter dan Simon. Ah, dan Bibi Venly juga"
__ADS_1
"Oh ya? Kalau begitu kenapa kau mau ikut Daddy? Tinggal saja bersama Peter dan yang lainnya."
"Aku sayang Daddy meski Daddy tidak seru, jadi aku akan tetap ikut Daddy dan Mommy pergi."