
Para anggota The Eagle terbangun dari pingsan mereka saat matahari sudah tinggi, pintu juga sudah dibuka sehingga mereka yang sadar akan hal itu segera keluar dari sana. Takut sang Bos akan marah, padahal biasanya mereka bangun saat hari masih gelap.
"Aku rasa kita terlalu banyak minum, makanya sampai kebablasan tidurnya," ujar salah satu pria di sana sambil meringis.
"Aku tidak terlalu banyak minum, tapi kenapa aku juga kesiangan?"
"Mungkin kau terlalu banyak makan."
"Uhh, Don Mayer apa marah pada ki—"
Seketika mereka terdiam dengan wajah pucat, mata melotot dan mulut yang menganga lebar melihat pemandangan di depannya.
Ada beberapa mayat di sana, ada begitu banyak darah juga, bahkan seluruh sudut di tempat itu berantakan.
Berpikir telah terjadi sesuatu pada sang Boss besar, mereka segera pergi ke ruang senjata, setelah itu menyusuri setiap sudut di markas untuk mencari musuh.
Beberapa orang yang memeriksa keluar kembali di buat terkejut melihat sebagian dari markas yang roboh.
"BERPENCAR DAN TEMUKAN DON MAYER!" teriak salah satu pria di sana.
Mereka pun bergerak cepat dengan senjata yang siap mereka tembakan. Namun, yang dicari tiba-tiba muncul di depan mereka, dalam keadaan baik-baik saja.
Tanpa dikomando lagi, mereka segera membuat formasi di sekitar Etyan, untuk melindunginya dari musuh.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Ethan dengan dingin.
"Seseorang menyusup ke dalam markas, Don Mayer!" jawab anak buahnya dengan tegas.
"Bukan seseorang, tapi sekelompok orang," ungkap Ethan yang membuat anak buahnya kembali terkejut.
"Kami akan menemukannya dan menghabisi mereka, Don Mayer!" seru yang lain dengan berapi-api, penuh semangat. Namun, Ethan hanya geleng-geleng kepala kemudian mengambil salah satu senjata anak buahnya.
"Kalian sudah makan, minum, dan tidur lebih dari cukup. Jadi sekarang waktunya kalian bekerja!" seru Ethan. "Bersihkan semua kekacauan ini, buang semua mayat itu ke tempat pembakaran. Bersihkan lantai sampai bersih dan wangi. Bau darah ini membuatku pusing." Ia terdengar menggerutu di akhir kalimat.
__ADS_1
Tentu saja perintah Ethan dan gerutuannya itu membuat anak buahnya semakin bingung, apalagi ini kali pertama merek mendengar Ethan berbicara panjang lebar. Biasanya Ethan bahkan tak menyapa mereka, semua perintah Ethan disampaikan lewat Peter atau pun Simon.
Ethan pergi begitu saja dengan santai, meninggalkannya para anggota The Eagle yang hanya bisa tercengang.
Para anggota The Eagle yang sudah menghabiskan waktu bersama keluarganya juga kembali. Dan mereka juga sangat terkejut melihat keadaan markas, bertanya-tanya apa yang terjadi dan kapan itu terjadi.
Namun, tak ada yang tahu dan tak ada yang berani mencari tahu.
"Memangnya Don Mayer tidak mengatakan sesuatu? Atau menyuruh kita mencari pelakunya?" tanya salah satu anggota senior di sana.
"Kami hanya diperintahkan untuk membuang mayat ke tempat pembakaran, kemudian membersihkan lantai sampai bersih dan wangi. Katanya, Don Mayer pusing mencium aroma darah itu."
"Lalu di mana Tuan Peter dan Tuan Jose?"
"Kami tidak tahu."
"Aku di sini!"
Semua orang menoleh saat mendengar suara bass Peter. "Ada pertanyaan?" tanya Peter dengan dingin dan tentu saja dengan wajah datarnya. Namun, tak ada yang berani bersuara.
"Benar, kalau saja yang datang Tuan Simon, kita tidak akan ragu bertanya."
"Iya, Tuan Simon tidak menakutkan."
"APA KALIAN TULI?" bentak Peter yang seketika membuat para anggota The Eagle itu tersentak. "Apa ada pertanyaan?" Peter mengulangi pertanyaannya karena tentu tadi ia mendengar dengan jelas para anak buahnya itu ingin tahu apa yang terjadi.
"Kami ... hanya bingung apa yang terjadi," cicit salah satu pemuda di sana, pemuda yang masih terlihat polos, mengingatkan Peter pada adik Jose.
Uh, rasa penyesalan itu ternyata memang ada, pikir Peter.
"Erik berkhianat!" seru Peter yang seketika membuat semua orang terbelalak.
Kemudian Peter menceritakan apa yang terjadi tadi, hingga keadaan markas yang biasanya aman, damai, kini menjadi seperti sekarang.
__ADS_1
"Tapi kenapa kami tidak diberi tahu?" tanya salah satu anak buahnya.
"Benar, kami sudah mengucapkan janji setia dan akan mengabdikan hidup kami untuk The Eagle."
"Aku tahu," sahut Peter. "Tapi Ethan juga punya janji pada kakeknya. Yaitu membiarkan kalian menjadi orang biasa setidaknya dalam 24 jam dalam satu tahun, membiarkan kalian melakukan apapun yang kalian mau. Dan tentu tak membiarkan kalian mengangkat senjata, karena kalian juga hanya manusia biasa yang pasti ingin menikmati hidup. Dia sudah berjanji akan memperlakukan kalian sebagai manusia, bukan budak yang harus selalu memberikan jiwa raga kalian untuk The Eagle."
Peter menjelaskan panjang lebar tentang janji Ethan pada mendiang sang kakek, membuat semua orang terhenyak.
Selama menjadi anggota The Eagle, sejak masa kepemimpinan Marlon Mayer, hal itu memang sudah menjadi sebuah tradisi. Di mana setiap malam tahun baru, semua orang tanpa terkecuali akan dibebaskan dari segala tugas dan tuntutan sebagai anggota The Eagle. Namun, mereka tak pernah tahu alasannya dan meraka tak pernah merasa ingin tahu.
Setelah Peter memberi tahu, kini mereka sadar bahwa Ethan bukanlah gangster yang haus darah dan kekuasaan. Ethan benar-benar seorang pemimpin, mungkin dari luar Ethan terlihat seperti gangster yang mengerikan. Tapi nyatanya ia memiliki jiwa yang baik, sebab pada dasarnya ia memang pribadi yang baik tetapi dipaksa menjadi brutal karena dendam dan disakiti.
Sementara di sisi lain, Ethan menemui Erik yang kini sudah sangat lemah karena kehilangan banyak darah. Pria itu memohon agar Ethan membunuhnya saja, tetapi Ethan tak mau.
"Kau harus hidup menderita, agar menjadi pelajaran bagi orang lain apa akibatnya jika berkhianat," desis Ethan.
"Aku tidak berkhianat!" bantah Erik. "Aku hanya bersusah mendapatkan hak-ku!"
"Hak?" sinis Ethan. "Hak yang mana? Kursi kekuasaan The Eagle?" cibirnya.
Erik tak menjawab, ia hanya bisa merintih lirih menahan sakit di kedua lengan dan kakinya.
"Apa kau tahu, Erik? Seseorang yang haus kekuasaan tidak akan pernah menjadi penguasa, dan seseorang yang berambisi menjadi pemimpin tidak akan pernah mampu memimpin. Kau tahu kenapa? Karena untuk mengendalikan dirinya sendiri dia tidak bisa. Untuk membatasi ambisinya sendiri dia tidak mampu. Apalagi memimpin orang lain dan membatasi pergerakan orang lain."
Erik tertunduk dan mengingat kembali bagaimana ia selalu mengharapkan dirinya menjadi pemimpin The Eagle, tapi tak pernah bisa. Bahkan, cara curang pun tak dapat membuatnya menang.
"Keluargaku," lirih Erik kemudian.
"Aku tidak punya masalah dengan mereka," sahut Ethan, tanda bahwa ia tidak akan mengusik keluarga Erik.
...🦋...
Louisa mengerang lirih dalam tidurnya, ia membuka mata saat merasakan cahaya matahari menyentuh wajahnya.
__ADS_1
Saat ia berhasil membuka mata, seketika senyum mengembang di bibirnya. "Ethan?"