Menggoda My Sexy Bodyguard

Menggoda My Sexy Bodyguard
Bab 55 - Mengelak Ala Don Mafia


__ADS_3

"Lalu kenapa ada namaku di belakang pundakmu?"


Ethan termangu dengan mulut yang menganga, ia segera memutar otak mencari jawaban yang tepat.


"Itu ... itu bukan namamu," kata Ethan mengelak.


Louisa menaikan ujung alisnya, sudah jelas dia nama itu terdiri dari tiga huruf, LOU.


"Apa kau pikir aku buta huruf?" sungut Louisa. "Ini sudah jelas namaku, LOU. L-O-U." Louisa menekan ketiga huruf itu dengan kuat.


"Sebenarnya itu ...." Ethan menggigit bibirnya, bola mata pria itu bergerak ke kanan dan ke kiri. Tindakan yang terlihat sangat menggemaskan di mata Louisa.


Uf, sejak kapan pria yang datar dan dingin seperti es balok ini jadi menggemaskan?


"Itu orangnya salah tulis," kata Ethan melanjutkan. "Iya, seharusnya itu LOA"


"LOA?" pekik Louisa. "Apa itu LOA?"


"Law Of Attraction." Ethan menjawab secara spontan sambil mengangguk-anggukan kepalanya, pria itu mengulum senyum merasa sudah bebas dari segala prasangka Louisa. Yeah, meskipun prasangkanya itu sangat benar.


"Ha? Apa hubungannya? Kenapa harus law of attraction?" tanya Louisa dengan kening yang berkerut dalam.


"Yaaa ... karena aku sering membaca buku itu dan itu sangat bagus untuk mindset kita," ujar Ethan penuh percaya diri.


Namun, tentu saja alasan itu sangat konyol bagi Louisa.

__ADS_1


"Lalu bagaimana orangnya bisa salah? Kenapa jadi LOU?" selidik Lousia, ia memicingkan mata pada mantan bodyguardnya itu.


"Karena orangnya mabuk," jawab Ethan asal.


"Apa seseorang bisa bekerja saat mabuk? Itu sangat tidak profesional."


Ethan meringis, entah kenapa gadis kecil ini akan berhenti bertanya, pikir Ethan yang sudah tak tahu harus mencari jawaban kemana lagi.


"Ini sudah malam, Nona Rae, sebaiknya kembali ke kamarmu dan tidurlah!" titah Ethan dengan tegas.


Louisa terdiam sejenak sebelum menanggapi perintah Don mafia itu, bahkan ia menatap Ethan dengan intens dan dalam. Membuat Ethan merasa salah tingkah sendiri.


"Apa kau tahu sesuatu?" Louisa mendekatkan wajahnya ke wajah Ethan, secara spontan membuat pria itu menarik kepalanya ke belakang. "Aku pernah bermimpi kau datang ke kamarku saat aku masih di Hampstead, kau mencium bibirku dan aku bisa merasakannya bahkan saat aku bangun."


Ethan tampak terkejut mendengar ungkapan Louisa, sebab semua itu memang ia lakukan.


"Apa kau pikir aku menyelinap ke rumahmu, begitu?" potong Ethan. "Aku tidak sekonyol itu," bantahnya Louisa hanya mencebikan bibir. Membuat Ethan kesal karena ia merasa tak dipercaya.


"Aku tidak memintamu percaya," ucap Ethan kemudian. "Lagi pula aku tidak mungkin membobol rumahmu yang memang memiliki keamanan cukup bagus itu, dan aku tidak mungkin masuk ke kamarmu saat ada ayah dan ibumu. Apalagi mereka terbangun di tengah malam hanya untuk mengambil air, mereka akan melaporkan ku ke polisi jika tahu aku masuk ke kamarmu diam-diam."


Louisa mengulum senyum mendengar penjelasan Ethan yang ingin menyangkal itu, tetapi kata-katanya justru memberi tahu apa yang terjadi di malam itu.


"Oh, apakah orang tua ku keluar kamar untuk mengambil air minum? Bagaimana kau tahu kalau kamu tidak masuk ke rumahku?"


Ethan yang menyadari telah keceplosan kini tak tahu lagi harus menyangkal seperti apa, ia membuang muka, enggan menatap wajah Louisa yang kini masih mengulum senyum itu.

__ADS_1


Hingga Peter datang untuk memeriksa apakah Ethan sudah tidur atau tidak.


"Kau? Apa yang kau lakukan di sini?" pekik Peter yang terlihat tak menyukai keberadaan Louisa.


"Aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal," jawab Louisa dengan tenang. "Besok dia akan mengirimku ke Spain, dan mungkin setelah itu kita tidak akan bertemu lagi."


"Itu jauh lebih baik," sahut Peter dengan cepat. "Dan kau bisa mengucapkan selamat tinggal besok pagi, sekarang Tuan Mayer harus istirahat." Lanjutnya.


"Okay," sahut Louisa sembari mengangguk. "Oh ya, apa kau pernah melihat seorang Tattooist mabuk saat melakukan pekerjaannya?" tanya Louisa yang membuat Peter tampak bingung.


"Aku rasa tidak ada orang yang melakukan pekerjaan dalam keadaan mabuk," ujar Peter.


"Ah, benar sekali." Louisa melirik Ethan, sementara pria itu kembali meringis, egonya benar-benar telah terluka hanya karena gadis kecil ini.


"Kalau begitu, selamat malam."


Louisa bergegas pergi dari kamar Ethan, membuat Peter semakin bingung. "Kenapa dia bertanya seperti itu? Apa dia mabuk atau sudah tidak waras karena kehilangan ayahnya?"


"Entahlah," jawab Ethan kemudian ia berbaring dengan pelan-pelan. "Keluarlah, Peter. Aku ingin tidur."


Peter mengangguk patuh, ia pun keluar dari kamar Ethan.


Sementara itu, Louisa hanya bisa geleng-geleng kepala mengingat penjelasan tak masuk akal Ethan tentang tatonya.


Louisa merasa sangat senang sebenarnya, namanya yang ada di pundak Ethan seolah memberi tahu apa yang ada dalam hati pria itu. Namun, sayangnya Louisa harus tahu bahwa kisah cinta mereka takkan sama seperti di film yang ia tonton.

__ADS_1


"Karena tidak bisa bersama, setidaknya dia harus jujur dengan perasaannya," gumam Louisa. "Tapi dasar Don Mafia, ego dan gengsinya setinggi Burj Khalifah (Bangunan tertinggi di dunia)"


__ADS_2